Monday, June 16, 2014

Pagi sudah terang. Kota berbalut suasana akhir pekan sehingga tak seramai biasanya dengan pemandangan orang-orang yang bergegas ke meja kerja. Jalanan utama dari Pasar Minggu menuju Depok cukup lengang. Begitu juga Margonda Raya yang merupakan urat nadi lalu lalang kota satelit di selatan Jakarta. Toko-toko belum ada yang buka, hanya beberapa pedagang bubur ayam dan gorengan yang terlihat di tepian jalan menunggu mereka yang hendak memulai sarapan. Sampai akhirnya saya tiba di sebuah pusat perbelanjaan modern Kota Depok yang katanya adalah yang terbesar di kawasan ini, Margo City.

Margo City, Pusat Perbelanjaan Terbesar yang Pucuk Bangunannya Bisa Dibilang Sebagai  Ikon Kota Depok
Adalah Komunitas Love Our Heritage (LOH) yang membawa saya sampai ke tempat ini. Tempo hari, dari sebuah harian Warta Kota yang saya baca di meja warung ketupat sayur langganan saya di Pancoran, terdapat ajakan mengikuti kegiatan menjelajahi Depok dan tempat-tempat bersejarahnya. Ini tak berbeda dengan apa yang beberapa waktu sebelumnya pernah saya lakukan dengan Komunitas Historia Indonesia (KHI) di Jakarta. Alhasil, datanglah saya ke Margo City sebagai titik pertemuan.

* * *

Cornelis Chastelein dan Para Budaknya

Alkisah di akhir abad XVII, seorang Belanda pensiunan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) membeli beberapa bidang tanah yang salah satunya adalah di kawasan aliran Sungai Ciliwung yang menghubungkan Batavia (Jakarta) dan Buitenzorg (Bogor) seluas 1.244 hektar. Kawasan aliran Ciliwung yang dibelinya saat itu masih berupa hutan yang mana terdapat padepokan tempat orang-orang sisa Kerajaan Padjajaran berkegiatan spiritual dan olah kanuragan. Salah satu versi sejarah Depok mengatakan bahwa dari kata padepokan inilah kata Depok itu berasal.

Ketika membuka hutan, Chastelein membawa 12 orang budak lengkap dengan keluarganya untuk dipekerjakan. Budak-budak zaman VOC yang dibawa Chastelein itu adalah orang-orang yang berasal dari suku Ambon, Bali, Bugis, dan Sunda. Walaupun pekerja-pekerjanya itu berstatus sebagai budak, mereka diperlakukan dengan sangat manusiawi. Pendidikan yang layak diberikan kepada kaum budak pekerja itu serta dibimbing untuk menjadi orang yang beragama Kristen Protestan melalui De Erstee Protestante Organisatie van Christenen (Depoc). Kemudian, dari versi sejarah gereja di Depok mengatakan kata Depok berasal dari Depoc ini.

Sebelum meninggal, Cornelis Chastelein berniat mewariskan tanahnya kepada para pekerjanya yang sudah memeluk agama Kristen protestan itu. Anggapan sebagai budak pun hilang karena dalam Kristen tidak diperkenankan menjadikan sesama Kristen sebagai budak. Para pekerja yang berjumlah 12 keluarga itu pun diberikan marga untuk dikelompokkan berdasarkan kekerabatan mereka. Lima dari dua belas marga ini diambil dari Alkitab : Jonathans, Joseph, Jacob, Samuel, dan Isakh; sedangkan tujuh sisanya diambil dari nama kepala keluarga pekerja-pekerja tersebut : Bakas, Laurens, Leander, Loen, Sudira, Tholense, dan Zadoch. Dari 12 marga ini, hanya 11 yang tersisa. Marga keluarga Zadock tidak ada lagi karena tidak adanya penerus laki-laki sebagaimana aturan marga yang dibawa oleh mereka yang menganut sistem patrilineal.


