Saturday, May 28, 2016

Berawal dari membaca tautan Rolling Stone tentang dua puluh album Indonesia terbaik tahun 2015 di awal 2016 lalu, saya akhirnya tersambungkan pada alunan lagu-lagu duo folk asal Surabaya yang bernama Silampukau ini. Awal mula mendengarkannya biasa saja, cenderung terasa oldies. Tapi lama-lama, mencuri hati juga. Terasa pas didengarkan sambil minum kopi dan melakukan rutinitas pekerjaan di depan laptop. Dan dalam bayangan saya, rasanya makin bertambah mantap ketika lagu-lagunya ini didengarkan mengalun di dalam ruangan yang penuh buku dengan beberapa koleksi barang antik atau di sebuah ruang kerja berbagi dengan ornamen kayu dan pemandangan semilir angin di pematang sawah.

Album Silampukau : Dosa, Kota, & Kenangan
Tiga tahun belakangan ini, saya memang menggandrungi beberapa grup musik yang jenis musiknya adalah folk. Bagi saya yang tak banyak memiliki pengetahuan tentang musik, aliran musik ini rasanya didominasi oleh suara gitar akustik dan beberapa tambahan alat musik lainnya yang cenderung tradisional. Mendengarkan Silampukau berawal dari seringnya saya mendengarkan lagu-lagu grup musik folk lain, grup musik folk pertama kesukaan saya, dengan lirik puitis yang vokalisnya adalah gitaris grup musik rock grunge kesukaan saya. Musiknya yang kalem lama-lama terasa menyejukkan. Apalagi jika ditambah dengan lirik-lirik yang kuat, rasanya makin mengena di hati dan membuat pendengarnya untuk menjadi lebih bijak. Ketika kebetulan Silampukau diulas pada urutan terakhir dari dua puluh album pilihan Rolling Stone, di mana Silampukau yang ditempatkan pada urutan terakhir yang akhirnya saya ingat untuk dicari tahu. Maka seperti berjodoh, saya pun mencoba mendengarkan lagu-lagu dalam albumnya itu pertama kali dari Youtube hingga lama-lama menjadi jatuh cinta.

Dibandingkan musik, lirik adalah bagian lagu yang biasanya lebih dulu menjadi penarik perhatian saya. Kalau boleh dibilang, lirik-lirik lagu grup musik yang digawangi oleh Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening ini cukup unik. Ia tidak begitu puitis, tapi mempunyai kekuatan yang sukar saya deskripsikan. Kalau boleh dibilang, Kharis dan Eki ini cukup jenius merangkai kata dari pengalaman mereka melihat berbagai realitas kehidupan sehari-hari. Pokoknya unik dan menarik. Dari seluruh lagu album kedua mereka ini, sebagian besar bercerita tentang Surabaya, kota di mana grup musik ini tumbuh dan besar. Kalau dari wawancara mereka di salah satu stasiun televisi swasta yang saya tonton, katanya itu sengaja menonjolkan Surabaya karena kebanggaan akan kota mereka. Ini juga supaya bisa mendorong para pendengarnya untuk ikut bangga dengan kotanya masing-masing, bisa ikut berbagi dengan berbagai kisah dan cerita yang ada di dalamnya.

Sebagai lagu pembuka, Balada Harian cukup mencuri perhatian telinga dan rasa dengan gambaran rutinitas sebagian besar orang dalam menyambut pagi. Kemudian ada Si Pelanggan, yang bercerita tentang kehidupan Dolly sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Satu sisi dunia tabu pelacuran diceritakan dengan sungguh apik di sini. Silampukau mengolah kata-kata seperti 'kafir', 'kerat-kerat bir', serta 'cinta yang tak musti merana dan banyak biaya' untuk dilagukan. Kata mereka, meski berita tentang Dolly kini tak pasti, tapi yakinlah para pelacur dan mucikari akan tetap abadi. 

Ada juga Bola Raya, tentang bocah kampung yang mengingatkan saya akan masa kecil saat bermain bola adalah pengisi waktu luang kala sore bersama teman sepermainan. Juga mengingatkan akan Persebaya, klub kebanggaan kota asal Silampukau yang saat ini tak saya ketahui lagi bagaimana kiprahnya. Kehidupan keras para urban di Surabaya sebagai kota kedua terbesar di Indonesia yang tak bisa lepas dari bayang-bayang Jakarta diceritakan dalam Lagu Rantau (Sambat Omah). Rasanya, saya dan mungkin kita yang bekerja merantau di kemilau kota merasakan hal yang sama ketika mendengarkannya. 

***

Dari sepuluh lagu di album ini, ada tiga lagu yang saya jadikan favorit secara pribadi. Ketiga lagu favorit saya itu sesuai urutannya adalah Malam Jatuh di Surabaya, Doa 1, dan Puan Kelana

Malam Jatuh di Surabaya, adalah lagu favorit pertama. Yang langsung mengena di hati ketika didengarkan untuk pertama kalinya. Ini mungkin karena lagunya yang sedikit berbeda dengan lagu-lagu mereka yang lain di album ini. Kalau saya dengar, seperti lagu balada yang syahdu. Begitu juga liriknya, terbayang jelas tentang senja di jalanan Surabaya yang panas berdebu dengan ramai lalu lalang kendaraan.

