Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2019

Kabut Kelimutu

Saya suka membaca Tintin. Komik petualangan seorang wartawan muda yang rambutnya berjambul itu. Saya bahkan mengoleksi komiknya. Lengkap. Dari pertama sampai terakhir.

Dari sekian banyak petualangannya, cerita dengan judul Penerbangan 714 yang rasanya paling spesial. Karena menjadikan Indonesia sebagai latar tempatnya. Salah satu yang tergambar di komik ini adalah pulau rekaan bernama Bompa. Dengan gunung berisi danau berwarna. Yang sekilas langsung saya simpulkan bahwa itulah Kelimutu.

Maka, tentu sayang sekali jika saya ke Flores tidak mampir ke gunung ini. Walaupun hanya sekedar untuk melihat ketiga danau itu saja. Tapi sebelum mendaki ke sana, saya harus ke Moni dulu. Moni adalah desa yang menjadi pintu gerbang pendakian ke Kelimutu.



Dari Ende ke Moni

Sebenarnya saya mau ke Moni sendiri. Inginnya naik angkutan umum dari Ende. Jarak tempuhnya kurang lebih lima puluh kilometer. Tapi Koplo bersikeras mengantarkan. Tak apa, katanya.

Padahal sore itu, ia harus menghadiri pesta pernikaha…

Ke Ende

Ende adalah kampung nelayan yang dipilih sebagai penjara terbuka untukku. Jika naik jip dari kota terdekat, dibutuhkan waktu delapan jam. Jalan utamanya adalah jalanan tanah bekas tebasan hutan. Di musim hujan, terjadi kubangan lumpur yang becek.

Itulah kalimat pembuka Sukarno, presiden pertama Indonesia. Tentang pandangannya akan kampung nelayan terpencil di Flores. Yang dituturkan pada Cindy Adams. Wartawan Amerika yang menuliskan biografi sang proklamator : Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Tiba di Ende

Hari telah malam. Perjalanan saya hari ini sudah memasuki Kota Ende. Sedari tadi saya memperhatikan laju minibus yang saya tumpangi di Google Maps. Melihat posisinya. Dan mencari-cari tempat yang cocok untuk turun.



Ende tak lagi seperti cerita Bung Karno di atas. Bukan lagi sebuah kampung nelayan terpencil. Jalannya sudah beraspal, bukan tanah. Dari balik kaca minibus, lampu-lampu berpendaran dari kendaraan bermotor yang lalu lalang.

Seorang perempuan muda yang duduk di…

Kampung Bena dan Kopi Bajawa

Watujaji... Watujaji... Begitu teriak sopir membuyarkan kantuk.

Minibus berhenti di tepi pertigaan jalan. Saya pun turun. Beberapa tukang ojek sudah menawarkan jasanya, saat saya masih menunggu sopir menurunkan ransel dari bagasi.

Saya telah tiba di Pertigaan Watujaji. Pertigaan yang memecah jalan dari Ruteng menjadi dua. Yang ke kiri, ke Bajawa. Yang ke kanan, ke Ende. Tak jauh dari pertigaan jalan ini, ada terminal yang sepi. Mungkin karena sudah malam.

Kota Bajawa hanya berjarak sekitar dua kilometer lagi. Seorang tukang ojek mengantarkan saya. Mencari sebuah penginapan. Jaket saya di dalam ransel. Saya yang tak memakainya menggigil kedinginan. Udara di Bajawa ternyata jauh lebih dingin daripada di Ruteng.

Bajawa, Kota yang Dingin

Bajawa adalah ibukota Kabupaten Ngada di Flores. Berlokasi di ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut. Bentang alamnya berbukit dan dikelilingi pegunungan. Mirip Bandung.



Lokasinya yang di pegunungan ini membuat Bajawa menjadi tempat yang dingin. Walau…

Kilas Balik Manggarai

Ada sesuatu yang magis dari sebuah perjalanan. Yang kadang sulit dimengerti. Perjalanan memberikan sentuhan pengetahuan baru bagi mereka yang melakukannya. Ia mengajarkan pelakunya untuk tahu dan mencari tahu. Tanpa bicara. Tanpa menggurui.

Begitu pula ketika saya menginjakkan kaki di tanah Flores selama beberapa hari terakhir. Secara kasat mata, saya merasakan aura perbedaan suasana. Terutama ketika bergerak makin ke timur meninggalkan Kota Ruteng.

Inilah yang menyebabkan rasa keingintahuan. Akan kehidupan masyarakat beserta cerita di baliknya. Terutama tentang Flores bagian barat. Tentang Manggarai, yang akan saya tinggalkan.





Manggarai di Flores Barat

Manggarai adalah kawasan di bagian barat Pulau Flores. Orang menyebutnya sebagai Manggarai Raya. Yang kini sudah terpecah menjadi tiga kabupaten. Manggarai Barat dengan ibu kotanya di Labuan Bajo. Manggarai, ibu kotanya di Ruteng. Dan Manggarai Timur, ibu kotanya di Borong.

Secara umum, Suku Manggarai menjadi penghuni utama di Manggarai…

Menghayati Kesendirian di Ruteng

Akhirnya saya tiba di Ruteng. Kota kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten Manggarai di Flores.

Udara cukup dingin. Ruteng bisa dibilang adalah kota di pegunungan. Berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Menyebabkan suhunya rendah.

Jika tak tertutup awan, Pegunungan Mandasawu seharusnya terlihat jelas di selatan.



Menghayati Kesendirian

Hari telah beranjak sore. Leonardus Jalo, yang menemani saya ke Wae Rebo telah kembali ke Labuan Bajo.

Saya sendiri kali ini. Tak ada teman. Di kamar sebuah penginapan yang sepi. Yang saya pilih secara acak dari Google Maps. Yang tak ada review atau reputasi di aplikasi perjalanan. Yang harganya cocok dengan isi kantong.

Penginapan ini berdinding kayu. Tampak tua. Sementara kamar mandinya ada di bawah lantai. Rasanya seperti di bawah tanah. Gelap. Tapi cukup bersih. Suasananya agak horor. Dan saya masa bodoh.

Hal yang kadang kurang saya sukai ketika melakukan perjalanan sendiri adalah rasa kesepian. Terutama ketika tak melakukan kegiat…