Saturday, April 30, 2016

Suatu peristiwa yang sangat mengerikan dan menyayat hati serta menegangkan syaraf telah terjadi hanya berjarak seratus meter di depan para serdadu. Seorang raja yang mulia dan terpuji, tergeletak di sana dengan tengkorak hancur dan otaknya keluar berhamburan. Sedikit agak ke depan terlihat para istrinya gugur dengan luka parah terkena peluru. Dan puputan bukan suatu taktik perang putus asa. Puputan adalah suatu penyelesaian perang membela kemerdekaan dan kebenaran dari ancaman asing. Kekalahan yang tidak dijemput dengan penyerahan, tetapi oleh semangat perang dan ajaran suci matelasan nindihin darma.

Suasana di Depan Monumen Puputan Klungkung
Kutipan di atas saya baca dari sebuah buku lawas tentang Klungkung. Itu adalah sebuah catatan tentang situasi Perang Puputan Klungkung pada tahun 1908 yang dilukiskan oleh H. H. van Koll, seorang penulis dari barat yang mengabarkan peristiwa itu. Saya iseng mencoba mengambil buku itu dari tumpukan buku perpustakaan saya di rumah. Beberapa hari terakhir ini, halaman media sosial saya dipenuhi oleh beberapa unggahan tentang peringatan Puputan Klungkung ke-108 dan HUT Kota Semarapura ke-24 dari sahabat dan rekan saya di Bali bagian timur ini. Sepertinya cukup meriah, begitu saya pikir yang beberapa minggu ini memang tak sempat untuk pulang ke rumah di Klungkung. Dari kabar tentang akan diresmikannya air mancur monumen yang katanya bisa bernyanyi, peluncuran program city tour, festival kuliner, dan berbagai lomba serta acara hiburan. Yang menarik perhatian saya adalah tentang city tour yang katanya ingin menarik wisatawan untuk mengunjungi kawasan heritage di sekitar kota. Tapi kemudian, saya sedikit penasaran dari situs-situs yang menjadi daftar kunjungan city tour tersebut, terutama dari sisi kesejarahan. Maka karena itulah, buku lawas susunan Pemda Klungkung terbitan tahun 1983 ini saya baca pada malam saat jantung Kota Klungkung hingar bingar oleh keramaian pesta rakyat.


* * *

Siang menjelang sore, sehari setelah saya menyelesaikan bagian bab Puputan Klungkung, saya mulai mengayuh sepeda menuju catus pata, titik nol kota, patung Kanda Pat Sari. Cuaca cukup panas. Orang-orang lalu lalang dan keramaian makin padat di sisi barat. Saat itu baru saja dimulai lomba baleganjur antar sekeha teruna. Jalanan memang ditutup dan dijaga oleh petugas polisi lalu lintas dan dinas perhubungan. Untung saja saya yang mengendarai sepeda diperkenankan melintas. Tujuan pertama saya adalah memasuki kawasan Kertagosha dan Taman Gili. Saya celingukan mencari-cari tempat untuk bisa memarkir sepeda dengan aman. Di depan sebuah mini market, saya akhirnya memarkir sepeda dan melilitkan kuncinya ke sebuah tiang telepon. Sayang, mungkin sebagian besar dari kita memang menganaktirikan para pesepeda sehingga tak satu pun ada tempat parkir untuk bisa memarkir sepeda dengan nyaman dan aman.

Parkir Sepeda pada Tiang Telepon

Melihat Masa Lalu di Kawasan Istana Kerajaan Klungkung

Sejak jatuhnya Dinasti Warmadewa di Bali pada abad ke-14 karena  ekspansi Majapahit, Dinasti Kepakisan pun mulai berkuasa di Bali sebagai kepanjangan tangan Tribhuwana Tungga Dewi, ratu Majapahit saat itu. Mulai dari pusat pemerintahan di Samprangan dan Gelgel, sampai akhirnya ke Klungkung, raja demi raja dinasti ini memerintah Bali dari masa ke masa. Saat Majapahit telah digantikan Demak, Gelgel maupun Klungkung telah merdeka seutuhnya dengan memegang status sasuhunan kerajaan-kerajaan lainnya di Bali. Sampai akhirnya menjelang akhir abad ke-19 pengaruh Pemerintah Hindia Belanda di Nusantara perlahan-lahan mulai menyentuh pulau dewata yang raja-rajanya terkenal suka menjual tawanan sebagai budak ini.