Pondok Cina, Perlindungan Niaga Warga Depok

Pagi itu telah beranjak siang, saya bersama Komunitas LOH berkumpul di salah satu sudut Margo City. Setelah diawali oleh Adjie Hadipriawan yang merupakan Ketua Penasehat Komunitas LOH, adalah Yano Jonathans yang kemudian ikut membuka acara kegiatan. Yano Jonathans adalah salah seorang keturunan dari bekas budak Cornelis Chastelein yang menjadi nara sumber di kegiatan Jelajah Depok ini. Karena ikatan batinnya yang kuat dengan Depok, ia telah menuliskan sejarah Depok yang berjudul Depok Tempo Doeloe yang diterbitkan tahun 2011 lalu.

"Di masa sekarang ini, keturunan dari 12 marga pekerja Chastelein inilah yang merupakan warga asli Depok, warga yang pertama kali tinggal di Depok menempati tanah warisan Chastelein. Kami sering disebut sebagai Londo Depok atau Belanda Depok, padahal kami ini asli orang Indonesia", begitu Yano bercerita.

Usai penjelasan dari Yano, disambung kemudian oleh Lilie Suratminto yang menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan masa Hindia Belanda serta pengaruhnya di Indonesia dan di Depok pada khususnya. Tak mengherankan kalau ia fasih menjelaskan dan sesekali menggunakan bahasa Belanda karena ternyata Lilie Suratminto ini adalah seorang dosen Bahasa dan Budaya Belanda di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI).

Dari Kiri ke Kanan : Adjie Hadipriawan, Yano Jonathans, Lilie Suratminto

Memasuki Rumah Tua Pondok Cina

Melihat-lihat di Dalam Rumah Tua Pondok Cina
Kami kemudian beranjak masuk ke sebuah bangunan tua yang terlihat seperti tenggelam dalam kemegahan arsitektur modern Margo City. Bangunan tua ini dikosongkan selama pembangunan sebuah hotel di depannya saat ini. Temboknya yang bercat putih dengan tegel yang bercorak gaya lama terlihat sangat antik dan begitu eksotis. Sayang, rumah ini kusam dan beberapa temboknya terlihat retak. 

"Harusnya rumah ini berada dalam pengelolaan pemerintah Depok. Tetapi karena kurangnya kesadaran pemerintah akan aset budaya dan sejarah daerahnya, rumah peninggalan kaum pedagang Cina (Tiongkok) yang dimiliki swasta ini ditakutkan akan mengedepankan nilai ekonomis saja daripada nilai historis", begitu Lilie menegaskan ketika saya tanyai tentang pengelolanya.

Pada saat awal perkembangan Depok, Cornelis Chastelein melarang para pedagang Cina untuk menetap dan berdagang di dalam kawasan Depok. Ini dimaksudkannya supaya warganya tidak tergantung dengan para pedagang Cina yang saat itu dikenal suka memakai madat yang sangat dilarang dalam ajaran Kristen. Karena larangan itulah para pedagang Cina itu membangun pondok-pondok untuk tempat beristirahat di malam hari usai berdagang di luar Depok yang lambat laun kemudian dikenal dengan Pondok Cina.


Rumah Tua Cimanggis

Usai menggali informasi tentang Rumah Tua Pondok Cina di Margo City, kami kemudian bergerak menuju Cimanggis, tepatnya ke Kompleks Stasiun Transmisi Radio Republik Indonesia (RRI). Menaiki sebuah bus Mayasari Bakti yang berukuran besar, kami menyusuri Jalan Margonda Raya untuk kemudian berbelok ke timur menyusuri Jalan Juanda yang di sampingnya sedang dibangun tol outer ring road. Sampai akhirnya tiba di Jalan Raya Bogor yang merupakan bagian dari Jalan Raya Pos yang dulu dibangun Herman Willem Daendels untuk menghambat laju Inggris merebut Jawa dari tangan Prancis-Belanda di masa Perang Napoelon dulu (baca : Jejak Perang Napoleon).

Kompleks RRI yang tepatnya terletak di Jalan Raya Bogor Km 34 ini begitu luas. Dulu kompleks ini merupakan bekas perkebunan yang dibangun pada masa pemerintahan  Daendels di Hindia di mana terdapat sebuah rumah yang dibangun di salah satu sudutnya. Pemilik awalnya adalah seorang seorang janda dari Gubernur Jenderal van der Parra yang kemudian diwariskan kepada David J. Smith yang membangun rumah tua ini pada tahun 1775 - 1778 dengan bentuk yang sekarang.

