Skip to main content

Kampung Bena dan Kopi Bajawa

Kampung Bena dan Kopi Bajawa


Watujaji... Watujaji... Begitu teriak sopir membuyarkan kantuk.

Minibus berhenti di tepi pertigaan jalan. Saya pun turun. Beberapa tukang ojek sudah menawarkan jasanya, saat saya masih menunggu sopir menurunkan ransel dari bagasi.

Saya telah tiba di Pertigaan Watujaji. Pertigaan yang memecah jalan dari Ruteng menjadi dua. Yang ke kiri, ke Bajawa. Yang ke kanan, ke Ende. Tak jauh dari pertigaan jalan ini, ada terminal yang sepi. Mungkin karena sudah malam.

Kota Bajawa hanya berjarak sekitar dua kilometer lagi. Seorang tukang ojek mengantarkan saya. Mencari sebuah penginapan. Jaket saya di dalam ransel. Saya yang tak memakainya menggigil kedinginan. Udara di Bajawa ternyata jauh lebih dingin daripada di Ruteng.

Bajawa, Kota yang Dingin

Bajawa adalah ibukota Kabupaten Ngada di Flores. Berlokasi di ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut. Bentang alamnya berbukit dan dikelilingi pegunungan. Mirip Bandung.

Kota Bajawa
(Gambar diambil dari Wikipedia)


Lokasinya yang di pegunungan ini membuat Bajawa menjadi tempat yang dingin. Walaupun ada tower seluler, tak ada sinyal pada telepon saya. Tower yang ada bukan untuk kartu telepon saya. Ketika mendapatkan akses internet di penginapan, suhu Bajawa sekitar sepuluh derajat celcius. Saya dapatkan infonya dari aplikasi. Konon, Bajawa tercatat pernah menjadi kota dengan suhu terdingin di Indonesia.

Nama Bajawa sendiri sebenarnya berasal dari kata Bhajawa. Nama salah satu dari tujuh kampung yang ada di sisi barat kota. Kampung itu yang terbesar. Yang akhirnya dijadikan nama kota. Oleh Belanda yang membangun pusat pemerintahan di sana, dulu.

Menuju Kampung Bena

Hari masih pagi. Saya memacu motor dengan santai. Menuju ke arah selatan. Melalui Pertigaan Watujaji lagi. Dari samping terminal, ada jalan menuju Kampung Bena. Saya akan ke sana.

Kampung Bena adalah salah satu kampung adat tradisional di Kabupaten Ngada. Dekat dengan Kota Bajawa. Jaraknya sekitar lima belas kilometer.

Di sepanjang perjalanan, Gunung Inieri terlihat berdiri gagah. Tegak seperti kerucut. Puncaknya terlihat kering dan berpasir. Gunung ini adalah gunung berapi. Tingginya 2.245 meter dari permukaan laut. Terakhir kali meletus pada tahun 1970 silam.

Gunung Inierie yang terlihat di sepanjang jalan menuju Kampung Bena


Bambu Terbaik Ada di Ngada

Dalam perjalanan menuju Kampung Bena, saya melihat ada banyak hutan bambu. Bambunya terlihat kuat. Dan lurus-lurus. Begitu juga kemarin. Saat saya dari Ruteng ketika menuju Bajawa, hutan bambu bisa kita temui di sepanjang pinggir jalan.

Ternyata, saya baru tahu bahwa Ngada merupakan penghasil bambu terbaik. Banyak riset dan kerjasama yang berkaitan dengan bambu menjadikan daerah ini sebagai pusat pengembangannya.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bahkan menjadikan Ngada sebagai pusat unggulan program seribu desa bambu. Program yang berbasiskan masyarakat. Bergerak dari hulu ke hilir. Mulai dari pengelolaan hutan bambu. Sampai pemanfaatan bambu sebagai bahan baku industri.

Ngada adalah penghasil bambu terbaik di Indonesia.
Ada banyak hutan bambu  yang bisa kita temui di Ngada.


Tiba di Bena

Akhirnya saya tiba di Kampung Bena. Dari sisi utara kampung tempat saya datang, rumah-rumah adat sudah kelihatan. Memanjang dari utara ke selatan. Berbaris di kanan dan kiri, mengapit undakan-undakan bebatuan.

