Wednesday, September 4, 2013

Jangan bicara soal idealisme
Mari bicara berapa banyak uang di kantong kita
Atau berapa dahsyatnya ancaman yang membuat kita terpaksa onani

Jangan bicara soal nasionalisme
Mari bicara tentang kita yang lupa warna bendera sendiri
Atau tentang kita yang buta, bisul tumbuh subur di ujung hidung yang memang tak mancung

Jangan perdebatkan soal keadilan
Sebab keadilan bukan untuk diperdebatkan
Jangan cerita soal kemakmuran
Sebab kemakmuran hanya untuk anjing si tuan polan

Jangan bicara soal runtuhnya moral
Mari bicara tentang harga diri yang tak ada arti
Atau tentang tanggung jawab yang kini dianggap sepi

* * *

Ketika para misionaris dari Barat pertama kali sampai ke Nusantara, mereka terkejut melihat penduduk asli dengan nyaman bertelanjang dada dalam kehidupan sehari-harinya. Laki-laki dan perempuan nyaman berpakaian sesuai dengan alam dan iklim di belahan dunia tropis.

Di mata para misionaris barat, yang berpakaian tertutup rapat dan menderita di bawah panggangan matahari tropis, cara berpakaian ini dinilai tak beradab dan primitif. Merasa mendapat tugas secara moral untuk memperadabkan penduduk lokal, mereka memperkenalkan busana yang sesuai dengan kebudayaan mereka, yang menutup rapat tubuh. Pakaian yang sebenarnya tak cocok dengan iklim tropis, karena berasal dari negara yang iklimnya lebih dingin.

Usai rezim pemerintahan orde baru berakhir, organisasi-organisasi kemasyarakatan yang mengatasnamakan syiar agama bermunculan dan unjuk gigi. Sebagian besar menunjukkan perangai yang tidak baik dan cenderung membangun tembok-tembok perbedaan yang rawan gesekan. Keragaman yang seharusnya menjadi kekayaan milik bersama menjadi seperti bom waktu yang bisa meledakkan semua.

Di mata mereka yang mengatasnamakan syiar agama mengatakan segala hal yang tak sesuai dengan keyakinan mereka adalah tidak sesuai dengan budaya timur. Lagi pula apa pula budaya timur tersebut? Budaya Nusantara yang saya tahu adalah beragam, seperti para wanita yang memakai kamben, memakai kebaya, memakai sanggul, menyayikan gending-gending jawa atau bali atau melayu. Para lelaki yang mengenakan blankon atau ikat kepala lainnya yang mahir memainkan gamelan, memainkan wayang, dan pandai baca tulis aksara. Hidup mereka suka bergotong royong dan tolong-menolong, saling menghormati, saling menyayangi, saling asah saling asih saling asuh. Semuanya, dari Sabang sampai Merauke, dari Rote sampai Talaud. Saya tak tahu kalau budaya Nusantara itu diartikan berbeda oleh mereka. Atau saya juga tak tahu apakah budaya Nusantara sudah berganti atau sudah hilang.

Bali Tempo Doeloe
Sekarang ini sebuah Kontes Putri Dunia atau Miss World diadakan di Indonesia dan mengundang kontroversi karena dituduh hanya mengeksploitasi perempuan. Dituduh menampilkan penampilan-penampilan tak senonoh dan tak sesuai budaya kita sebagai bangsa. Lebih jauh lagi kontes ini dikatakan hanya dimanfaatkan oleh pihak-pihak kapitalis tertentu untuk mengeruk keuntungan dan menanamkan pengaruh yang merugikan kita. Saya sama sekali tak ada ketertarikan dengan kontes-kontes semacam ini, paling biasanya hanya sekedar tahu saja. Tetapi sekarang ini, ada apa gerangan?