Rumah Tua Ciamnggis

Kondisi di Dalam Rumah Tua Ciamnggis yang Tidak Terawat

Salah Satu Ornamen Rumah Tua Cimanggis

Sewaktu saya kunjungi, rumah tua ini benar-benar sudah hampir ambruk. Tak terawat sama sekali. Temboknya banyak yang berlubang dan roboh. Kayu-kayu jati sebagai tiang-tiang dan atap rumah tampak kusam menunggu alam menghabiskan usianya. Dikelilingi oleh berbagai pohon di sekitarnya, suasana sekitar rumah tua ini cukup sejuk di tengah lapangan yang luas dan panas. Semak-semak tumbuh liar sampai ke dalam ruangan-ruangan rumah yang atapnya sebagian sudah tak ada. Beberapa ruangan yang masih tersisa terlihat seperti pernah digunakan untuk tempat berteduh.

Semua peserta Jelajah Depok ini menyayangkan kondisi rumah tua peninggalan Belanda ini. Seorang petugas keamanan Kompleks Stasiun RRI yang menemani kami menjelaskan bahwa rumah tua ini berada dalam tanggung jawab Pemerintahan Kota Depok yang diturunkan lagi kepada RRI. Dulu pernah direncanakan akan diperbaiki untuk dijadikan sebagai museum radio. Tetapi sekian tahun berlalu, rencana menjadikannya museum tak kunjung tiba. Rumah tua yang sangat bernilai historis ini akhirnya terbengkalai dan sesekali dijadikan sebagai tempat berbuat mesum.


Jembatan Panus, Penghubung Satu-satunya Depok dengan Batavia dan Buitenzorg

Menjelang tengah hari, kami bergerak lagi menaiki bus menyusuri Jalan Raya Bogor menuju Jalan Tole Iskandar. Di dekat Perumahan Bella Casa Residence menjelang jembatan Sungai Ciliwung, kami berhenti. Tak jauh dari jembatan utama, ada sebuah jembatan kecil lainnya yang berusia cukup tua. Itulah Jembatan Panus, jembatan yang di masa-masa awal Depok adalah satu-satunya yang menghubungkan Depok dengan Jalan Raya Pos untuk menuju batavia atau Buitenzorg. Maka bisa dibilang pula bahwa Jalan Tole Iskandar adalah jalan akses utama menuju Depok saat itu.

Jembatan Panus di Atas Sungai Ciliwung; Tampak di Belakangnya adalah Jembatan Baru yang Lebih Kuat dan Kokoh

Beberapa Sepeda Motor Melewati Jembatan Panus; Kendaraan Berat Tak Ada lagi Melewati Jembatan Ini

Jembatan Panus yang melintasi Sungai Ciliwung ini dibangun pada tahun 1917 oleh insinyur Belanda yang bernama Andre Laurens. Karena di dekat jembatan itu tinggal seorang yang bernama Stevanus Leander, maka lama-kelamaan jembatan itu lebih sering disebut sebagai Jembatan Panus (Stevanus). Di salah satu kaki Jembatan Panus ini terdapat angka-angka yang digunakan sebagai tiang ukur pemantau ketinggian air di musim penghujan untuk informasi banjir.

Tak jauh dari Jembatan Panus, di samping setapak yang menuju ke tepian Ciliwung, terdapat pancuran air tawar yang masih layak minum. Depok memang kawasan yang sebenarnya masih hijau, sehingga tak mengherankan jika masih ada pancuran air minum seperti ini.


Gereja Imanuel, Gereja Pertama Kaum Depok

Siang makin panas. Perjalanan menjelajahi kota ini memang dibarengi cuaca panas dan terik. Beberapa botol minum sudah saya kuras isinya untuk membasahi tenggorokan. Dari Jembatan Panus, bus yang membawa kami menyusuri Jalan Siliwangi yang sudah mulai terlihat padat merayap dengan kendaraan berbagai jenis. Bus dengan badan yang besar dengan susah payah akhirnya berhasil masuk ke Jalan Pemuda yang sempit.