Dan Klungkung, pada awal abad ke-20 adalah kerajaan yang masih merdeka, tetap menjadi sasuhunan kerajaan-kerajaan lain di Bali. Tahun 1908 kala itu, kerajaan ini menjadi satu-satunya yang masih bertahan di Bali dari kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Kerajaan Karangasem serta Selaparang di timur Klungkung sudah jatuh dan dikalahkan Belanda. Kusamba yang menjadi bagian Kerajaan Klungkung juga sudah jatuh ke tangan Belanda sejak Perang Kusamba berakhir di tahun 1849. Sedangkan Kerajaan Gianyar di sebelah barat memutuskan untuk memihak sang penjajah yang dijuluki sebagai bojog putih itu. Otomatis, dengan keadaan ini Klungkung menjadi terdesak dari segala penjuru. Apalagi Kerajaan Badung yang menjadi sekutu Klungkung telah habis dalam puputan dua tahun sebelumnya, membuat tak ada lagi bantuan pihak lain yang bisa diharapkan jika terjadi perang di kemudian hari.

Bale Kambang di Tengah Taman Gili
Salah Satu Koran Belanda yang Memuat Peristiwa Puputan Klungkung
Saya mulai berjalan masuk ke kawasan istana Kerajaan Klungkung yang bernama Semarajaya dan beribukota Semarapura ini. Beberapa wisatawan asing saya lihat sedang melihat-lihat lukisan wayang karya pelukis dari Kamasan di atap bangunan yang dulu menjadi balai sidang pengadilan kerajaan. Sementara, di sekitarnya saya lihat ada banyak warga lokal yang lalu-lalang, ada yang memang mau menonton pertunjukan lomba baleganjur, dan ada juga yang merupakan kru atau peserta lomba yang sedang menunggu giliran tampil. Sementara Bale Kambang di tengah Taman Gili terlihat sepi. Saya melangkahkan kaki menyusuri jembatan batu bata ke sana. Tempat upacara manusa yadnya para keluarga raja di zaman dulu ini memang unik, dibangun di tengah kolam ikan dengan bunga-bunga teratai yang mengambang. Tapi sayang, bangunan-bangunan di kawasan heritage utama Klungkung ini terlihat kurang terawat dengan telaten, kabel-kabel listrik membentang tak rapi, sampah yang dibuang tangan iseng ke dalam kolam, dan batu bata ukiran yang keropos, walaupun atap-atap bangunannya yang dari ijuk masih terlihat sangat baru. Saya tak tahu persis kenapa kondisi tak terawat ini terjadi. Konon, saya dengar ada ketidakpastian pengelolaan kawasan bersejarah ini antara Puri Klungkung dan Pemerintah Daerah. Hhh...

Saya mulai melayangkan pikiran ke tahun 1908. Saya pikir, keadaan saat itu sangat gawat di Klungkung. Ida I Dewa Agung Jambe sebagai raja telah melakukan perjanjian dengan Belanda yang sebenarnya banyak merugikan rakyat. Para pembesar kerajaan sebenarnya juga terpecah menjadi dua kubu, antara yang moderat dan memilih diplomasi dengan Belanda, dengan yang garis keras memilih langsung menentang Belanda. Raja yang memilih diplomasi sebenarnya bimbang dan melakukannya untuk mengulur-ulur waktu terjadinya perang yang sudah diperkirakannya, juga untuk menjaga rakyat agar tidak menderita. Tetapi, pada hati rakyat dan sebagian para pembesar kerajaan sudah jengah dengan campur tangan Belanda dalam urusan kerajaan. Salah satu yang paling menyayat hati dari diambilnya langkah diplomasi adalah diizinkannya pasukan Belanda melintas di Klungkung dari Karangasem menuju Badung, padahal langkah ini sudah ditentang oleh mereka yang memillih jalur perlawanan. Pasukan Belanda diizinkan melintas. Hasilnya, Badung yang menjadi sekutu Klungkung diserang habis oleh pasukan Belanda yang diizinkan melintas tersebut. Puputan Badung terjadi, Badung pun jatuh. Duh...

