Monday, August 26, 2013

Gelora Bung Karno di Jakarta menjadi lautan hitam malam itu. Ribuan penggemar musik cadas lintas generasi yang hampir seluruhnya berkaos warna hitam memang sudah membanjiri stadion termegah di negeri ini sejak dibukanya gerbang sore tadi. Jarak belasan meter dari bibir panggung mulai padat oleh penonton yang sudah tak sabar menunggu. Sorak sorai dan lambaian tangan penonton kelas tribun juga membahana membentuk ombak sambung-menyambung. Mereka semua adalah para penggemar musik metal yang sedang menunggu tampilnya band metal kelas dunia : Metallica.

Penampilan Metallica di Stadion gelora Bung Karno pada 25 Agustus 2013
Gemuruh teriakan penonton pun makin membahana sambil mengacungkan tangan salam tiga jari kala dua layar raksasa di samping kanan dan kiri panggung mulai menampilkan seorang cowboy yang berlarian di padang tandus diiringi alunan Ecstasy of Gold, musik instrumental Metallica yang memang selalu menjadi pembuka konser-konser mereka. Satu per satu personil Metallica mulai muncul untuk kemudian memainkan lagu lawas mereka sebagai pembuka : Hit the Light. Dan selanjutnya, sambung menyambung lagu-lagu lainnya terus membakar langit Jakarta sampai menjelang tengah malam itu.

* * *

Saya mencoba flash back ke masa silam, melihat masa lalu saya yang berkaitan dengan Metallica. Saya mulai menyukai lagu-lagu Metallica jauh setelah band ini sudah terkenal, yaitu sekitar tahun 1995 - 1996, zaman saat saya masih duduk di bangku SMP. Saya ingat, saat itu adalah masa-masa setelah kegiatan upacara ngaben di keluarga besar saya pada tahun 1995 di Klungkung, Bali. Adalah dua kakak sepupu saya, I Wayan Artana "Okoh" dan I Wayan Suda Adnyana "Badeng", yang secara tidak langsung meracuni saya dengan musik-musik cadas itu. Tak hanya Metallica, band-band lain zaman itu juga seringkali masuk ke telinga dan membuat saya menjadi terbiasa mendengarnya. Sebut saja Scorpions, Guns 'N Roses, atau Nirvana. Bahkan, lebih jauh ke masa saat saya masih SD, saya malah sampai tak pernah berani masuk ke kamar mereka karena melihat poster-poster Kiss dan Iron Maiden yang terpasang di dinding kamar. Sangat menyeramkan.

Tapi waktu berganti. Apa yang sering didengar kemudian menjadi apa yang disukai. Ia menjadi semacam nostalgia tersendiri dalam pikiran. Karena kecanduan dengan lagu The Unforgiven yang ternyata secara kebetulan suatu hari saya dengar mengalun keras dari penjual CD bajakan di Pasar Senggol Klungkung, selanjutnya barulah untuk pertama kalinya saya membeli kaset album Metallica atau yang lebih dikenal dengan black album yang memuat lagu tersebut ketika saya kelas dua SMA. Ini juga ditambah rasa penasaran dengan album Metallica yang sampul albumnya hanya berwarna hitam, walaupun jika dilihat dengan seksama sebenarnya ada gambar ular dan tulisan Metallica yang samar di sampulnya tersebut. Pun begitu juga kemudian dengan sebuah judul lagu yang sama tetapi lagunya berbeda pada kaset album yang lain, yang ternyata lagu itu adalah berbeda versi : The Unforgiven II pada album Reload. Maka, jadilah album Reload menjadi kaset Metallica kedua yang saya beli. Dan dari dua album ini, berikutnya album-albumnya yang lain pun masuk juga ke dalam kotak-kotak kaset saya secara bertahap. Keranjingan Metallica pun dimulai.

Beberapa Kaset Album Metallica Koleksi Zaman SMA
Lagu Metallica yang saya sukai terutama adalah lagu-lagunya yang berirama rock ballad dengan petikan-petikan gitar lirih yang kemudian disambung dengan gesekan-gesekan gitar bernuansa hard rock, thrash, atau speed metal. Terdengar menyayat dan terkesan sedih tapi memberontak. Pun begitu juga dengan lirik-lirik lagunya, cenderung bernuansa hitam dan gelap tapi penuh makna. Maka tak mengherankan lagu-lagu seperti One, The Unforgiven, The Unforgiven II, Nothing Else Matters, atau lagu dari album terakhir mereka The Day that Never Comes menjadi lagu-lagu Metallica favorit saya.

