Thursday, July 25, 2013

Gamelan beleganjur dengan tempo cepat berulang membahana seperti menembus jauh ke angkasa. Ibu-ibu mulai menata banten maupun canang sari di meja utama dan bale pawedaan ketika sang pedanda mulai melantunkan mantra-mantra suci membuka upacara. Harum asap dupa semerbak memenuhi pura. Warna-warni kain dan hiasan pada bangunan-bangunan pelinggih pura menambah semarak di pagi yang sejuk ini. 

Di beberapa sudut, para sanak saudara duduk membentuk kelompok-kelompok kecil menunggu ambil bagian dalam prosesi upacara. Anak-anak bermain ke sana kemari, yang mana sesekali diingatkan oleh orang-orang dewasa. Sementara di bale dauh -rumah bagian barat-, yang berada di luar area pura, para pemangku pura di desa serta klian atau ketua adat duduk bersila menyaksikan jalannya upacara. 

Menjelang siang cuaca tak bertambah panas. Hujan yang mengguyur semalam masih menyisakan mendung. Sepertinya nyala api sang juru terang (pawang hujan) keluarga telah direstui ketika memohon alam untuk tetap bersahabat pada pelaksanaan upacara ini.

Ida Pedanda Gede Putra Abiyan Griya Manduang yang Memimpin Upacara Pecaruan
Searah Jarum Jam : Ngayabang Banten Caru; Meletakkan Berbagai Sarana; Mengusung Perlengkapan Upacara; Kesibukan di Pura Mempersiapkan Upacara 
Hari ini, Saniscara Kliwon Wayang Tahun 1935 Saka atau yang jatuh pada Sabtu 20 Juli Tahun 2013 Masehi adalah hari dilaksanakannya Upacara Mecaru Rsi Gana di pura dadia atau pura keluarga besar saya : Pura Dadia Arya Keloping, Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Klungkung, Bali. Dipimpin oleh Ida Pedanda Gede Putra Abiyan Griya Manduang, Upacara Mecaru Rsi Gana ini adalah upacara yang ditujukan untuk mengharmoniskan pura dadia, menghilangkan hal-hal yang kurang baik secara sekala (fisik) maupun niskala (bukan fisik). 

Alasan khusus dilaksanakannya upacara ini adalah telah berakhirnya pemugaran pada bangunan-bangunan pura. Atau dengan kata lain, upacara ini ibaratnya peresmian akan pemugaran berbagai bangunan maupun ornamen pura yang telah dilakukan beberapa bulan dan beberapa tahun sebelumnya. Artinya, ke depannya tidak disarankan kembali untuk melakukan pemugaran atau perbaikan-perbaikan dalam skala yang besar di pura ini. Dalam masyarakat Hindu Bali, melakukan pemugaran tempat-tempat suci tidak boleh dilakukan sembarangan. Ada berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan. 

* * *

Jauh beberapa bulan sebelum upacara ini dilaksanakan, beberapa tokoh dari keluarga besar saya berupaya mencari dewasa atau hari baik. Para tokoh keluarga mulai melakukan perhitungan astronomi dan membaca perpaduan penanggalan Bali. Para tokoh keluarga ini juga memohon restu dan pertimbangan kepada Ida Pedanda Nyoman Gelgel Griya Bendul yang menjadi sasuhunan keluarga besar saya. Kemudian, karena sang pedanda saat hari yang ditentukan ternyata didaulat untuk bertugas memimpin upacara di Pura Besakih, maka pemimpin upacara di pura dadia saya ini digantikan oleh ida pedanda yang lain -Ida Pedanda Gede Putra Abiyan Griya Manduang-. 

Berbagai persiapan pun dilakukan untuk menyambut Upacara Mecaru Rsi Gana ini. Para wanita jauh-jauh hari sudah mejejahitan merangkai janur-janur untuk sarana upacara. Sedangkan para lelaki mulai menyiapkan perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan.

Sampai akhirnya tiba waktunya sehari sebelum puncak acara, sanak saudara yang hubungan kekerabatannya lebih jauh diundang untuk datang membantu. Para lelaki mebat membuat lawar dan sate, baik untuk dimakan maupun yang digunakan untuk keperluan upacara. Sedangkan para wanita melanjutkan pembuatan banten dan sarana-sarana upacara. Saya sangat menyukai jika ada kegiatan-kegiatan adat Bali dalam ruang lingkup keluarga seperti ini, karena di saat-saat seperti ini lah seluruh keluarga besar saya bisa berkumpul bergotong royong bekerja menyiapkan upacara.

