Tuesday, October 29, 2013

Delapan puluh lima tahun silam, 28 Oktober 1928, tanpa teknologi telekomunikasi, transportasi yang tak mudah, serta dalam masa penjajahan, para pemuda nusantara mampu mengatasi ego kedaerahan dan keagamaan menyatukan hati dan tekad, berikrar atas niat kebersamaan dalam Indonesia. Sumpah para pemuda zaman itu pun terucap sebagai salah satu tonggak cikal bakal persatuan Indonesia.

Ikrar Sumpah Pemuda
Dan hari ini, 27 Oktober 2013, di pagi yang masih sepi di bilangan Salemba, Jakarta, saya bersama rombongan Komunitas Historia Indonesia (KHI) sudah berkumpul di depan Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) untuk melakukan perjalanan kecil menyusuri titik-titik penting bersejarah di kawasan ini : FK UI, Pasar Kenari, Museum MH Thamrin, RS AD MAureksa, Gedung Pertamina Lama, Gedung PBNU, Eks Gedung Biro PKI, Sekolah Vincentius, Apotek Titimurni, RS Kramat, Eks Bioskop Rivoli, dan Museum Sumpah Pemuda.

Nostalgia Stovia di FK UI

Tak mengherankan apabila Fakultas Kedokteran UI ini menjadi titik awal perjalanan kali ini. Jika ditelisik lebih lanjut, fakultas ini adalah masa depan dari Stovia (School tot Opleiding van Indische Artsen) atau yang dalam bahasa Indonesia berarti Sekolah Pendidikan Dokter Hindia. Di sekolah inilah tempat terpusatnya komunikasi sosial para pelajar dari seluruh Indonesia. Para tokoh pemuda pergerakan Indonesia juga muncul dari sekolah ini seperti Budi Utomo pada 20 Mei 1908 yang sekarang hari itu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Jika pernah membaca novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, pasti kita akan ingat dengan kisah Minke yang tak menamatkan sekolahnya di sekolah ini. 

Gedung Fakultas Kedokteran UI di Jalan Salemba
Prasasti Peresmian Stovia di Masa Lalu
Kami mulai memasuki gedung yang dibangun pada tahun 1819 ini. Gedung ini sebenarnya merupakan gedung kedua dari Stovia di masa lalu. Gedung Stovia pertama yang lebih kecil saat ini merupakan Museum Kebangkitan Nasional. Saat memasuki gedung, kebetulan saat itu diadakan Emergency Fair and Festival FK UI 2013 di lobinya sehingga saya banyak juga melihat-lihat foto dan benda untuk keadaan tanggap darurat yang dipamerkan di sana.

Seperti gedung-gedung lain peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia, gedung FK UI ini adalah gedung yang bergaya art deco, gedung berarsitektur Eropa tetapi menyesuaikan dengan kebutuhan di negeri tropis. Pintu, jendela, dan pilarnya tinggi-tinggi serta kamar-kamarnya yang luas. Kami berkeliling memasuki lorong-lorongnya di lantai satu dan dua.

Menyusuri Gedung FK UI
Jadi, di sinilah sebagian besar para pemuda pergerakan Indonesia bersekolah di masa lalu. Belanda yang pada masa itu khawatir dengan kurangnya tenaga medis menyebabkan dibukanya kursus kesehatan bagi para bumi putera yang kemudian dinamai dengan Sekolah Dokter Djawa, yang kemudian berubah lagi menjadi Sekolah Dokter Pribumi dengan kualitas yang lebih ditingkatkan.

Karena lama-kelamaan yang bersekolah di sini juga mereka yang dari Timur Asing dan Eropa, maka kata Pribumi pada sekolah ini pun dihilangkan. Sekolah ini juga pernah mengalami perubahan nama menjadi Ika Daigaku pada masa penjajahan Jepang dan menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia di masa awal kemerdekaan. Baru pada tahun 1950 sekolah ini resmi menjadi Fakultas Kedokteran dari Universitas Indonesia.

Ke Museum MH Thamrin

Dari FK UI, kami mulai beranjak menyusuri Jalan Salemba menuju Jalan Kenari II. Jaraknya tak begitu jauh, mungkin sekitar 300 meter. Di pintu masuk Jalan Kenari II ini kita akan melihat Pasar Kenari, pasar yang banyak menyediakan peralatan listrik. Menyusuri Jalan Kenari II ini juga kita akan melihat ada banyak warung-warung yang menjual peralatan listrik dan besi. Kondisinya semrawut dan tak rapi. Sangat menyedihkan mengetahui bahwa jalan akses utama menuju sebuah museum bersejarah seperti ini. Nantinya saya ketahui perbedaan Jalan Kenari II saat ini dengan Jalan Kenari di masa lalu saat MH Thamrin masih hidup dari sebuah foto yang saya lihat di museum : dulu penuh dengan pepohonan dan sejuk.