Pakaian sebagaimana halnya dengan benda-benda buatan manusia adalah sebuah produk budaya yang senantiasa berubah seiring fashion, trend, atau kebutuhan. Tak ada harga mati dalam hal ini. Cara hidup manusia pun berubah. Bahkan, agama sebagai keyakinan masyarakat kebanyakan pun sebenarnya adalah sebuah produk budaya. Ia lahir karena kebutuhan manusia di zamannya. Tak ada yang salah, kecuali kita dikatakan sebagai bangsa tak beradab dan primitif sebelum pengaruh itu datang dari Negeri Eropa, dari Dunia Arab,dari Tanah India, atau dari Bumi Timur.

Melihat apa yang terjadi seperti sekarang ini, bahwa agama sering kali dibawa-bawa untuk melegitimasi sesuatu dan memuluskan cara tertentu untuk mencapai tujuan, sangat disayangkan sekali. Maka ketika hal itu berbenturan dengan kepentingan-kepentingan yang lain atau berlawanan, maka akan riskan sekali mengancam hal-hal yang lebih besar pada kita dalam berbangsa dan bernegara. Saya sedih sekali memikirkan hal-hal seperti ini. Kenapa begini kondisi sebagian besar dari kita semua?

Menurut Don Beck, manusia dalam berkesadaran di dalam kehidupannya dibedakan dalam beberapa level tingkatan pencapaian. Level pertama adalah level insting, yang paling mendasar dari mahluk hidup. Level kedua adalah level magis, yang berpatokan pada kekuatan alam. Level ketiga adalah level agama, yang yakin berdasarkan teks-teks kitab suci. Level keempat adalah level rasional, berdasarkan ilmu pengetahuan. Level kelima adalah level pluralisme. Level keenam adalah level integralisme. Dan level ketujuh adalah level transpersonal atau spiritual. Jadi kita bisa menyimpulkan sendiri bagaimana kondisi sebagian besar masyarakat kita sekarang ini, pada level mana mereka berada.

Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, ada dua hal yang saya soroti pada kejadian-kejadian belakangan ini. Yang pertama adalah dengan adanya fanatisme dari sebuah kelompok, ini akan memunculkan tembok-tembok pemisah, dan akan melahirkan fanatisme-fanatisme juga di kelompok-kelompok lainnya. Ini ibaratnya hukum aksi reaksi dalam fisika, ada aksi maka ada reaksi. Sangat saya sayangkan jika kelompok yang mendukung sesuatu dan kelompok yang tidak mendukung sesuatu itu menunjukkan perilaku yang seperti siap perang satu sama lain. Sangat tidak bijaksana sekali. Yang kedua adalah jika keadaan-keadaan seperti ini dipelihara terus-menerus di berbagai permasalahan yang lain, maka keutuhan berbangsa dan bernegara kita terancam. Yang lebih parah, sisi kemanusiaan kita yang seharusnya lebih bermartabat jatuh ke dalam kotoran.

Saudara-saudaraku apa pun suku dan agamanya, sebenarnya tulisan saya ini bukan untuk mengkritik siapa-siapa. Hanya sebuah refleksi karena ramainya isu kontroversi Miss World yang sedang dilaksanakan serta upaya pembodohan masal yang kita lakukan bersama-sama dan sangat ironis. Walaupun negeri kita penuh dengan isu korupsi kolusi dan nepotisme, tapi kita semua tentu berharap pemerintah yang telah memberikan izin serta panitia pelaksana tidak memiliki maksud buruk mengadakan Kontes Putri Dunia ini di Indonesia. Pun kita sebagai warga masyarakatnya semoga saja selalu mengedepankan prasangka yang baik.

Saudara-saudaraku semua di mana pun berada, kita tahu tak ada yang abadi di dunia ini. Semua memiliki waktunya sendiri, dinamis dan berubah dari masa ke masa, saling mempengaruhi satu sama lain. Budaya dan pengaruh dari luar datang silih berganti. Tak ada yang salah jika semua itu untuk kebaikan sebagai masyarakat umat manusia, kecuali jika itu kemudian kita terapkan dan membawa kejatuhan bagi peradaban kita. 

Semoga semua mahluk berbahagia dan semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru. []


Lyric Taken from Iwan Fals - Jangan Bicara
Picture Taken from Room Bucket

Jakarta, September 2013

0 comments:

Post a Comment