Matahari masih bersinar terik. Suara baleganjur terdengar membahana di utara Kertagosha. Saya melangkahkan kaki lagi. Kali ini menuju barat.  Museum Semarajaya berdiri tegak, menghalangi sinar matahari sehingga meneduhkan saya ketika melangkah masuk. Agak jauh di selatan, Pamedal Agung berdiri megah menjadi pintu gerbang utama istana di masa lalu. Di pelataran museum, beberapa pemuda terlihat berhias menyiapkan diri mengikuti lomba. Saya masuk ke bagian dalam museum. Sepi. Di dalam museum ini, ada banyak benda yang menceritakan sejarah Klungkung dari masa pra sejarah sampai masa Indonesia merdeka. Beberapa koran fotokopian cetakan Belanda edisi tahun 1908 yang beberapa bagiannya telah robek dipajang. Beberapa baris kalimat bahasa Belanda saya baca, memperlihatkan berita tentang peristiwa Puputan Klungkung.

Pamedal Agung, Pintu Gerbang Utama Istana di Bagian Selatan
Dari museum, saya keluar ke barat, melewati bagian bangunan yang dijadikan salah satu kantor instansi pemerintahan. Lapangan umum kota terlihat luas menghampar. Di sebelah timur lapangan, terdapat Puri Semarabawa. Sementara, di sebelah utara lapangan berdiri cukup megah Puri Agung Klungkung atau Puri Kaleran, seperti yang saya baca dari peta lama Klungkung yang terdapat dalam buku. Di kedua puri -puri adalah penyebutan umum di Bali untuk keraton- dan kawasan inilah, dulu raja tinggal bersama keluarganya. Di tahun 1908, belum ada alun-alun di kawasan ini, begitu juga dengan Puri Saraswati, Mesjid Al-Fattah, lembaga pemasyarakatan, serta kantor dan perumahan di sekitarnya. Dari beberapa cerita, kawasan ini masih berupa tanah kosong dengan pepohonan tegalan sampai pada tahun 1950-an.

Pasar Klungkung

Saya kembali ke arah timur. Keluar menuju pasar. Ya, Pasar Klungkung terletak tepat di sebelah timur Kertagosha. Seperti pada umumnya puri-puri di Bali, di mana ada puri, di sanalah ada pasar. Layaknya puri atau kerajaan di masa silam, di depan puri pasti tempat keramaian. Orang banyak yang lalu-lalang dan berjualan sehingga lama-lama menjelma menjadi pasar.

Pintu Masuk ke Pasar Klungkung dari Barat
Berbicara tentang Pasar Klungkung, yang sebenarnya sebagian besarnya sudah dipindahkan ke selatan ke wilayah yang bernama Desa galiran, adalah berbicara tentang pasar terbesar di Bali. Jika saya berbicara dengan mereka yang berprofesi sebagai pedagang dari luar Klungkung, atau mereka yang tahu seluk-beluk mencari barang dagangan, tentu mereka tahu bahwa Pasar Klungkung adalah pusat pasar di Bali. Seorang penjual kain kebaya online yang saya tahu mengatakan mencari barang dagangannya di Klungkung, seorang pedagang sayur di Gianyar saya tahu sering ke Klungkung malam-malam untuk mencari sayur langsung dari pemasok. Ya, sayur dan buah yang berasal dari desa-desa pegunungan di Bali, tujuan utamanya adalah Klungkung. Begitu juga dengan berbagai komoditi lain yang berasal dari Jawa atau Lombok, tujuannya adalah Klungkung walaupun mereka melewati pasar-pasar utama di kabupaten-kabupaten lain di Bali. Saya tak tahu kenapa. Tapi kalau saya perkirakan, mungkin karena perjalanan sejarah mengatakan bahwa Klungkung dulunya adalah pusat kota di Pulau Bali sehingga pusat pasar pun juga di sana.

