Tuesday, December 27, 2011

Jauh hari sebelumnya saya memang diajak untuk berwisata ke Pangandaran untuk mengisi kegiatan liburan Natal. Mengunjungi salah satu tempatnya yang sering disebut oleh orang-orang sebagai Green Canyon dari Indonesia alias Cukang Taneuh. Dalam pikiran saya sebelum ke Pangandaran, sepertinya tempat itu biasa saja, yaitu hanya sebuah wilayah terpencil di pesisir selatan Jawa Barat. Tapi buktinya tidak. Pangandaran ternyata relatif lebih baik dan maju dalam mengelola wisata dibandingkan wilayah-wilayah pesisir lain di Jawa Barat yang pernah saya kunjungi.

Cukang Taneuh, Tempat favorit di Pangandaran

Setelah melalui perjalanan malam dengan kendaraan pribadi yang hanya sempat sekali berhenti istirahat di Banjar, akhirnya pagi itu saya tiba di Pantai Pangandaran. Bersama Mita, Doni, Wayan, serta Krisna dan Rudi yang bertugas sebagai sopir bergantian. Sebagian besar dari kami mengantuk karena kurang cukup beristirahat selama 8 jam perjalanan dari Jakarta. Tapi menjadi cukup menyegarkan ketika pagi itu suasana pantai terlihat di depan mata dan semangkuk bubur ayam menjadi menu sarapan kami di dekat pertigaan utama di pantai barat Pangandaran.

Tiba di Pangandaran

Pantai pangandaran sendiri relatif biasa saja menurut saya. Warung-warung dengan atapnya yang berwarna-warni berdiri di sepanjang pantai menghilangkan kesan alami pantai itu sendiri. Pasirnya hitam dan cukup kotor. Tempat-tempat duduk dari bambu yang kesannya tidak begitu sedap dipandang serta perahu-perahu yang parkir dan beberapa orang serta motor yang lalu-lalang menambah kesan semrawut. Ya, begitulah sedikit sambutan awal di pantai ini.

Sambutan Awal di Pantai Barat Pangandaran

Usai sarapan dan bersih-bersih di kamar-kamar mandi sewaan yang banyak berdiri di pinggir jalan, kami akhirnya memutuskan untuk langsung menuju ke Cukang Taneuh. Perhitungan saya adalah makin pagi makin baik. Alasan dan pertimbangannya tentu saja adalah karena cuaca. Kami mengunjungi Pangandaran di Bulan Desember yang notabene adalah musim penghujan, jadi biasanya mendung dan hujan mulai turun jika sudah lewat tengah hari. Dan air Sungai Cijulang sendiri sebagai tempat Cukang Taneuh akan tidak keruh jika hujan tidak turun. Jika hujan lebat turun dan berkepanjangan, kawasan wisata ini malah akan ditutup untuk umum karena ketinggian air akan naik secara signifikan.

Dari kawasan Pantai Barat pangandaran, jarak menuju Cukang Taneuh ternyata masih jauh. Sopir kami kali ini adalah Wayan. Kurang lebih ditempuh selama satu jam perjalanan. Melewati jalan tepian pantai yang banyak dipenuhi oleh penginapan, kemudian pantai yang cukup sepi, serta perumahan-perumahan penduduk. Ada banyak petunjuk ke arah ketinggian di tepi-tepi jalan. Petunjuk arah menyelamatkan diri jika terjadi gempa dan tsunami. Memang, kawasan Pangandaran adalah kawasan yang sangat rentan dilanda tsunami jika terjadi gempa di kawasan pantai selatan Jawa. Di jalur menuju Cukang taneuh ini kita akan menemui pintu masuk ke arah Pantai Batu Hiu -salah satu pantai wisata Pangandaran- serta bandar udara Nusawiru, bandar udara yang melayani penerbangan dari Pangandaran ke Cilacap, Jakarta, atau Bandung. Menjelang tiba di kawasan wisata Cukang Taneuh, muara Sungai Cijulang dengan airnya yang menghijau kami lewati beberapa kali, mirip seperti rawa-rawa.

Cukang Taneuh, Green Canyon dari Indonesia

Sebagai tempat wisata terfavorit di Pangandaran, Cukang Taneuh sangatlah ramai di pagi ini. Tempat parkir kendaraan pengunjung cukup luas. Petugas-petugas parkir cukup ramah dan cekatan dalam mengatur kendaraan yang keluar masuk, sepertinya mereka memang sudah terlatih bagaimana mengelola sebuah tempat wisata. Warung-warung makan, suvenir, pakaian, maupun kamar-kamar mandi berdiri di tepian lapangan parkir. Pedagang-pedagang makanan kecil menawarkan berbagai dagangannya. Juga beberapa orang yang menawarkan paket body rafting, sebuah wisata mengarungi jeram-jeram hanya dengan pelampung badan di Sungai Citumang, sebuah sungai lain di kawasan Pangandaran. Tetapi kami memutuskan untuk tidak berwisata body rafting ini.