Mebat Mempersiapkan Bumbu
Megibung
Searah Jarum Jam : Mebat Mempersiapkan Makanan; Metanding Lawar; Menyiapkan Ayam untuk Dipanggang; Megibung dalam Kelompok Kecil

Layaknya kegiatan-kegiatan masyarakat Bali pada umumnya, para lelakilah yang melakukan kegiatan memasak. Biasanya kegiatan memasak ini bukanlah syarat wajib, melainkan sebagai bentuk syukur perayaan upacara itu sendiri. Kalau diibaratkan di zaman modern sekarang, mebat membuat makanan sebenarnya tak berbeda jauh dengan acara resepsi. Perbedaannya : kalau resepsi, sang tamu undangan tinggal datang dan makan; sedangkan kalau mebat dalam undangan adat Bali, sang tamu datang dan ikut menyiapkan membuat makanan, baru kemudian makan. Maka, saya pun bergabung bersama para sepupu dan para paman, mebat meracik bumbu-bumbu di sore dan malam hari untuk kemudian di pagi hari dilanjutkan dengan mebat membuat lawar dan sate. 

Menjelang tengah hari, makanan-makanan khas Bali ini pun sudah siap dinikmati. Sebelum dinikmati bersama oleh para pembuatnya, makanan-makanan ini dipisahkan dengan wadah daun kelapa untuk nantinya dibagikan kepada seluruh sanak saudara ke rumahnya masing-masing. Juga dibagikan kepada para tetangga sebagai pertanda kami sekeluarga sedang mengadakan kegiatan upacara. Kemudian, barulah acara megibung atau makan bersama dilakukan. Kami duduk bersila, masing-masing membentuk kelompok kecil yang terdiri dari empat orang mengelilingi makanan dalam satu wadah nampan anyaman bambu beralaskan daun pisang dan ayaman daun kelapa. Kami makan bersamaan, tanpa ada piring, sendok, atau pun garpu. Hanya air mineral dalam gelas kemasan dan mangkuk-mangkuk plastik tempat makanan berkuah sebagai peralatan masa kini yang digunakan untuk makan.

Para Wanita Menyiapkan Kue dan Berbagai Jejahitan dari Janur
Di tempat lain, para wanita makan dengan menggunakan piring dari anyaman bambu beralaskan kertas yang disebut ingka. Mereka tidak ikut megibung bersama para lelaki. Makanan-makanan yang dibuat oleh para lelaki sebelumnya sudah dipisahkan juga untuk dinikmati juga oleh para wanita. Selama ini yang saya ketahui, tradisi megibung lebih sering dilakukan oleh para lelaki saja.

Usai makan bersama, kegiatan mempersiapkan sarana upacara pun dilanjutkan lagi sampai lewat tengah hari. Para undangan dipersilahkan pulang, sedangkan para keluarga inti masih mengecek berbagai hal sekiranya ada yang kurang. Dan ketika senja telah beranjak malam, bukan berarti persiapan upacara sudah selesai sama sekali. Ada saja beberapa hal kecil yang terlupa dan kami pun masih tetap sibuk.

* * *

Akhirnya, tibalah di hari pelaksanaan upacara. Sabtu pagi itu, sekeha (kelompok) gong dari desa kami memainkan gamelan sepanjang upacara. Para klian atau ketua adat serta pemangku pura-pura utama di desa tempat pura dadia kami berdiri ini diundang sebagai saksi jalannya upacara. Dan yang pasti, juga hampir seluruh keluarga besar saya hadir. 

Menyiapkan Ayam Aduan Sebagai Sarana dalam Upacara
Searah Jarum Jam : Menyalakan Lilin dan Canang di Sudut-sudut Bangunan; Memasang Kain yang Telah Dirajah; Memendam Pedagingan Sarana Upacara; Melakukan Perbaikan Bangunan Secara Simbolik
Sebagai orang Bali, kami sekeluarga dipersatukan oleh pura dadia ini, pura yang merupakan pusat keluarga yang diwarisi dari satu orang tertinggi yang menurunkan seluruh keluarga saya sebagai satu klan, klan Arya Keloping. Sejarah perjalanan leluhur saya tercatat di pura dadia ini, Pura Dadia Arya Keloping Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa. Walaupun beberapa dari generasi sekarang ini sudah banyak yang tinggal di Denpasar, Tabanan, maupun sampai ke Lombok, Jawa, dan Sumatera, tetapi ikatan terhadap pura dadia ini tak pernah surut. Sangat pantang bagi saya dan orang-orang Bali pada umumnya melupakan leluhur dan asal-usul diri.

Menengok kembali ke masa silam, dahulu kala setelah masa ekspansi Majapahit ke Bali di abad ke-14, adalah salah satu orang prajurit Majapahit yang bernama Arya Kepakisan turut serta dari Jawa ke Bali. Salah satu putranya yaitu Arya Keloping memiliki keturunan sampai akhirnya menyebar ke berbagai daerah di Bali yang saat ini salah satunya berlokasi di Desa Tohjiwa, Sidemen, Karangasem. Kemudian ketika masa peperangan antara Kerajaan Klungkung dengan Kerajaan Karangasem yang menyebabkan Desa Tohjiwa ini jatuh ke tangan Karangasem, maka salah satu keturunan dari Arya Keloping ini yang tak sudi tunduk pada kekuasaan Karangasem bermigrasi ke wilayah Klungkung yang sekarang bernama Desa Besang Kawan. Keturunan dari Arya Keloping yang bermigrasi ke Besang Kawan inilah yang kemudian menurunkan saya dan seluruh keluarga besar saya. Di tempat yang pertama kali ditempati di Klungkung inilah kemudian pura dadia ini didirikan sebagai pertanda leluhur saya menempati daerah baru waktu itu sampai sekarang ini.