Dan di mana orang berdagang di Bali, di sana lah mereka membangun tempat pemujaan khusus untuk mereka yang mengais rejeki dari kegiatan jual beli. Tempat pemujaan inilah yang disebut sebagai Pura Melanting. Jika sekarang lokasi Pura Melanting di Pasar Klungkung ini terletak di tengah-tengah pasar, sebenarnya jauh di masa lalu pura ini terletak segaris di pertokoan di sisi selatan Jalan Diponegoro yang lurus membelah kota ke arah timur. Kalau dicari tepatnya, pura ini terletak di sebuah toko yang bernama Permai Indah. Menjelang perang dulu, barisan pertokoan di salah satu jalan utama Kota Klungkung ini belum lah ada.

Alun-alun Klungkung di Masa Lalu

Dari pasar, saya mengambil sepeda lagi. Tak lupa sebelumnya saya singgah ke dalam mini market untuk membeli minum. Karena sepeda saya tak dikenai biaya parkir, setidaknya saya belanja di mini market ini. Lagi pula, saya juga haus setelah sekitar dua jam berkeliling jalan kaki di bawah udara langit Klungkung yang cukup panas.

Saya mengayuh sepeda di tengah keramaian lalu-lalang orang di perempatan, menuju ke Pasar Senggol. Lokasinya berada di sebelah utara pertokoan Jalan Diponegoro. Karena sudah menjelang sore, banyak pedagang makanan yang telah buka. Apalagi di hari-hari yang memang Kota Klungkung sedang ramai-ramainya ini. Serombotan, tipat santok, rujak bir -yang tak mengandung bir-, atau daluman tentu menarik selera jika sore-sore berkunjung ke kawasan yang memang menjadi pusat kuliner kota.

Pasar Senggol Klungkung, Zaman Kerajaan Adalah Sebagai Alun-alun Kota
Oh ya, dulu Pasar Senggol ini adalah alun-alun Kota Klungkung. Jika di sebelah timur istana adalah pasar, maka di sebelah timur lautnya adalah alun-alun. Masuk akal. Bisa dibayangkan zaman dahulu kala berbagai kegiatan diselenggarakan di sana, dari acara perayaan pesta rakyat atau sabung ayam. Atau mungkin jika ada pengumuman dari raja kepada rakyatnya, dilakukan di sana pula. Dan dulu, sewaktu saya masih kecil, alun-alun kota masa lalu ini sempat menjadi terminal utama kota yang selalu disinggahi armada transportasi antar desa dan antar kabupaten. Badung... Badung... Tabanan Baturiti, begitu terngiang para kenek saat itu bernyayi. Hmmm...

Taman Lila Arsana dan Toko Opium

Beranjak dari Pasar Senggol, saya mengayuh sepeda lagi ke timur, lalu berbelok ke utara. Menyusuri Jalan Gunung Rinjani. Di ujung utara jalan, tepat di pojok, ada Kolam Renang Lila Arsana. Di zaman kerajaan dulu, kolam renang ini adalah sebuah taman rekreasi yang dimiliki oleh puri. Dulu namanya juga sama, Taman Lila Arsana. 

Pintu Masuk Kolam Renang Lila Arsana
Di sebelah tenggara Lila Arsana, berdiri kantor Persatuan Purnawirawan dan Wakawuri TNI - Polri Kabupaten Klungkung yang di masa lalu adalah salah satu tempat penjualan opium. Ya, opium, alias madat, alias candu, yang saat ini merupakan benda terlarang.

Kantor Persatuan Purnawirawan TNI-Polri yang Dulu adalah Tempat penjualan Opium
Ketika Belanda mulai mengusik Klungkung, masalah opium ini menjadi salah satu penyebab kebencian rakyat kepada Belanda. Dulu opium bebas dijual dan dinikmati oleh siapa saja. Merupakan barang yang cukup mewah bagi para para penikmatnya. Melalui perjanjian yang dibuat sedikit demi sedikit untuk memaksa Klungkung dalam kekuasaan Belanda, opium ini kemudian sepenuhnya dimonopoli oleh Belanda. Selain itu, semua bea cukai barang yang keluar masuk Klungkung dikenai pajak tinggi oleh Belanda. Harga-harga pun makin mahal.