* * *

Belasan tahun kemudian, 2012 - 2013, ketika Joko Widodo yang menggemari musik-musik cadas mulai naik daun dan menjadi Gubernur DKI Jakarta serta berniat mengundang Metallica untuk konser ke Jakarta, saya pun sumringah. Saya pasti akan ada pada konser tersebut, begitu batin saya dalam hati.

Maka, ketika Black Rock Entertaiment mengumumkan kepastian kedatangan band metal dunia ini, saya jauh-jauh hari sudah memastikan satu tiketnya sudah di tangan. Awalnya saya berniat menonton di kelas tribun supaya bisa mendengarkan lagu-lagunya dengan lebih jelas dan nyaman. Tetapi, dengan berbagai pertimbangan, tiket festival yang akhirnya menjadi pilihan. "Masa menonton musik rock duduk, ya berdiri dong!", begitu seperti kata Joko Widodo.

Membeli tiket pertunjukan ini secara online melalui blacbox ternyata tidak secanggih istilahnya : online. Yang saya bayangkan sebelumnya adalah seperti membeli tiket pesawat atau membayar tagihan listrik, klak klik klak klik kemudian beres. Tetapi kenyataannya tak jauh berbeda dengan melakukan transaksi di forum jual beli online

Pada pembelian tiket pertunjukan ini, setelah mengisi formulir sesuai jenis tiket yang dipilih, maka kode booking dikirimkan. Setelah itu lah, saya yang berniat membayar lewat kartu debit harus menscan bukti transfer untuk kemudian mengirimkannya kembali lewat email yang subjectnya sendiri dibebaskan. Pun transaksi konfirmasi pembayaran yang saya lakukan ternyata katanya mengalami error. Ini membuat evoucher yang seharusnya sudah saya terima sampai tiga hari kemudian tidak ada saya terima sama sekali sampai saya menghubungi pihak blackbox. Hasilnya : saya harus mengulangi transaksi booking tiket (tanpa membayar lagi tentunya) untuk mendapatkan evoucher yang baru. Wah, tidak bisa dibayangkan repotnya admin menangani transaksi yang jumlahnya ribuan kalau cara kerjanya begini.

* * *

Sehari menjelang pertunjukan dimulai, penukaran evoucher dengan tiket konser pun dilakukan. Saya yang ke Gelora Bung Karno bersama Amien di sore hari tak butuh waktu lama untuk mendapatkan tiket. Antrian sudah sedikit, tak seperti siang hari seperti kata Widnyana Dipa yang mengingatkan sebelumnya. Tapi sungguh sayang, KTP saya tertinggal di konter penukaran tiket. Hilang. Sial!

Tiket Konser Metallica Pun di Tangan
Ada banyak pedagang kaos Metallica di sekitar stadion. Walaupun jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah memiliki kaosnya, saya tetap tergoda untuk melihat berbagai kaos dan pernak-pernik Metallica yang dijajakan. Saya hanya membeli beberapa stiker serta gantungan kunci untuk kenang-kenangan. Yang paling laris adalah kaos Metallica dengan tulisan South East Asia Tour 2013 Jakarta August 25th at Gelora Bung Karno. Para pedagang kaos sepertinya panen besar. Niat saya membeli kaos ini usai menonton konser keesokan harinya pupus sudah karena tak ada satu pun kaos sejenis itu tersisa dari pedagang-pedagang yang ada.

* * *

Dan hari H pun tiba, 25 Agustus 2013. Sore itu saya berangkat menuju stadion kebanggaan Indonesia dengan bersemangat. Sopir taksi yang mengantarkan saya tak perlu waktu lama untuk langsung bertanya menyapa, "Mau nonton Metallica ya Mas?". Dengan kaos hitam bertuliskan Metallica serta celana jeans bolong-bolong dan sepatu kets, tentu tak mengherankan baginya. 

Di kompleks Gelanggang Olahraga Bung Karno sudah ramai dengan orang-orang berkaos hitam bernuansa rock. Lagu-lagu Metallica terdengar mengalun keras dari beberapa mobil yang parkir dan telepon genggam orang-orang yang lalu-lalang. Para pedagang kaos dan pernak-pernik Metallica masih ramai dan laris manis. Pun begitu juga dengan para pedagang makanan dan minuman. Setelah menyantap sepiring siomay, sebuah slayer hitam bersablonkan Metallica yang saya beli sebelumnya kemudian saya ikatkan di kepala. Wah, sepertinya saya menjadi tambah keren. Halah!!!