Jika di Jakarta ada kawasan Menteng, maka di Depok ada kawasan Jalan Pemuda yang menyimpan banyak bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda. Di sinilah sebenarnya yang disebut sebagai kawasan Depok Lama, tempat awal berkembangnya kota ini. Tapi jangan samakan dengan Menteng yang cukup elit dan keanggunan eksotis masa lalunya masih terjaga baik, Jalan Pemuda di Depok ini ternyata tak begitu rapi. Saat itu jam pulang anak-anak sekolah, jalan makin ramai dengan anak-anak berseragam yang lalu-lalang.

Tempat pertama yang kami kunjungi di Jalan Pemuda ini adalah Gereja GPIB Imanuel. Gereja ini adalah gereja tertua di Depok yang dibangun beberapa tahun setelah kedatang Cornelis Chastelein dan pekerjanya. Gereja yang pada awalnya dibangun sederhana dari kayu dan bambu lambat laun mengalami beberapa kali perubahan sehingga menjadi seperti sekarang. Di tempat inilah para pekerja Chastelein yang sudah beragama Kristen dibimbing dalam bidang keagamaan. Dua belas nama marga para pekerja itu diabadikan di pintu-pintu gereja yang memang jumlahnya adalah dua belas.

Fritz Rompas, pendeta yang merupakan ketua gereja ini menyambut kami dengan ramah dan menjelaskan keindahan arsitektur bangunan serta berbagai peralatan yang ada di dalam gereja.

Gereja GPIB Imanuel di Jalan Pemuda Depok

Penanda di Gerbang Pintu Masuk Gereja

Fritz Rompas sedang Menerangkan Sejarah Gereja GPIB Imanuel

Salah Satu Nama Marga Kaum Depok yang Terpahat di Pintu Gereja

Menikmati Hidangan Warisan Depok di YLCC

"Yang di tengah merupakan menu vegetarian, sedangkan yang di pinggir adalah non vegetarian dengan olahan daging sapi", begitu Ine Samuel menjelaskan ketika kami bersiap memulai makan. 

Berbagai jenis makaroni dan perkedel kentang yang berbaur daging cincang dengan racikan bumbu spesial cukup menggiurkan telah tersaji di meja. Sayuran sup yang disebut stuuf berwarna merah muda yang terlihat aneh di mata saya juga menjadi hidangan siang itu. Dan ini adalah menu rumahan ala Belanda yang menandakan bahwa warga Depok Lama memang masih membawa warisan tradisi Belanda sampai saat ini selain rumah-rumah tua mereka yang ada di sepanjang Jalan Pemuda.

Hidangan Makaroni dan Sup warisan Tradisi Belanda

Gedung Kantor YLCC yang Merupakan Tempat Berkumpul Keluarga Kaum Depok

Hidangan warisan Depok Lama ini kami nikmati di gedung Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), tak jauh dari Gereja GPIB Imanuel yang kami kunjungi tadi. YLCC adalah yayasan yang didirikan oleh para keturunan 12 marga kaum keluarga bekas pekerja Cornelis Chastelein untuk menjaga aset-aset tanah yang dulu dihibahkan serta mengkordinasi berbagai pelayanan sosial dan pendidikan yang ditujukan untuk mereka sebagai keluarga besar. YLCC ini didirikan pada tanggal 4 Agustus 1952 setelah penyerahan tanah-tanah partikelir Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia.


Sekolah Belanda Pribumi di SDN Pancoran Mas 2

Usai kenyang menyantap makanan khas Depok Lama, kami melanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Pemuda. Rumah-rumah tua peninggalan Belanda masih banyak berdiri. Rumah-rumah baru yang telah dibangun pun juga tak kalah banyak. 

"Sebenarnya banyak pemilik rumah yang menyadari bahwa rumah tua yang dimilikinya di Jalan Pemuda ini memiliki nilai historis tinggi. Hanya karena perawatannya yang mahal serta keinginan untuk menambah ruang secara vertikal, maka sang pemilik lebih memilih membongkar bangunan tua untuk kemudian dibangun bangunan baru saja.", demikian cerita Lilie ketika kami berhenti di depan sebuah sekolah dasar.

Dulu, Chastelein mendirikan sebuah sekolah untuk mendidik para pekerjanya di tempat ini yang kini sudah menjadi SDN Pancoran Mas 2.  