Pemandangan di dalam Cukang Taneuh (Green Canyon)

Di pintu masuk Sungai Cijulang, tiket untuk menyusuri Sungai Cijulang sampai Cukang Taneuh sudah diatur dengan rapi. Perahu-perahu terparkir dengan rapi dan akan melayani pengunjung sesuai giliran. Satu perahu ditetapkan hanya untuk 5 - 6 penumpang. Harga tiket sudah ditetapkan untuk satu jam penyusuran plus guide sehingga tidak ada lagi mark up harga yang merugikan pengunjung, kecuali untuk tambahan tips atau tawar-menawar jika ingin lebih lama di lokasi. Jadi pendapat saya untuk pengelolaan administrasi wisata Cukang Taneuh ini : perfect. Dan ini patut ditiru oleh tempat-tempat wisata lain yang pengelolaannya masih amburadul.

Titik Awal di Tepian Sungai Cijulang untuk Menuju Cukang Taneuh

Perahu menyusuri sungai yang airnya tenang. Warna air hijau toska. Sisi kanan dan kiri sungai di beberapa puluh meter pertama adalah kawasan ladang penduduk. Kemudian setelah melewati jembatan besi yang melintang, kawasannya sudah memasuki hutan alami. Rintik-rintik air berjatuhan dari tebing-tebing tepi sungai. Sampai akhirnya kami tiba di sebuah tempat parkir perahu yang tepiannya sudah ditata permanen. Beberapa meter ke hulu perahu masih bisa mengarungi sungai. Air-air yang bergemericik seperti hujan mulai bertambah banyak berjatuhan dari tebing-tebing yang tinggi menjulang di atas yang membentuk gua-gua dan jembatan alami. Ya itu sesuai dengan namanya, yaitu Cukang Taneuh merupakan kata sunda berarti jembatan tanah. Cukang Taneuh ini juga lebih dikenal dengan Green Canyon yang diberikan oleh seorang wisatawan Perancis karena katanya tebing-tebing di kawasan Cukang Taneuh ini mirip dengan Green Canyon di Colorado Amerika.

Menuju Cukang Taneuh

Selanjutnya kami harus menggunakan pelampung untuk menjelajah lebih jauh ke hulu. Beberapa bagian di tepi sungai bisa dilalui dengan berjalan kaki menyusuri bebatuan. Di sini kita harus berhati-hati karena bebatuannya banyak yang tajam. Selebihnya kita harus berenang melawan arus. Kedalaman sungai ini menurut guide yang mengantarkan saya adalah antara 5 - 10 meter. Di salah satu sisi sungai di beberapa meter awal jalur berenang, terpasang tali yang panjangnya kurang lebih 10 meter yang bisa digunakan untuk berpegangan. Menurut saya, tali ini memang membantu tetapi membuat tidak enak dipandang. Selain berenang, kegiatan yang sangat digemari di Cukang Taneuh ini adalah melompat dari ketinggian. Dari tepian tebing yang tinggi dan bisa dinaiki, banyak pengunjung yang melompat secara bergantian. Saya yang malam sebelumnya kurang berisitirahat merasakan fisik sangat berpengaruh sekali ketika harus bermain air dalam waktu yang cukup lama.

Gemericik Air di Cukang Taneuh

Berenang dan Bermain Air

Akhirnya setelah kurang lebih satu jam bermain-main air, kami pun memutuskan untuk kembali. Di perjalanan, tukang merahu menceritakan bahwa hutan di sungai ini harus mereka jaga karena itulah yang menjaga Sungai Cijulang tetap lestari dan wisatawan akan tetap menjadikannya tempat favorit. Saya pikir itu memang masuk akal dan sangat bagus. Kesadaran masyarakat akan potensi daerahnya dan keterkaitannya dengan kelestarian lingkungan. Dan memang, di akhir pekan ini ketika kami menuju ke tempat awal kami menaiki perahu, puluhan perahu berpapasan dengan kami menuju Cukang Taneuh. Ini artinya pendapatan yang masuk untuk daerah ini sangatlah besar.

Pantai Batu Karas

Usai mandi dan makan siang di salah satu warung sea food tepian tempat parkir kendaraan Cukang Taneuh, kami pun melanjutkan perjalanan. Kali ini tujuannya adalah Pantai Batu Karas. Menyeberangi jembatan besi yang tadi di bawahnya kami melewatinya dengan perahu, mobil kami pun menyusuri jalanan ke arah timur. Sungai Cijulang ada di sisi kiri perjalanan kami. Di sebuah pertigaan, kami berbelok ke kanan. Target kami adalah menemukan saung atau warung yang bisa digunakan untuk beristirahat total alias tidur. Kami semua mengantuk, lelah, dan semangat mengeksplor pantai berkurang. Perjalanan semalam dan bermain air di Cukang Taneuh membuat istirahat kami tidak cukup.