Di pintu-pintu masuk dan di beberapa titik, beberapa orang dengan rambut cepak berkaos kuning seragam tampak waspada. Mereka adalah petugas keamanan. Salah seorang dari mereka saya tanyai mengaku berasal dari TNI AU. Ia menjelaskan bahwa tim keamanan juga berasal dari berbagai kesatuan seperti TNI AD, TNI AL, dan Polda Metro Jaya. Petugas tiket membagikan gelang untuk dikenakan sebagai tanda masuk.

Gelang Metallica Sebagai Tanda Masuk
Peraturan menonton konser yang melarang membawa rokok dan korek api ternyata dimanfaatkan oleh beberapa orang yang mau menampung rokok dan korek itu cuma-cuma. Wah, ratusan bungkus rokok saya lihat ditampung oleh beberapa penadah. Kalau dijual lagi, tentu sangat lumayan. Dan pastinya penonton yang merokok pasti akan kecewa setelah di dalam arena konser ternyata melihat ada banyak penonton yang lolos membawa rokok dan korek api.

Penadah Rokok yang Memanfaatkan Kesempatan Larangan Membawa Rokok
Sigit Fathomy "Sigong" yang saya hubungi belum muncul juga. Pun begitu juga dengan beberapa rekan saya lainnya yang berjanji bertemu di pintu masuk kelas festival, tidak ada terlihat satu pun. Suasananya terlalu ramai. Ya sudahlah. Saya masuk saja ketika pintu stadion dibuka sore itu. Sepertinya menonton di dekat panggung menarik juga. Saya yang hanya bertemu rekan kantor Arief Zulkarnaen ternyata kemudian kami berpisah lagi di tengah keramaian. Makin malam penonton yang datang makin banyak. 

Suasana Ketika Pintu Stadion Dibuka
Suasana Ketika Menunggu Dimulainya Konser
Sampai akhirnya band pembuka Seringai tampil bersama Raisa mengumandangkan Indonesia Raya, semua penonton serempak ikut bernyanyi. Hanya beberapa lagu yang kemudian dibawakan oleh Seringai sambil menunggu penampilan dari Metallica. Menjelang jam delapan malam, terdengar sorak-sorai meneriakkan nama Jokowi. Rupanya gubernur ibu kota penggemar metal ini baru datang.

Dan akhirnya jam delapan malam lewat, Metallica pun tampil. Luar biasa. Mereka masih garang di umurnya yang sudah separuh abad. James Hetfield sang vokalis sekaligus gitaris terlihat begitu bersemangat meneriakkan "Yeaah...!!!" di pembuka lagu pertama mereka. Kirk Hammet, sang gitaris dengan rambut kriwilnya yang telah memutih tampak kalem tetapi luar biasa memainkan melodi. Sementara Robert Trujilo, sang bassist yang merupakan anggota Metallica terbaru berjingkat-jingkat seperti kepiting sebagai gaya khasnya. Dan Lars Ulrich masih sangat bertenaga menggebuk drumnya menjaga kecepatan musik mereka. Dari keempatnya, hanya sang drummer yang tampak terlihat cukup tua dari penampilan padahal umur mereka sebaya. Mungkin ini dikarenakan rambutnya sendiri yang kian menipis dibandingkan dengan personilnya yang lain.

Setelah Ecstacy of Gold dan Hit the Light sebagai lagu pembuka, dilanjutkan kemudian dengan Master of Puppets dan Fuel. Baru setelah itu James Hetfield membuka suara menyapa, "Hi... Jakarta! Long time no see. After 20 years.", sambil tersenyum. Ia yang paling kocak. Hampir di sepanjang jeda pertunjukan ia mengajak penonton bercanda dengan guyonannya. 

Kemudian lagu-lagu mereka yang dibawakan berturut-turut adalah Ride the Lighting, Fade to Black, The Four Horsemen, Cyanide, Sanitarium, Sad But True, One, For Whom the Bell Tolls, Blackened, Nothing Else Matter, dan Enter Sandman. Pada lagu Enter Sandman ini lah yang paling membuat Stadion Gelora Bung Karno bergetar. Lagu yang sepertinya sudah menjadi lagu wajib konser Metallica ini membuat seluruh penonton meloncat-loncat ketika baru mendengarkan intronya saja. Gila! Heboh sekali.