Sinar kuning merkuri, pendar celaka akhir hari
Malam jatuh di Surabaya
Maghrib mengambang, lirih dan terabaikan
Tuhan kalah di riuh jalan
Orkes jahanam, mesin dan umpatan
Malam jatuh di Surabaya 

Lihat, 'Tuhan kalah di riuh jalan'. Kalimat ini benar-benar bagai kilatan cahaya yang menyilaukan sedikit kesadaran saya. Membuat saya mengulang untuk mendengarkan dengan seksama sambil membaca liriknya. Mirip seperti kalimat 'cinta kalah dalam hiruk pikuk dunia' yang saya baca pada suatu puisi entah di mana. Penggambaran sebuah kekuatan dasyat oleh manusia yang secara kasat mata ternyata kalah di dunia nyata.

Lagu favorit kedua adalah Doa 1. Kalau  diperhatikan, angka satu pada judul lagu ini sepertinya menunjukkan sebuah sekuel seperti dalam film. Artinya, mungkin akan ada lagi lagu Doa 2 atau Doa 3 di album-album Silampukau berikutnya. Seperti lagu The Unforgiven dari Metallica yang bersambung dari satu sampai tiga. Atau Ebiet G Ade dengan Kamelianya yang tercipta sampai sekuel keempat.

Duh Gusti, pernah kumencoba peruntungan
Dana pas-pasan pokoknya bikin rekaman
Kuliah, Gusti, kutelantarkan
Atas nama musik dan hidup yang penuh kebebasan

Janggalkah, Gusti, perasaan marah ini
Saat nalarku direndahkan televisi
Lihat itu, Gusti, lihat itu
Berapa harga tawa mereka di balik layar tivi

Seperti judulnya, lagu ini berisi tentang doa dan harapan. Tentang idealisme anak muda mengejar mimpi-mimpinya. Dan sungguh, menjadi anak muda dengan idealisme-idealisme yang mungkin kadang masih mentah itu rasanya membawa nyala semangat tersendiri, setidaknya menurut pandangan saya pribadi. Menjadi anak band, misalnya, seperti digambarkan dalam lirik lagu Doa 1 ini. Ia sampai menelantarkan kuliah atas nama musik dan hidup yang penuh kebebasan, terlihat sedikit urakan tapi semangat terus bergelora. Atau mungkin ketika menjadi pendaki gunung dan pecinta alam, yang selalu bersemangat memupuk mimpi untuk bisa mendaki tujuh puncak gunung tertinggi dunia atau sering berceloteh untuk menjaga lingkungan walau hidupnya sendiri kadang berantakan. Tetap bersemangat dan memiliki harapan, itu inti yang saya dapatkan dari lagu ini.

Lagu favorit ketiga saya adalah Puan Kelana. Butuh waktu cukup lama bagi saya untuk menyukai dan mencerna lagu ini, makanya ia saya letakkan terakhir sebagai yang terfavorit. Setelah berulang-ulang kali didengarkan, lagu ini baru saya sadari cukup melankolis. Dari segi musiknya yang dibuka oleh tiupan saksofon, pertama rasanya seperti yang lain juga, belum menjadi istimewa. Tempo ketukannya cukup cepat seolah membuat lagu ini adalah lagu gembira. Liriknya, lama-lama saya perhatikan ternyata adalah lirik yang bernuansa sedih. Kesedihan karena ditinggal kekasih yang mungkin akan pergi kuliah ke Paris, tetapi dibawakan dengan gembira. Semua itu menjadikan Puan Kelana menjadi lagu patah hati yang dasyat. Lagu galau putus cinta dengan gaya yang berkelas.

Jauh-jauh puan kembara, 
sedang dunia punya luka yang sama
Toh, hujan sama menakjubkannya 
di Paris atau di tiap sudut Surabaya
Walau senja tak selalu tampak jingga,
aku terus merindukanmu

Lihat pemilihan kata-katanya. 'Luka', 'hujan', dan 'senja'. Benar-benar mewakili kata yang membangkitkan aroma patah hati bagi para  pujangga. Katanya, hujan selalu menakjubkan di mana pun ia kita lihat turun. Begitu juga dengan 'sedang dunia punya luka yang sama'. Wuih... Pas sudah. Perpisahan sang tuan dan puan di Bandara Juanda mengakhiri kisah cinta mereka dengan tak pernah lagi ada kabar dan berita.

***

Masih ada beberapa lagu lain lagi di Dosa, Kota, & Kenangan yang semuanya bagi saya menarik untuk didengarkan. Seperti Bianglala yang menceritakan taman bermain, Sang Juragan tentang penjual miras, dan Aku Duduk Menanti tentang refleksi diri akan kesendirian. Kalau dipikir-pikir, semua lagu dari album ini memang terwakilkan oleh kenangan pada suatu kota yang lengkap dengan dosa-dosanya. Dan itu ada di Surabaya bagi Silampukau. Maka tak heran ketiga kata pamungkas tersebut dijadikan sebagai judul album. 

Mereka yang pernah tinggal di Surabaya, apalagi yang memang lahir dan dibesarkan di Surabaya, lagu-lagu dari album Silampukau ini saya yakin akan menjadi bagian kekayaan budaya kota pahlawan itu. Jika belum medengarkan, dengarkanlah. Yang pasti, walaupun saya bukan warga Surabaya, saya ikut bangga dengan karya-karya mereka. []

Ubud, Mei 2016

0 comments:

Post a Comment