Wednesday, July 17, 2013

Siang kala bulan puasa ini cukup terik di sepanjang Jalan Menteng Raya Jakarta. Lalu-lalang kendaraan ramai melintas. Saya mulai melangkahkan kaki memasuki pelataran Museum Joeang 45 atau lebih dikenal dengan Gedung Joeang 45 yang sudah ramai dipenuhi oleh para anggota Komunitas Historia Indonesia (KHI) yang akan melakukan heritage trails di kawasan Cikini ini, kawasan yang sejak zaman Belanda merupakan salah satu kawasan pelesiran dan pusat perbelanjaan. Di kawasan Cikini ini pula membentang tanah yang dulu dimiliki oleh Raden Saleh, seniman lukis kenamaan dunia yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Mungkin sebagian besar warga yang sehari-hari melintas di tempat ini tak sadar bahwa Cikini menyuguhkan remah-remah sejarah penting masa lalu Jakarta yang beberapa bagiannya masih tersisa sampai kini.
Di Kawasan Cikini
Setelah menyelesaikan registrasi keikutsertaan kegiatan, saya bersama rekan-rekan KHI menonton film pendek tentang sejarah berdirinya Gedung Joeang 45 di sebuah ruangan. Gedung Joeang 45 ini awalnya adalah sebuah hotel yang didirikan oleh L. C Shomper, seorang pengusaha berkebangsaan Belanda yang tinggal lama di Batavia. Konon, hotel inilah yang terkenal kala itu. Dengan bangunan utama berdiri di tengah-tengah, deretan kamar-kamar untuk penginapan berbaris rapi di sisi kiri dan kanannya. Ketika kemudian Jepang masuk mengusai Batavia, maka hotel ini dikuasai oleh para pemuda Indonesia yang digunakan sebagai pusat pergerakan. Di tempat inilah pendidikan-pendidikan politik yang diakomodasi oleh Jepang dimanfaatkan oleh para pemuda untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Gedung Joang 45
Menonton Film Pendek tentang Kisah Gedung Joang 45
Usai menonton film pendek kurang lebih selama lima belas menit ini, kami pun mulai menyusuri isi Gedung Joeang 45. Ada banyak koleksi yang dipamerkan di museum ini untuk mengambarkan jejak-jejak perjalanan perjuangan kemerdekaan. Yang paling menonjol dari koleksi-koleksi tersebut adalah patung-patung sebatas dada dari para tokoh pemuda serta mobil-mobil dinas presiden serta wakil presiden Indonesia yang pertama. Selain itu ada pula mobil yang menjadi saksi bisu sejarah upaya pembunuhan Presiden Soekarno di Cikini.

Dari Gedung Joang 45, kami memulai perjalanan menempuh Jalan Raya Menteng menuju Jalan Raya Cikini. Titik pertama yang kami tuju adalah Kantor Pos Cikini atau dulu disebut sebagai Tjikini Post Kantoor. Letaknya tepat di tepi pertigaan Jalan Cikini, Jalan Kalipasir, dan Jl Gondangdia dengan penanda yang sangat jelas. Kantor ini dulu didirikan sebagai kantor yang khusus menyediakan prangko sebagai perlengakapan dalam hal surat-menyurat. Satu hal yang selalu menggangu ketika mengunjungi rumah-rumah atau bangunan cagar budaya adalah saat mencoba untuk memotretnya secara keseluruhan. Pasti ada saja benda-benda lain yang tidak mendukung diletakkan seenaknya maupun kabel-kabel listrik yang berseliweran mengganggu pemandangan. Tapi mau apa lagi, memang beginilah kondisi penghargaan sebagian besar dari kita pada tata letak barang serta cita rasa akan arsitektur bangunan.

