Thursday, August 4, 2016

Ceria di hari kelulusan pun terus berlanjut. 

“Hoi...!!! Kita konvoi keliling kota yuk!” ajak Sutama pada anak-anak yang lain.

Semua setuju. Terutama mereka yang cowok. Yang cewek memberikan semangat. Pada nggak mau ikut. Takut kata mereka. Takut nanti dikira barong nongkling. Sebab penampilan mereka semua norak. Pakaian dan rambut, semuanya berwarna-warni.

Lantas, anak-anak cowok pun berhamburan mengambil motornya masing-masing. Yang nggak bawa motor ikut nebeng pada temannya yang bawa motor.

Akhirnya Gejor yang berkendara satu motor dengan Dewa Sandi bergabung dengan puluhan teman-temannya memulai konvoi keliling kota dengan dandanan mereka yang nyentrik.  Mereka mengendarai motor dengan lampu yang dinyalakan. Klakson dibunyikan silih berganti. Orang-orang yang kebetulan dilewati oleh mereka ikut bersemangat melihat tontonan konvoi itu.



Di Perempatan Agung Klungkung, anak-anak itu mengelilingi Patung Kanda Pat Sari tiga kali. Katanya harus tiga kali. Nak keto kone... Polisi yang berjaga di tempat itu maklum akan ulah anak-anak SMA yang masih muda-muda ini. Bahkan beberapa polisi malah mengacungkan jempolnya memberikan semangat. Yang penting tetap tertib, masih pakai helm, pakai baju dan celana. 

Sementara pemakai jalan yang lain ada juga yang protes dan mengomel. 

“Aduuuuuh, anak-anak jaman sekarang memang gila. Lulus sekolah kok keliling di sini segala.” gerutu seorang bapak yang merasa terganggu perjalanannya.

“Emangnya kenapa Pak?” tanya Sutama yang kebetulan berhenti di dekat bapak itu.

“Kalau mau keliling jangan di sini dong!”

“Lha, terus di mana dong Pak?”

“Ya mending di rumah Bapak saja.”

“Lho? Kok disuruh keliling di rumah Bapak sih?”

“Ya, kan bisa bantuin Bapak.”

“Maksud Bapak? Bantu apa?”

“Bantu keliling mengejar ayam-ayam saya yang lepas” Jawab Bapak itu sambil cemberut.

“Weleh...” Sutama geleng-geleng kepala.

Seorang bapak yang lain malah ingin ikut konvoi. Katanya ingin sekali. Soalnya sewaktu ia muda dulu dan lulus SMA, tak ada acara keliling-keliling seperti ini. Dan oleh Sutama, disarankan ke rumah bapak yang ada disampingnya tadi. Sarannya diterima. Ya, supaya nanti bapak itu bisa ikut keliling-keliling mengejar ayam. Kukuruyuuuk... Tekok...

Usai berkeliling di Perempatan Agung Klungkung, rombongan anak-anak Ekasma itu melanjutkan konvoinya lagi. Semua jalan yang ada di Kota Klungkung diukur oleh mereka. Dari timur sampai barat, dari utara sampai selatan, dari musim duren sampai musim rambutan. Siang yang panas karena teriknya sinar matahari tak membuat mereka  bosan  untuk  berkeliling kota.   Gejor  bersama  Dewa Sandi bernyanyi mengikuti irama lagu Friends Forever milik Vitamin C dari kaset rekaman bajakan di walkman yang mereka pakai bareng berdua. Lagunya pas sekali mengiringi hari-hari terakhir mereka sebagai anak sekolah.

     .....
As we go on, we remember
All the times we had together
And as our lives change come whatever
We will still be friends forever
     .....

Sudah puas keliling kota, Gejor dan puluhan teman-temannya itu melanjutkan konvoinya ke Kintamani, sebuah daerah pariwisata pegunungan di Bali. Seru sekali. Dan setiap bertemu dengan anak-anak sekolah lain yang juga berkonvoi, mereka saling berteriak “MET LULUS YA...!!!” sambil mengacung-acungkan dua jari pertanda konvoi itu mereka lakukan dengan damai. []

Kisah cerita ini adalah fiksi. 
Jika ada kesamaan nama, tempat, atau kejadian, itu hanyalah kebetulan belaka. 

Bandung, Desember 2001

0 comments:

Post a Comment