Yano Jonathans sedang Menjelaskan SDN Pancoran Mas 2

SDN Pancoran Mas 2, Dulu Adalah tempat Sekolah Para Pekerja Cornelis Chastelein

Tak lama berbincang di depan sekolah ini, kami pun kembali beranjak menuju ke arah barat. Di halaman-halaman rumah banyak tumbuh pohon rambutan yang usianya sudah tua. Ini terlihat dari batang-batang pohonnya yang besar dan tumbuh tinggi. Dulu, sebelum Depok berkembang seperti sekarang ini, kawasan bantaran Ciliwung antara Batavia dan Buitenzorg ini dipenuhi oleh pohon buah-buahan seperti rambutan dan belimbing.


Rumah Presiden Depok Terakhir dan RS Harapan

Negara di dalam negara, mungkin seperti itulah Depok dahulu. Bagaimana tidak, Depok dahulu memiliki presiden sendiri yang dibantu oleh seorang sekretaris, seorang tenaga pembukuan, dan dua orang komisaris yang dipilih oleh warganya setiap tiga tahun sekali. Kenapa demikian? Ini karena pemerintah Hindia belanda di tahun 1871 memutuskan Depok sebagai wilayah otonomi yang tak ada campur tangan dari luar.

Rumah Presiden Depok Terakhir yang Masih Dipertahankan Bentuknya Sampai Sekarang

Benda-benda Peninggalan Presiden Terakhir Depok di Ruang Tempat Menerima Tamu

Keramik Koleksi di Rumah Presiden Depok yang Terakhir

Di salah satu sisi Jalan pemuda, terdapat rumah tua yang masih dipertahankan sampai sekarang. Kami memasukinya dan disambut oleh istri Yahya Jonathans, sang pemilik rumah. Inilah rumah presiden Depok yang terakhir sampai Republik Indonesia benar-benar berdaulat berdiri. Di dalam rumah, masih terdapat barang-barang peninggalan sang presiden seperti lemari, meja, dan kursi. Sementara di dinding, terpasang beberapa kliping yang mengangkat cerita sejarah kehidupan Depok.

Sambil beristirahat di pelataran rumah, iseng saya bertanya kepada Yano tentang budak-budak yang berasal dari Bali yang dulu dibawa oleh Chastelein. Disinyalir bahwa para budak dari tanah kelahiran saya di Pulau Dewata adalah mereka yang kemudian menyandang marga Jonathans dan Sudira. Hmmm...


Tepat di seberang rumah sang presiden Depok terakhir, berdiri Rumah Sakit Harapan. Gedungnya tak terlalu besar dengan sebuah tugu peringatan yang masih direnovasi dan dibalut kain terpal berdiri di halamannya. Bangunan Rumah Sakit Harapan inilah dulu merupakan istana yang ditempati oleh Cornelis Chastelein yang di masa-masa selanjutnya digunakan sebagai kantor kepresidenan Depok.

RS Harapan Depok, Dulu adalah Kantor Kepresidenan Depok

Kerkhof dan Vietbal Vield

Dari rumah sang presiden, kami kemudian berjalan kembali menuju bus yang terparkir di halaman kantor YLCC. Di salah satu sisi Jalan Pemuda, di sebuah rumah tua yang rapi dan begitu cantik, saya lihat beberapa orang yang sedang melakukan syuting video untuk sebuah sinetron. Dari pemandangan ini, sepertinya masih ada yang bisa mengakali rumah tua bersejarah untuk bisa menghasilkan secara ekonomi daripada membongkar dan menggantinya dengan bangunan baru.

Bus pun kemudian bergerak perlahan keluar dari Jalan Pemuda menuju Jalan Siliwangi. Setelah bus terparkir di sebuah POM bensin, kami turun dan berjalan kaki lagi melewati Rumah Sakit Hermina untuk menuju Jalan Nusa Indah dan Jalan Kamboja. Di sisi jalan inilah terdapat kompleks pemakaman tua milik 12 kaum keluarga Depok seluas 1 hektar. Pemakaman  yang sudah padat ini merupakan tanah wakaf YLCC untuk para warganya. 