Raja sendiri sebenarnya menghendaki penjualan opium ini terbatas pada kalangan tertentu saja walaupun sebenarnya semua rakyat bisa memakainya. Monopoli opium diterapkan Belanda dengan dalih menyelamatkan rakyat dari bahaya buruk opium itu. Tetapi kenyataannya monopoli itu menyiksa rakyat dan mengurangi pendapatan kerajaan. Menyakiti rakyat dengan pajak tinggi pada barang kenikmatan seperti opium sama seperti Belanda menikmati keuntungan sambil meracuni. Lama-lama pembesar kerajaan dan rakyat tidak puas atas monopoli itu sehingga kebencian makin memuncak. Apalagi ditambah sikap Belanda yang merendahkan Kerajaan Klungkung, baik dari sikap maupun perjanjian-perjanjian yang telah dibuat.

Karena itulah, salah seorang keluarga raja yang bernama Cokorda Gelgel yang sangat menolak diplomasi dengan Belanda dengan didukung rakyat serta syahbandar-syahbandar Cina merencanakan penyerbuan pada tempat penjualan opium di seluruh wilayah Klungkung. Inilah yang makin membuat Belanda mulai berani memasukkan pasukannya ke Klungkung dengan alasan patroli keamanan terhadap tempat penjualan opium, walaupun raja sudah menolak masuknya pasukan Belanda ke klungkung dengan alasan apa pun. 

Dan akhirnya, di pertengahan April 1908, kontak fisik pertama pun terjadi di Gelgel ketika pasukan patroli Belanda sedang beristirahat di depan Keraton Gelgel dan sekitar Pura Dasar. Tempat-tempat penjualan opium dibakar. Sepuluh pasukan Belanda tewas saat itu. Ditambah terbunuhnya utusan Raja Klungkung yang berniat mendamaikan, membuat niat diplomasi raja berubah total untuk bulat berperang. Begitu pula dengan Belanda, rencana penyerangan ke Klungkung pun disusun. Tak ayal, Belanda mengumpulkan kekuatan dan meminta tambahan pasukan dari Karangasem, dari Badung dan Gianyar, serta meminta bantuan ke pusat pemerintahan di Batavia. Perang sudah tak dapat dielakkan.

Perang Puputan Klungkung di Front Timur

Hari makin sore. Cerita masa lalu di sepanjang jalan yang saya lalui dengan sepeda ini makin seru saja rasanya. Kali ini saya mengayuh sepeda ke timur dan kembali ke Jalan Diponegoro bagian timur. Lebih jauh ke timur, saya tahu ada Sungai Unda yang menjadi benteng alam Klungkung. Menjelang tengah hari pada 28 April 1908, pasukan Belanda yang mendarat di Kusamba telah berhasil menjatuhkan benteng pertahanan Klungkung di Desa Satria. Sebagian pasukan Belanda telah menyeberangi Sungai Unda itu dan mendekati ibu kota untuk menunggu di Banjar Lebah, sebagian pasukan Belanda yang lain menyusuri sungai ke selatan untuk bergabung dengan pasukan utama belanda yang mendarat di Jumpai.

Pintu Masuk Pasar Klungkung dari Utara dari Bekas Gedung Bank BPD Bali

Jalan Diponegoro, Klungkung
Saya berhenti di pintu Pasar Klungkung sebelah utara. Bekas kantor Bank BPD Bali ini sudah menjadi jalan tembus menuju Pasar Senggol. Di jalan ini lah pertempuran Puputan Klungkung front timur terjadi ketika seluruh pasukan Belanda telah mengepung Klungkung. Hampir semua laskar pemating -prajurit utama kerajaan- yang bertarung di tempat ini gugur. Sementara sisanya mundur untuk bergabung ke arah istana yang juga sudah penuh darah dan di ambang kekalahan.    