Kantor Pos Cikini
Setelah Kantor Pos Cikini, kami pun menyusuri pertokoan Cikini. Saya seperti terlempar ke masa lalu berjalan di sepanjang jalan ini. Suasananya sangat terasa masa lalu dan jadul. Tentu ada banyak meneer dan mevrouw yang berjalan-jalan di sini mengisi akhir pekan di akhir abad ke-20 lalu. Salah satu tempat yang kami kunjungi di sepanjang jalan ini adalah Toko Roti Tan Ek Tjoan. Toko roti ini adalah toko roti tertua di Jakarta yang masih berdiri sampai saat ini yang sekarang dikelola oleh generasi tan Ek Tjoan yang ketiga. Awalnya didirikan di Jalan Siliwangi Bogor pada tahun 1953 sampai kemudian ia pindah ke Cikini pada tahun 1956. Toko sekaligus tempat berproduksi rotinya ini tepatnya terletak di Jalan Raya Cikini Nomor 61, berhadap-hadapan dengan sebuah gerai roti baru modern Cheese Cake Factory seolah memperlihatkan bahwa ia masih tetap tegak berdiri tanpa takut digilas oleh zaman. Karena ini adalah bulan puasa, nanti di penghujung acara saya bisa menikmati rotinya yang terasa gurih saat ikut berbuka puasa di Masjid Jami Cikini Al Ma'mur yang juga merupakan sebuah masjid bersejarah.

Toko Roti Tan Ek Tjoan yang Berdampingan dengan Cheese Cake Factory
Roti dan Peralatan pembuat Roti di Toko Roti Tan Ek Tjoan
Berjalan lagi tak jauh dari Toko Roti Tan Ek Tjoen, tepatnya di Jalan Cikini Raya Nomor 73, kami sampai di Taman Ismail Marzuki (TIM). Di waktu-waktu senggang, biasanya saya suka berkunjung ke TIM hanya sekedar untuk duduk-duduk di pelataran toko bukunya sambil minum kopi atau mungkin menonton pertunjukan teater. Jika kita pernah berkunjung ke Kebun Binatang Ragunan, maka Taman Ismail Marzuki ini lah asal muasalnya. Ya, dulu di zaman Belanda, Taman Ismail Marzuki adalah kebun binatang sekaligus taman kota yang dimiliki oleh Raden Saleh. Kebun binatang ini barulah dipindahkan ke Ragunan pada tahun 1968 oleh pemerintah DKI Jakarta karena koleksinya yang bertambah banyak serta pertimbangan kesehatan warga masyarakat sekitar kala itu.
 
Taman Ismail Marzuki
Tak lama kami berhenti di Taman Ismail Marzuki. Kami melanjutkan perjalanan beberapa ratus meter menuju SMP N 1 Jakarta. Pertama kali melihat bangunan gedung SMP pertama di Jakarta ini saja kita sebenarnya sudah bisa menyimpulkan bahwa gedung ini adalah gedung bersejarah. Sebuah tulisan Eerste School D tertulis jelas di depan pintu masuk gedung. Gedung ini dulu adalah gedung sekolah untuk para bumi putera di Batavia. Tanggung jawab Belanda akan pelaksanaan politik etis di negeri jajahan menyebabkan didirikannya sekolah ini untuk rakyat. Sekolah inilah yang juga sangat berperan melahirkan anak-anak bumi putera bisa mengenyam pendidikan secara layak di zamannya untuk berpikir maju. 

SMP N 1 Jakarta
Selepas beristirahat di dalam Gedung SMP N 1 Jakarta yang hijau sambil menunggu rekan-rekan saya yang muslim menjalankan sholat azar, kami pun bergerak lagi. Kali ini tujuannya adalah Yayasan Perguruan Cikini di Jalan Cikini Raya Nomor 74-76 Jakarta, saksi biksu akan percobaan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno. Seperti yang dituturkan oleh Cindy Adams dalam buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, malam itu tanggal 30 November 1957, jarum jam mengarah pada angka 08:55. Presiden Soekarno turun dari tangga di lantai dua, tempat keramaian berlangsung. Ia tengah menghadiri malam amal tempat kedua anaknya bersekolah di situ, Guntur Sukarnoputera dan Megawati Sukarnoputeri.