Suasana di Ujung Jalan Kenari II, Pintu Masuk ke Museum MH Thamrin
Suasana di Ujung Jalan Kenari II, Pintu Masuk ke Museum MH Thamrin
Museum MH Thamrin ini tak begitu terlihat menonjol dibandingkan rumah-rumah lain di sekitarnya. Rumah ini dulunya adalah kediaman MH Thamrin sendiri, yang dibeli dari Pemerintah Kolonial Belanda. Taman di pintu masuknya terlihat tak terawat. Sebuah patung MH Thamrin berwarna kuning keemasan tegak berdiri di halamannya yang cukup luas. Agak ke belakang, barulah bangunan utama museum ini berdiri dengan corak betawinya yang kental.
Patung MH Thamrin di Halaman Museum
Suasana di Dalam Museum MH Thamrin yang Kental Nuansa Betawi
MH Thamrin sendiri adalah seorang tokoh pemuda Betawi yang aktif dalam pergerakan nasional. Rumahnya yang sekarang menjadi museum ini dulu dihibahkan kepada para pemuda untuk dijadikan tempat pergerakan dan Sekretariat Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia. Seperti museum pada umumnya, segala hal yang berhubungan dengan MH Thamrin menjadi koleksi dari museum ini. Ada sepeda, radio, meja, kursi, lemari, tempat tidur, dan berbagai lukisan serta benda peninggalan masa lalunya. Cukup menarik.

Menyusuri Salemba dan Kramat Raya

Usai mengeksplorasi Museum MH Thamrin, tujuan kami selanjutnya adalah Museum Sumpah Pemuda. Akan ada banyak gedung bersejarah yang bisa dilihat ketika menuju Museum Sumpah Pemuda di Jalan Salemba dan Kramat Raya yang banyak terdapat tukang cat duco ini. Dan yang pasti, jalan ini adalah salah satu ruas Jalan Raya Pos yang dibangun Daendels dengan kerja paksa dari Anyer sampai Panarukan dalam rangka mempertahankan kekuasaan Perancis di Jawa dari serbuan Inggris (baca : Jejak Perang Napoleon).

Suasana Umum di Sepanjang Jalan Salemba dan Kramat Raya
Berturut-turut di sepanjang jalan ini saya melewati RS Ridwan Meuraksa dan Gedung Pertamina lama. Di Jalan Salemba dan Kramat ini juga dikenal dengan gedung-gedung tempat sekretariat partai di masa lalu. Maka tak salah ada di sini masih berdiri kantor pusat NU. Di seberang jalan, terlihat juga ada gedung kosong yang konon katanya adalah bekas Kantor Biro PKI di awal tahun 60-an.

Kantor PBNU
Eks Gedung Kantor Biro PKI di Seberang Jalan
Beberapa ratus meter berikutnya, ada Sekolah sekaligus Panti Asuhan Vincentius Putra. Panti asuhan ini adalah panti asuhan yang sudah berdiri sejak zaman Belanda, tepatnya di tahun 1885. Didirikan oleh para pastor Katholik dalam rangka membantu anak-anak Indo - Belanda terlantar kala itu. Sementara bangunan tua bergaya art deco yang kami kunjungi di Jalan Kramat Raya 134 ini baru ditempati kemudian pada tahun 1910 dan tetap berdiri sampai sekarang dengan fungsinya sebagai panti asuhan.

Gedung Sekolah Vincentius
Sekolah dan Panti Asuhan Vincentius Putra
Di Jalan Kramat Raya ini juga terdapat Apotek Titi Murni, bekas rumah Dokter Soeharto, dokter pribadi Presiden Soekarno di masa awal kemerdekaan. Di tempat inilah dulu Soekarno mengundang Tan Malaka untuk melakukan pembicaraan masalah masa depan Indonesia pada tanggal 9 September 1945. Berdasarkan penuturan Tempo edisi khusus Tan Malaka, di sinilah Tan Malaka mengatakan keyakinannya bahwa Belanda akan datang bersama Sekutu untuk kembali merebut daerah jajahannya sehingga Jakarta akan menjadi medan pertempuran dan itu akan membahayakan keselamatan presiden. Di sini pula kemudian Soekarno mempercayakan penerus pemimpin besar revolusi kepada Tan Malaka jika terjadi sesuatu kepada Soekarno.