Metallica Live Concert, Gelora Bung Karno, August 25, 2013

Setelah lagu ini, James Hetfiled kembali bercanda mengundang tawa penonton. Ia mengucapkan sampai jumpa menandakan konsernya akan berakhir. Sepertinya ia memang pura-pura. Tetapi penonton meneriakkan "We want more" berulang-ulang kali. Penonton meriakkan "Huuu..." ketika ia hendak menanggalkan gitar tetapi kemudian meneriakkan "Yeaaah...!!!" ketika ia memakai kembali gitarnya. Teriakan "Huuu..." lagi, kemudian "Yeaaah...!!!" lagi. Itu dilakukan berulang-ulang sambil memeragakan keinginannya untuk tidur seperti bayi. Ia pun geleng-geleng kepala memperlihatkan bahwa ia heran dengan penonton yang energinya belum habis. Penonton tertawa.

Maka, setelah berganti gitar dan meneriakkan "One! Two! Three...!", maka konser pun dilanjutkan dengan mengumandangkan lagu Creeping Death dan Fight Fire with Fire. Sebagai lagu penutup, mereka memainkan lagu Seek and Destroy di mana bola-bola hitam besar dilemparkan ke udara. Di penutup konser, puluhan pick gitar dan bas dilemparkan ke arah penonton oleh Hetfiled, Hammnet, dan Trujilo. Sementara Ulrich melemparkan beberapa stik drumnya. Tak sedikit yang merelakan dirinya terinjak-injak demi mendapatkan benda-benda tersebut. Saya yang tak ikut rebutan dan tak mendapatkan satu pun pick atau stik terpaksa memegang bola hitam Metallica yang ukurannya sangat besar yang membutuhkan waktu cukup lama untuk mengempiskannya karena terakhir bola ini kebetulan jatuh ke tangan saya.

* * *

Dan berakhir sudah konser band metal legendaris ini menjelang tengah malam. Hampir dua jam mereka bermain. Bagi saya, konser mereka ini sangat hebat. Tata panggungnya megah, tata cahaya dan sound system juga memukau. Konon, dalam sejarah konser besar yang pernah ada di Indonesia, konser Metallica kali ini adalah konser yang termegah. Saya yang hanya tahu konser sekelas konser di Lapangan Kampus STT Telkom Bandung, Art Center Denpasar, atau Lapangan Puputan Klungkung hanya bisa mengatakan bahwa konser Metallica ini memang spektakuler. Energi dari dalam diri sepertinya meluap-luap. Layaknya saya menyenangi kegiatan mendaki gunung atau mengarungi sungai dan memanjat tebing, menonton konser Metallica kali ini rasanya sama : membuat umur menjadi lebih muda dua atau tiga tahun lagi, walaupun kenyataan usia tentu saja tetap tak bisa dibohongi. Euforia semangat yang memancar luar biasa. 

Beberapa penyanyi nasional saya lihat ketika penonton sudah bubar : seperti para personil Kotak, Coki Netral, dan Robi Navicula. Mungkin pendapat mereka sama, bahwa konser Metallica ini sangat bagus. Tapi satu yang kembali mengingatkan akan sedikit rasa nasionalisme adalah celetukan Iwan Fals di twitternya tentang mimpi penyanyi Indonesia supaya tidak kalah dengan mereka yang dari luar negeri, yang harga tiketnya ratusan ribu dan jutaan rupiah. Akankah konsernya laris manis jika musisi dalam negeri menjual tiketnya cukup mahal seperti tiket Metallica? Dunia hiburan memang bisnis yang menjanjikan. Tapi celetukan Iwan Fals tentu saja bukan hanya sekedar sindiran soal profit, soal uang belaka, tetapi lebih kepada rasa nasionalisme.

Jika Bung Karno masih hidup saat ini, tentu saja ia akan marah besar konser-konser musik barat yang ia sebut musik ngak ngik ngok lebih spektakuler dibandingkan pementasan-pementasan musik dalam negeri sendiri. Apalagi seorang Soekarnois semacam Joko Widodo juga menjadi penggemar beratnya. 

Hhh... Zaman sudah berganti. Nasionalisme tentu saja tidak melulu harus diartikan anti musik barat bukan? Tapi tentu saja kewajiban kita bersama untuk bisa tetap mengedepankan musik-musik tradisional dan negeri sendiri sehingga ia bisa dihargai tak berbeda dengan mereka yang dari luar. Saya yakin sebagian besar dari kita sudah paham akan hal ini. Semoga.

Dan kalau saya minta maaf kepada Bung Karno karena menggemari Metallica saat ini, mungkin Bung Karno sudah bisa mengerti dan memaafkan. Atau mungkin bisa jadi sebaliknya dan kemudian ia berkata : "You are The Unforgiven", seperti salah satu lagu Metallica favorit saya. Hehehe. Salam Metal!!! []

Jakarta, Agustus 2013

0 comments:

Post a Comment