Searah Jarum Jam : Salah Satu Banten Caru; Membakar Bambu dalam Prosesi Upacara; Babi Guling Sebagai Salah Satu Isi Banten; Banten Caru Utama dengan Ayam Aduan yang Telah Dipotong
Selain dihadiri oleh keluarga besar saya dari keturunan Arya Keloping di Desa Besang Kawan Tohjiwa sebagai keluarga inti, hadir pula sanak saudara lain yang ikatannya lebih di luar. Mereka ini antara lain adalah keluarga asal dari nenek-nenek kami serta keluarga suami dari saudara-saudara perempuan kami yang telah menikah. Masyarakat Bali menganut sistem kekeluargaan patrilineal, yang mana garis keturunannya adalah laki-laki. Maka tak heran jika para perempuan dari keluarga kami yang telah menikah sudah tidak lagi menjadi bagian dari keluarga inti, melainkan ia akan menjadi bagian keluarga inti dari keluarga suaminya. Memang, begitulah adat kami.

* * *

Ketika sang pedanda sudah duduk di balai utama, kain-kain putih dengan rajah atau lukisan simbol penuh makna mulai dipasang di setiap bangunan pelinggih pura. Proses penyucian dimulai. Suara genta berdenting mengalun di udara. Sementara di luar pura, sekeha gong memainkan gamelan beleganjur menambah khidmat prosesi upacara. Undangan yang terdiri dari para pemangku pura desa didaulat untuk melakukan perbaikan bangunan secara simbolik, dilanjutkan kemudian dengan memendam isi upacara di dalam tanah di belakang masing-masing bangunan. Setelah itu, ayam brumbun sebagai sarana diadu dan dipotong dibarengi dengan pembakaran bambu sebagai simbol dilaksanakannya upacara. Kemudian perlengkapan-perlengkapan upacara ini pun diarak keliling pura sebanyak tiga kali. Dan yang terakhir, upacara ditutup dengan berdoa bersama memanjatkan syukur ke hadapan Hyang Widhi maha tunggal sang alam semesta raya serta juga kepada para leluhur kami di alam keabadian.

Membagikan Bunga untuk Persembahyangan
Natab, Salah Satu Prosesi Sebelum Persembahyangan Dimulai
Waktu telah lewat tengah hari. Upacara inti sudah terlewati. Nasi dalam kotak yang menjadi menu makan kami bersama terasa begitu nikmat. Saya merasa terharu bahwa seluruh keluarga besar saya bisa berkumpul bersama di pura dadia ini. Bahkan, seluruhnya diberdayakan dalam prosesi upacara karena memang mebutuhkan jumlah tenaga yang banyak. Yang tua dan yang muda berbaur menjadi satu. Mulai dari ikut menjalani kegiatan upacara inti, sampai dengan membantu menyiapkan kopi maupun membawakan makanan pada para tamu undangan. Wajah-wajah bersemangat dan gembira terpancar dari mereka. Dari semuanya yang hadir, selain anak-anak yang tak banyak mengambil peran dalam prosesi upacara, juga adalah saya yang memang memutuskan untuk mendokumentasikan upacara mecaru ini dalam jepretan-jepretan kamera.

Berbagai perlengkapan yang digunakan dalam upacara mecaru ini pun pada akhirnya kemudian dilarung ke  Sungai Tukad Yeh Jinah yang nantinya hanyut menuju laut. Laut bagi orang Bali merupakan tempat berakhirnya segala kekotoran. Dua mobil pick up membawa sisa sarana-sarana upacara mecaru ini untuk selanjutnya dihanyutkan.

Maka usai sudah Upacara Mecaru Rsi Gana ini. Hiasan-hiasan di pura dadia saya ini akan tetap terpasang selama seminggu ke depan sampai hari upacara piodalan, hari peringatan kelahiran keluarga kami. Memang dewasa atau hari baik mecaru ini hanya berjarak satu minggu dengan piodalannya. Selama seminggu itu, hanya ada upacara ngetelunin atau upacara tiga hari serta persembahyangan biasa di sore hari. Dan dengan berakhirnya upacara ini yang bisa saya katakan berlangsung sukses dan meriah, maka kembali bersih lah pura dadia kami yang telah mengalami beberapa kali pemugaran. []

Klungkung, Juli 2013

0 comments:

Post a Comment