Rencana Belanda di Mergan

Dari Jalan Diponegoro, saya melanjutkan perjalanan ke selatan. Menyusuri Jalan Nakula, Jalan Darmawangsa, kemudian Jalan Arjuna, dan berbelok di Banjar Lekok menyusuri Jalan Baladewa ke selatan. Di sebuah perempatan kecil, saya mengayuh sepeda ke arah barat. Saya pun tiba di pertigaan jalan yang menjadi wilayah Banjar Mergan. Sungai kecil yang dikenal sebagai Telabah Ayung mengalir di sisi barat laut pertigaan jalan. Dari peta lama, terlihat gambar jembatan kecil membentang yang menghubungkan jalan utama ke arah pusat kota.

Pertigaan Jalan di Banjar Mergan, Di Tepi Telabah Ayung
Pasukan utama Belanda dari selatan yang sudah mengalahkan benteng pertahanan Klungkung di Gelgel, Kamasan, Tojan, dan Jelantik berhenti di sini sebelum menyeberangi jembatan Telabah Ayung. Sebagian ke barat dan memutar melewati Banjar Pekandelan untuk menyerang Klungkung dari arah barat, dan sebagian lagi langsung ke utara untuk menyerang dari sisi selatan.

Perang Puputan Klungkung di Front Selatan

Karena saat ini saya sendiri, saya memutuskan mengayuh sepeda untuk mengikuti jejak pasukan Belanda yang akan menyerang Klungkung dari sisi selatan. Saya menyusuri jalan di sepanjang Banjar Mergan menuju Kampung Jawa. Pasukan Belanda yang menyerang dari sisi selatan akhirnya dihadang di sepanjang jalan menuju puri ini. Di sini lah pertempuran Puputan Klungkung front selatan terjadi. Lokasinya adalah di sepanjang Jalan Puputan di Kampung Jawa, sekitar Masjid Al-Fattah dan Lembaga Pemasyarakatan, area Bank BNI, di sekitar pintu barat Pasar Klungkung, dan di sekitar Pamedal Agung. Di front selatan ini lah paling banyak menelan korban jiwa, baik raja beserta permaisuri dan putra mahkota, laskar pemating, pecalang -pengawal dan penjaga istana-, maupun pasukan endehan -rakyat-. Saya pikir, mungkin karena peristiwa puputan di front selatan ini lah yang menyebabkan jalan arah selatan dari titik nol kota ini dinamai dengan Jalan Puputan.

Jalan Puputan, Klungkung

Pamedal Agung Dilihat dari Sisi Selatan
-saat saya kunjungi, sedang ada perbaikan-
Perang Puputan Klungkung di Catus Pata

Puputan ini juga terjadi di catus pata, titik nol perempatan kota Klungkung. Di mana seluruh pasukan Belanda dari timur, barat, dan selatan yang telah berada di balik dinding istana bertemu prajurit yang mengamuk membabi-buta menyerang menggunakan tombak, keris, dan bedil. Darah tumpah di mana-mana sampai penghabisan.

Kalau dari jalan cerita perang puputan itu sendiri, sebenarnya anak raja atau putra mahkota yang baru berusia 12 tahun kala itu lebih dulu gugur dalam pertempuran. Ia menyerang Belanda ke arah Mergan bersama ibundanya. Keduanya gugur tertembak senapan-senapan Belanda. Mengetahui putra dan istrinya sudah tewas, raja dan prajurit yang tersisa dengan gagah berani bertempur sampai penghabisan. Mereka semua akhirnya gugur. Dengan gugurnya raja Klungkung, bersama dengan seluruh anggota keluarga istana, para pembesar kerajaan, dan tak kurang dari 1.000 prajurit, maka perang pun berhenti di sore hari itu. Tercatat dalam memoar perang Belanda, Klungkung berhasil dijatuhkan pada pukul 15:00 28 April 1908. Dengan jatuhnya Klungkung, otomatis seluruh Pulau Bali menjadi kekuasaan Hindia Belanda sejak saat itu.