“Dengan hati yang gembira, aku mempermainkan rambut seorang anak yang berjalan di samping kiriku dan mendekap anak yang melekat ke kaki kananku. Ketika kami sampai di luar, pintu kendaraanku terbuka, disusul oleh tanda keberangkatan Presiden. Komandan Pasukan Pengiring berteriak memberikan aba-aba, ‘Hormat...!’  Inilah aba-aba yang mahal sekali. Dalam satu detik yang membelah suasana, di kala sesuatu dan setiap orang berhenti guna menyampaikan penghormatan, di saat hening demikian itu, meledak granat pertama.” Percobaan pembunuhan terhadap Soekarno tengah terjadi. Granat lain meledak dari sebelah kiri dan kanan gedung. Granat keempat dilempar dari seberang jalan. Tapi sang proklamator tetap selamat.

Perguruan Cikini
Dari Yayasan Perguruan Cikini, kami melanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Raden Saleh. Gedung-gedung perkantoran, hotel, rumah sakit, maupun rumah makan yang sebagian besar merupakan bangunan-bangunan tua hampir semuanya menggunakan kosa kata Raden Saleh dalam namanya. Selain karena jalannya yang bernama Jalan Raden Saleh, kawasan ini juga merupakan kawasan yang dulu dimilki oleh Raden Saleh. Kediamannya yang megah juga berada di daerah ini. Orang-orang lebih sering menyebut rumahnya sebagai Istana Raden Saleh.

Saat ini, kediaman Raden Saleh berada di dalam kompleks Rumah Sakit PGI Cikini. Saya cukup kaget masuk ke dalam kawasan rumah sakit karena ternyata di dalamnya rumah kediaman Raden Saleh ini sangat indah. Rasanya seperti istana yang tersembunyi saja. Usia rumah ini kurang lebih 150 tahun dengan arsitektur yang meniru istana Callenburg di Jerman. Dokter Rosie yang merupakan Kepala Bidang Hubungan Masyarakat rumah sakit ini menyambut kami di dalam rumah sambil menceritakan kisah bagaimana Istana Raden Saleh ini menjadi milik Rumah Sakit PGI Cikini. Walaupun sudah menjadi bagian dari Rumah Sakit PGI Cikini, rumah Raden Saleh ini telah terdaftar ke dalam bangunan cagar budaya yang dilindungi.

Istana Raden Saleh
Ketika magrib menjelang, kami pun bergerak lagi ke tujuan terakhir yaitu ke Masjid Jami Cikini Al Ma'mur. Masjid ini juga adalah masjid yang didirikan oleh Raden Saleh. Dulu masjid ini berlokasi di dekat rumahnya ini. Karena telah dimiliki oleh RS PGI Cikini, maka masjid ini kemudian dipindahkan. Corak bangunan dan arsitekturnya tidak diubah untuk menjaga keasliannya. Sambil ikut berbuka puasa dengan teh manis dan roti produksi Tan Ek Tjoan, saya pun duduk melepas lelah di pelataran masjid sambil mendengarkan sambutan dari pengurus masjid yang menyambut kami. Usai sudah perjalanan penyusuran tempat-tempat bersejarah kami di Cikini ini.

Buka Puasa Sambil Medengarkan Sambutan di Masjid Jami Cikini Al Ma'mur
Kisah masa lalu selalu menarik. Dalam misterinya ia mengajarkan kita untuk selalu belajar tentang awal kita berpijak menyusuri lorong-lorong waktu. Seiring kerlap-kerlip lampu kendaraan yang lalu-lalang, Cikini seolah memberikan sapa menyampaikan potongan-potongan kisah yang telah lewat di ibu kota. Ia seperti bergeliat berjuang tertatih mempertahankan nostalgia di antara hiruk pikuk kehidupan metropolitan. []

Jakarta, Juli 2013

0 comments:

Post a Comment