Di sebuah warung kami berhenti. Lokasinya tidaklah begitu indah. Malah dugaan saya yang mengatakan Pantai Batu Karas adalah pantai yang indah melenceng. Saya dan teman-teman akhirnya memilih tidur-tiduran saja. Saya dan Rudi tiduran di kursi mobil. Doni tiduran di sebuah pelataran semen di dekat warung. Mita duduk-duduk melihat laut. Sementara Wayan dan Krisna hunting foto. Sampai beberapa jam kemudian kami semua berkumpul di warung tersebut menikmati seruputan kopi, rokok, dan kudapan. Sementara di tengah laut terlihat ada wisatawan yang menikmati permainan banana boat.

Kurang lebih dua jam kami di tempat ini, kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Pantai Batu karas masih membuat kami penasaran. Jalanan menanjak yang ujungnya terlihat sepi di dekat kami ternyata merupakan tipuan untuk kami. Di balik tanjakan itulah ada banyak penginapan dan kawasan Pantai Batu Karas yang sebenarnya. Kondisinya tentu jauh lebih baik dari tempat kami istirahat sebelumnya. Tempat parkirnya juga luas. tapi apa daya, karena kami sudah menghabiskan waktu beberapa jam di tempat sebelumnya, kami pun hanya berputar-putar untuk melepaskan pandangan mata beberapa menit di tempat ini.

Pantai Batu Hiu yang Mirip Tanah Lot

Tujuan berikutnya adalah Pantai Batu Hiu. Jarak garis pantai dari Batu Karas ke Batu Hiu kurang lebih 5 kilometer. Perjalanannya mengarah kembali ke Pangandaran. Pantai Batu Hiu ini terbagi menjadi tiga kawasan. Kawasan pantai di sebelah timur dan sebelah barat yang berupa pantai berpasir hitam, serta kawasan Bukit Batu Hiu yang memisahkan keduanya.

Salah Satu Sudut Pandang di Pantai Batu Hiu

Kami memarkir mobil di kawasan pantai sebelah timur. Pantai dengan ombak besar serta angin cukup kencang bertiup di hari yang sudah menjelang senja, mencirikan suasana pantai selatan Jawa. Kayu-kayu mati, buah kelapa tua, dan dedaunan kering terbengkalai di pesisir pantai. Semak-semak tampak menghijau berkelompok di beberapa titik. Sebuah bangunan rusak korban tsunami beberapa tahun lalu berdiri di batas pasir. Sementara tak jauh dari bangunan itu sebuah truk pasir parkir menunggu seseorang yang mengangkuti pasir ke dalamnya.

Di dekat Bukit Batu Hiu, batu-batu karang berdiri kokoh digempur oleh ombak. Saya sempat menaikinya untuk sekedar melihat-lihat keadaan. Tak ada jalan untuk naik ke bukit di atasnya dari bebatuan karang ini. Saya harus berjalan memutar.

Untuk menuju Bukit Batu Hiu, kami harus kembali ke jalan. Pintu masuknya ada di dekat jalan. Sebuah pintu gerbang bertuliskan Selamat Datang di Objek Wisata Batu Hiu menyambut kami menyusuri tangga dan jalan yang menanjak. Pepohonan pandan pantai dan rumput mendominasi kawasan Bukit batu Hiu ini. Beberapa saung permanen berdiri di beberapa titik. Seharusnya tadi siang kami berisitirahat di sini saja. Tempatnya sungguh nyaman dan menggoda.

Pantai Batu Hiu, Pantai dengan Batu Karang yang Terjal

Di dekat laut, tebing-tebingnya curam. Tidak begitu tinggi seperti kawasan Uluwatu di Bali, mungkin lebih mirip dengan Tanah Lot. Hanya saja di Bukit Batu Hiu ini tidak ada pelinggih atau pura. Kalau di Bali, menurut saya tempat seperti ini pasti sudah disucikan karena kondisinya yang sangat tenang dan bertaksu. Tempatnya yang tinggi, samudera yang luas di selatan, pepohonan yang teduh, tebing-tebing dan deburan ombak yang penuh kharisma. Asalakan tidak diganggu oleh hingar-bingar gemerlap wisata, tempat ini sangat mendukung sebagai tempat melihat diri ke dalam dan merenungkan arti kehidupan. Ya, begitulah.

Kembali ke Jakarta

Senja mulai turun. Akhirnya kami pun menyelesaikan perjalanan kami di Pangandaran. Kali ini saya yang kebagian sebagai sopir untuk perjalanan pulang karena saya yang sepertinya paling banyak istirahat sebelumnya. Memang hanya satu hari saja kami di sini tanpa menginap. Itu karena dari anggota tim kami memeliki keperluan masing-masing untuk secepatnya tiba di Jakarta. Masih banyak titik-titik menarik di Pangandaran ini yang sebenarnya masih bisa kita nikmati. Seperti body rafting di Sungai Citumang, treking di Cagar Alam dan Taman Wisata Penanjung, melakukan aktivitas memancing maupun bakar ikan, atau sekedar leyeh-leyeh di tepi-tepi pantainya. Suatu hari nanti, mungkin saya akan kembali dan melihat tata kelola wisatanya menjadi lebik baik lagi.

Ciamis - Jakarta, Desember 2011

0 comments:

Post a Comment