Apotek Titi Murni, Bekas Kediaman Dokter Pribadi Presiden Soekarno, Tempat Dialog antara Soekarno dan Tan Malaka di Masa Awal Kemerdekaan
Di seberang jalan tak jauh dari Apotek Titi Murni, ada bekas salah satu bioskop pertama di Indonesia yang bernama Rivoli. Sayang, sekarang gedungnya sudah tidak ada lagi. Rivoli yang dimiliki oleh seorang warga Betawi Hj. Zuleha ini konon merupakan singkatan dari Revolusi Nasional. Di tahun 60-an bioskop ini khusus memutar film-film India karena saat itu film-film yang laris manis di Indonesia adalah film-film India dan film-film dari negara-negara sosialis. Berlawanan dengan film-film laris di Eropa yang notabene dicap sebagai negara kolonial, di sana  lebih mengedepankan film-film Amerika alias Hollywood.

Di Museum Sumpah Pemuda

Menjelang siang, kami pun tiba di tujuan terakhir perjalanan napak tilas ini, yaitu di Museum Sumpah Pemuda. Posisi gedung ini adalah Jalan Kramat Raya 106. Saat tiba, di pelataran gedung sedang berlangsung gladi upacara peringatan Sumpah Pemuda. Kami pun mulai masuk dan menyusuri ruang-ruang museum yang menyimpan berbagai koleksi benda yang berkaitan dengan Sumpah Pemuda.

Saya yang menyukai berbagai benda antik masa lalu begitu terpesona dengan beberapa koleksi yang ada di museum ini. Sebuah meja dengan beberapa buku tua menjadi tampilan awal di ruangan awal. Di sini lah ruang tamu para pemuda Indonesia masa itu. Lebih ke dalam, terdapat ruangan yang cukup luas di mana Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928 dilaksanakan. Ruangan ini dilengkapi dengan contoh patung-patung para pemuda yang sedang berposisi mengikuti kongres. Di sini pula ikrar Sumpah Pemuda dibacakan 85 tahun silam.

Patung WR Supratman Melantunkan Lagu Indonesia Raya yang Digambarkan dalam Kongres Pemuda
Mulai tahun 1925, gedung ini adalah rumah kontrakan para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sebagian besar di antaranya adalah mahasiswa Stovia dan para pemuda dari Jong Java. Setahun kemudian para penghuninya mulai beragam dari berbagai daerah di Indonesia. Berbagai ide dan diskusi menuju Indonesia merdeka terjadi di sini. Kegiatan-kegiatan lainnya seperti kesenian, kepanduan, dan olah raga juga menjadi aktivitas mereka sehari-hari.

Mohammad Yamin dari Jong Sumatra yang memprakarsai Sumpah Pemuda baru saya ketahui merupakan orang yang puitis. Puisi-puisinya yang romantis tentang Indonesia dan semangat kemerdekaan terpajang di beberapa sudut. Ialah yang menyusun ikrar Sumpah Pemuda yang nantinya dibacakan pada saat Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928.

Mochammad Yamin, Penyusun Ikrar Sumpah Pemuda
Menyusuri dan meresapi tempat-tempat bersejarah pada hari ini dan meresapi pesan-pesan dari para tokohnya mengingatkan saya akan hal-hal yang saat ini masih jauh dari semangat masa lalu yang terjadi. Ketika saya menuliskan kisah ini, saya lihat ada berita mahasiswa berdemontrasi memperingati Sumpah Pemuda yang menyebabkan bentrok di Jambi dan Surabaya. Di Bone, peringatan Sumpah Pemuda menyebabkan tawuran antar sekelompok mahasiswa karena kesalahpahaman. Di pusat-pusat pemerintahan, isu-isu suap dan korupsi masih menjadi topik utama.

Tapi tak perlu berkecil hati. Mereka yang sungguh-sungguh bersikap cinta tanah air tentu masih banyak. Lihat saja para enterprenur muda yang selalu bersemangat berdikari. Para ilmuwan muda mulai unjuk gigi dengan idealisme-idealismenya. Di laut Sulawesi diberitakan ada sekelompok penyelam yang mengibarkan bendera merah putih. Di Puncak Mahameru, sekelompok pendaki dari berbagai daerah melakukan upacara bendera memperingati Sumpah Pemuda. Dan lain-lain. 

Pesan Ki Hajar  Dewantara
Seperti yang ditulis di salah satu sudut Museum Sumpah Pemuda, dengan diikrarkannya sumpah itu, maka sebenarnya sudah tidak ada lagi ide kesukuan atau ide kepulauan atau ide keagamaan atau ide provinsialisme atau ide federalisme. Daerah-daerah adalah bagian-bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam satu tubuh, yaitu : Tanah Air Indonesia, Bangsa Indonesia, dan Bahasa Indonesia. Ini adalah sebuah asas yang wajib dipakai oleh semua perkumpulan kebangsaan di Indonesia dan individu-individu di dalamnya. Sebuah api sumpah pemuda yang wajib dipahami dan diwariskan ke generasi-gerasi berikutnya. []

Jakarta, Oktober 2013

0 comments:

Post a Comment