Saya mengalungkan kain tenun ikat di leher. Warnanya ungu. Dengan motif bergaris-garis. Kain ini saya dapatkan dari petugas penjaga kampung. Saat saya mengisi buku tamu dan membayar tiket masuk.

Kampung Bena


Rumah-rumah adat di kampung ini beratapkan ijuk. Berjajar seperti undakan-undakan yang tersusun. Makin ke selatan, posisi tanahnya makin tinggi. Masing-masing tingkatan ditempati oleh klan-klan keluarga yang berbeda.

Ada sembilan klan atau suku di Kampung Bena ini. Yaitu : Dizi, Khopa, Ngadha, Ago, Bena, Tiwi, Deru, Dhiwi, dan Wato. Klan atau suku Bena adalah yang tertua di antara kesembilan itu.

Di depan setiap rumah, tergantung tanduk-tanduk kerbau. Juga taring dan rahang babi. Benda-benda ini berasal dari hewan-hewan yang disembelih saat upacara adat. Menjadikannya sebagai simbol status sosial sang pemilik rumah.

Tanduk-tanduk kerbau dipasang di depan rumah

Taring dan rahan babi, juga dipasang di depan rumah


Seperti di Zaman Megalitikum

Berada di Kampung Bena sekilas seperti dilemparkan ke zaman megalitikum. Zaman yang dicirikan dengan keberadaan monumen atau bangunan dengan struktur bebatuan. Bebatuan di Bena memang tertata apik. Warganya percaya bahwa gunung, batu, dan hewan adalah bagian kehidupan yang harus dihormati.

Susunan bebatuan di Kampung Bena


Susunan bebatuan di Kampung Bena


Di halaman, beberapa batu disusun berkelompok. Itulah batu nabe, makam leluhur keluarga. Dulu, jika ada anggota keluarga yang meninggal maka akan dimakamkan di halaman rumah. Tapi sekarang, dimakamkan di tempat pemakaman tersendiri. Ini permintaan pemerintah daerah setempat. Supaya halaman di Kampung Bena tidak penuh dengan makam.

Batu Nabe, makam leluhur di pekarangan rumah


Selain makam, ada dua bangunan berbeda di halaman Kampung Bena. Yaitu nga'du dan bhaga. Nga'du adalah simbol leluhur lelaki. Bangunannya menyerupai payung, atapnya kerucut. Sedangkan bhaga simbol untuk leluhur perempuan. Bangunannya menyerupai rumah adat di Bena, hanya saja ukurannya lebih kecil.

Nga'du, bangunan yang atapnya kerucut. Bhaga, bangunan yang atapnya seperti rumah biasa.


Telah Beragama Katolik

Walaupun masih menjalankan upacara dan kepercayaan tradisional, orang-orang di Kampung Bena beragama Katolik. Pengaruh dari Portugis dan Belanda yang pernah berkuasa di Flores.

Ujung selatan kampung adalah lokasi yang paling tinggi. Seperti bukit kecil. Tempat warga berdoa. Di sana ada bangunan dari susunan bebatuan. Berisi cerukan seperti gua. Patung Bunda Maria terpasang di tengah cerukan bebatuan itu.

Gua Maria di bukit kecil ujung selatan kampung


Di sebelah bukit kecil ini lereng yang curam. Pemandangannya terbuka. Beberapa kampung terlihat jelas di selatan. Sementara ke arah barat, Gunung Inierie berdiri gagah. Gunung tempat bersemayamnya Dewa Zeta, dewa kepercayaan orang-orang Bena.

Tenun Ikat Mama Wilhemina

Seorang ibu-ibu tua menyapa saya ramah. Ia sedang menenun kain. Membuat saya tertarik untuk mampir dan ngobrol. Namanya Wilhemina Deru. Umurnya sudah 79 tahun.

Ia malah menghentikan kegiatan menenunnya ketika saya duduk. Mau istirahat dulu. Sudah capek, katanya. Sambil mengambil buah pinang untuk dikunyah. Saya ditawari, tapi saya menolak. Supaya gigimu sehat, kata Mama Wilhemina meyakinkan saya lagi.