Kerkhof, Kompleks Pemakaman Keluarga Kaum Depok

Vietbal Vield, lapangan Bola yang dari Dulu Sampai Sekarang Tetap Berupa Lapangan

Sementara di seberang pemakaman, terdapat lapangan bola yang dari dulu sampai sekarang masih berupa lapangan yang dalam kesehariannya memang digunakan sebagai tempat bermain bola warga Depok.


Dari Hotel Santika Depok

Sore pun menjelang. Perjalanan Jelajah Depok kami akan segera berakhir. Memang cukup melelahkan karena seharian ini bergerak dari satu tempat ke tempat lain di bawah terik matahari. Kegiatan kami ditutup di roof top Hotel Santika Depok setelah menikmati hidangan angkringan ala Santika Depok yang baru berdiri April 2013 lalu.

Istirahat di Pelataran Depan Hotel Santika Depok

Berfoto Bersama Para Peserta Jelajah Depok
Pemandangan Depok dari ketinggian ini terlihat begitu sesak dengan perumahan. Warna hijau dominan hanya terlihat di kejauhan dan mengular mengikuti aliran Sungai Ciliwung. Sesekali suara deru kereta api yang menjadi salah satu penghubung utama keluar kota terdengar menambah riuh suasana. Depok saat ini tentu sudah jauh berubah dibandingkan ketika didatangi pertama kali oleh Cornelis Chastelein.

Pemandangan Salah Satu Sisi Kota Depok dari Roof Top Hotel Santika
Beberapa Tempat Bersejarah yang Dikunjungi di Jl. Pemuda dan Sekitarnya (Klik Gambar untuk Memperbesar)

* * *

"Wah, saya yang puluhan tahun tinggal di Depok baru tahu kalau di kota ini menyimpan cerita dan peninggalan seperti ini. Nanti kalau keluarga saya datang dari Jawa, boleh juga untuk dijelaskan tentang sejarah kota tempat tinggal saya ini", begitu komentar Iis, ibu paruh baya yang selama di dalam bus duduk di samping saya.

Walaupun saya tak tinggal di Depok maupun memiliki ikatan khusus di kota ini, melihat berbagai sudut kota dengan cerita masa lalunya memang menyenangkan. Ibarat membuka peta saat kita tersesat, gambaran kota yang bersangkutan itu bisa terekam dengan baik dalam ingatan. Wawasan pun terbuka. Dan mengetahui cerita tentang kota kita itu lebih baik daripada tidak sama sekali bukan? []

Jakarta, Juni 2014

8 comments:

  1. Wah.. tampilan blognya semakin menarik saja ini... semakin gaul. Keren jrot kaya majalah online :D

    ReplyDelete
  2. Terima kasih, menarik sekali, saya akan kunjungi tempat2 itu sekarang

    ReplyDelete
  3. wow jelas banget, juragan
    hampir tertidur membaca nya

    ReplyDelete
  4. Ga nyangka ada tempat2 seperti ini di kota Depok, maju terus dah kota Depok

    ReplyDelete
  5. mantap banget dah depok pokoknya :-d

    ReplyDelete
  6. Jalan Kamboja 28 tempat alm.kakek,Nenek, dan ibu saya tinggal. Kakek dimakamkan di Pemakaman jalan Kamboja sedang nenek dan ibu di Malang.

    ReplyDelete
  7. Sdn Pancoran Mas 2, sekolah gw dulu

    ReplyDelete
  8. Dulu Tahun 1993-1995 saya jadi Loper Koran Pagi di Area Depok Lama di Jalan-jalan Dahlia, Kamboja, Nusa Indah, Jambu, Flamboyan, Mawar,Siliwangi untuk Keluarga Bakas, Keluarga Loen, Keluarga Isakh, Keluarga Jacob, dll (sekira 45 Rumah, lah banyak yang lupa saya) Tahun 1999-2001 saya ikut Latihan dengan Tim Old Crack diKlub Sepak Bola Mandiri Jaya yang berlatih di Lapangan Cornelis Chastelein, di Lapangan tersebut pun setiap tahun nya di adakan Shalat Hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha yang penyelenggara nya DPD. LDII Depok dengan seizin Yayasan YLCC.. Kangen Depok, Sekarang saya di Palembang SumSel...

    ReplyDelete