Dimulainya Pemerintahan Hindia Belanda di Klungkung

Dari sisi selatan istana kerajaan Klungkung, saya melanjutkan perjalanan menuju barat ke arah Banjar Pekandelan. Dan perang telah berakhir. Setelah Belanda menguasai Klungkung, raja baru dari kerabat istana pun diangkat untuk memerintah, yang mana tentu saja sang raja baru ini berada di bawah kuasa Gubernur Hindia Belanda. Sementara keluarga raja lainnya yang dicurigai masih memiliki rasa perlawanan dibuang ke Lombok.

Seiring perjalanan waktu, sedikit demi sedikit berbagai fasilitas untuk mendukung kekuasaan Belanda di Bali bagian timur ini pun dibangun. Mulai dari kantor perwakilan Gubernur Hindia belanda sebagai pengontrol di Kantor Bupati Klungkung saat ini, rumah kepala kantor perwakilan Belanda di sebelah barat Pura Jagatnata, kantor staf pemerintahan Belanda di bangunan yang sekarang menjadi Museum Semarajaya, serta Hollandsch-Inlandsche School (HIS) atau Sekolah Rakyat (SR) di SD N 1 Semarapura Tengah.

Bangunan Belanda di SD N 1 Semarapura Tengah, Dulu  Adalah HIS atau Sekolah Rakyat Pertama di Klungkung
Karena arah saya pulang ke rumah melewati Pekandelan, otomatis saya melewati SD N 1 Semarapura Tengah ini. Saya menyempatkan diri masuk ke sana. Saat itu saya lihat ada murid-murid sekolah yang sedang latihan drumband. Dan benar, bangunan bersejarah sekolah rakyat pertama di Klungkung ini masih berdiri, masih tampak antik di samping bangunan-bangunan baru yang bertingkat. Sekolah yang dari catatan sejarah didirikan oleh Belanda pada 28 Oktober 1912 ini masih lestari walaupun beberapa renovasi kecil pernah dilakukan dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Jendela dan pintu kayunya yang tinggi-tinggi masih utuh dan kokoh menjulang.

Peta Jelajah Heritage Klungkung
Keterangan : 1. Titik Nol Klungkung, Lokasi Puputan; 2. Kawasan Istana Klungkung (Kertagosha, Taman Gili, Museum); 3. Pamedal Agung; 4. Puri Semarabawa; 5. Pasar Klungkung; 6. Toko Permai Indah, Bekas Pura Melanting; 7. Pasar  Senggol (Bekas Alun-alun Kota Kerajaan Klungkung); 8. Taman Lila Arsana; 9. Kantor Persatuan Purnawirawan TNI-Polri (Bekas Penjualan Opium); 10. Desa Satria; 11. Pintu Utara Pasar & Bekas Gedung BPD Lama, Lokasi Puputan Front Timur; 12. Telabah Ayung di Banjar Mergan; 13. SD N 1 SP Tengah, Bekas HIS atau Sekolah Rakyat; 14. Kantor Bupati, Kantor Perwakilan Pemerintah Belanda; 15. Bekas Rumah Kepala Perwakilan Belanda

Dan saya pun pulang. Sayup-sayup suara drumband anak-anak SD N 1 Semarapura Tengah ini mulai tak terdengar ketika saya bergerak menjauh mengayuh sepeda ke utara menuju Banjar Bucu. Ketika sampai di perempatan jalan Banjar Bendul, saya menoleh ke arah selatan. Monumen Puputan Klungkung kokoh dan tegak berdiri di kejauhan, seolah mengingatkan setiap warganya bahwa dulu pernah terjadi peristiwa heroik di pusat kotanya.

Bagi saya yang lahir, dibesarkan, dan terikat secara emosional di kota ini, mengenang peristiwa penting masa lalunya cukup memberikan arti tersendiri. Walaupun ceritanya adalah lingkup lokal, terutama bagi yang tak pernah di Klungkung, tetapi ia menjadi bagian dari sebuah cerita utuh perjalanan Nusantara menjadi Indonesia seperti sekarang ini. Dalam kayuhan sepeda menuju rumah, saya berharap semoga cerita masa lalu yang tak melulu dipenuhi kemenangan dan keagungan itu bisa memberikan inspirasi bagi seluruh generasinya. []

Klungkung, April 2016

0 comments:

Post a Comment