Saya sudah tahu rasa pinang. Mendiang kakek dan nenek saya hobi mengunyah buah itu. Bahkan lengkap dengan sirih, tembakau, dan gambir. Racikan orang-orang Bali. Saya pernah mencobanya, dan tak pernah suka. Sekarang, hampir tak ada yang doyan makan pinang di keluarga saya.


Mama Wilhemina mengacungkan jempol ketika saya ajak berfoto. Oke! Begitu katanya.

Tenun ikat yang sudah dihasilkan Mama Wilhemina ada banyak. Ukurannya ada yang kecil, ada yang sedang, dan ada yang besar. Motifnya berupa kuda, cakar ayam, gunung, dan garis-garis. Saya tertarik dan membelinya satu. Yang ukurannya sedang. Bisa dipakai sebagai saput, kain yang dipakai lelaki saat berpakaian adat Bali.


Kain-kain tenun ikat yang dihasilkan oleh perempuan-perempuan di Kampung Bena

Seorang perempuan Bena sedang menenun di depan rumahnya


Beni, menantu Mama Wilhemina, yang ikut duduk di beranda rumah menjelaskan bahwa Warga Bena menganut sistem kekeluargaan matrilineal. Berdasarkan garis keturunan perempuan. Dan sistem ini tidak hanya berlaku di Bena, tapi juga di hampir seluruh tempat di Kabupaten Ngada.

Kopi Bajawa

Oh ya. Mama Wilhemina sedih dan malu sekali ketika tahu kopi di rumahnya habis. Saat saya menolak ditawari pinang, saya kemudian ditawari kopi. Tapi ternyata kopinya habis. Hahaha. Ia minta maaf beberapa kali dan berkata supaya saya jangan marah. Tidak apa-apa, Mama. Kata saya menghiburnya.

Ia yang menyuruh cucunya mencarikan kopi di salah satu rumah kerabatnya, saya cegah. Saya nanti mau mampir di rumah yang paling ujung saja. Yang dekat dengan pintu masuk kampung. Di sana pemiliknya  saya lihat membuka warung dan berjualan kopi.

Selain kopi, Bena juga menghasilkan kakao / cokelat


Bajawa memang terkenal dengan kopinya. Selain Kopi Manggarai, kopi lain yang mendunia dari Flores adalah Kopi Bajawa. Perkebunan kopi ada di lereng Gunung Inierie. Sebagian besarnya berjenis arabika. Yang bagi pecinta kopi, rasanya lebih ringan dan tidak terlalu pahit dibandingkan robusta.

Kopi-kopi Bajawa tumbuh di ketinggian seribu dua ratusan meter dari permukaan laut. Memiliki ciri yang khas. Selain karena dikelola secara organik tanpa pestisida, diolah dengan tradisional, juga karena pengaruh tumbuhan dan pepohonan lain di sekitar lereng Inierie.

Karena kekhasannya ini, kopi Bajawa sangat diminati oleh produsen-produsen kopi di Negeri Paman Sam. Bahkan dispesifikasikan sebagai jenis kopi premium oleh Asosiasi Kopi Amerika. Menjadi kopi kelas satu di sana.

Akhirnya Minum Kopi

Akhirnya saya minum kopi di rumah paling ujung. Pemiliknya seorang ibu-ibu yang masih muda. Yang saya lupa tanyai namanya. Yang menghidangkan segelas kopi panas dengan ramah.

Saya bukan maniak kopi. Tapi biasa meminumnya usai sarapan tiap pagi. Karena kebiasaan itu, saya jadi bisa membedakan rasanya. Kopi kali ini enak. Nikmat, yang tak bisa saya jelaskan dalam tulisan.

Yang pasti, rasa nikmat kopi ini karena suasana saat meminumnya juga. Suasana di tempat asalnya. Di kaki Gunung Inierie. Di Bajawa. Di pelataran rumah adat Bena. []

I Komang Gde Subagia - Ngada, Juni 2019

Comments

Post a Comment