Thursday, September 29, 2011

Pada tahun 1814, Mbah Jalun memiliki seorang putra yang bernama Rangga Jaka Lulunta. Dikatakan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan sang pencipta untuk putra mereka, Mbah Jalun membuat sebuah danau. Mbah Jalun pun akhirnya selesai membuat danau dengan menggunakan peralatan sederhana dalam waktu tujuh hari. Ia kemudian menyebut danau itu Situ Gunung, yang berarti danau yang terletak di kaki gunung.

Situ Gunung

Saya tiba di pintu masuk kawasan wisata Curug Sawer ketika waktu telah lewat tengah hari. Cuaca berawan dan teriknya matahari masih terasa, tetapi udara yang sejuk terasa menyelimuti tubuh ketika beberapa lama waktu kami habiskan di pelataran sebuah warung kopi. Pepohonan tingi-tinggi menjulang di sekitar. Juga semak-semak yang meranggas di sisi-sisi lembahan dengan pohon-pohon bambu di beberapa petak punggungan bukit.

Akhir pekan ini, kawasan kaki Gunung Pangrango ini adalah tempat dilaksanakannya sebuah kegiatan lintas alam, Astacala Lintas Alam 9 (ALA 9). Saya bersama beberapa anggota Astacala dari Jakarta memang telah merencanakan akan turut serta dalam kegiatan ini. Sekedar melepas kerinduan akan segarnya hawa pegunungan dan juga sekedar membantu kesibukan panitia dalam melaksanakan acara lintas alam untuk civitas akademika IT Telkom di Bandung.

Kami memulai perjalanan menyusuri jalan setapak kecil di tepi sungai. Suasana lokasi di awal perjalanan ini terlihat gersang yang dipenuhi oleh semak-semak. Padahal kawasan ini sudah termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gede Pangrango. Di satu titik ada sebuah papan keterangan bediri menandakan adanya kegiatan penghijauan oleh suatu perusahaan yang bekerja sama dengan pemerintah setempat dan warga masyarakat. Di beberapa titik selanjutnya, pondokan-pondokan warung sederhana berdiri di samping jalan setapak menawarkan makanan dan minuman ringan bagi pengunjung Curug Sawer yang menjadi tujuan kami. Memang jalur menuju Curug Sawer ini dari pintu masuknya cukup jauh, perkiraan saya sekitar 2 km. Beberapa peserta ALA 9 terlihat beristirahat di salah satu warung.

Berjalan Menuju Curug Sawer

Menjelang tiba di lokasi tujuan, pepohonan mulai bertambah lebat. Kanopi hutan mengelilingi kami di sepanjang jalan. Aliran sungai mulai terdengar mengalir dan udara yang lebih sejuk pun menyambut. Gemuruh air terjun terdengar. Di tanah datar yang luas kami pun beristirahat dan melanjutkan membangun tenda untuk bermalam. Sementara di atas tanah datar di seberang sungai, para peserta ALA 9 juga tampak beristirahat yang sebagian besar dari mereka telah beranjak ke air terjun yang merupakan daya tarik utama dari tempat ini.

Tempat Camp Peserta ALA 9

Jembatan Bambu di Aliran Sungai di Sekitar Curug Sawer

Suasana malam di lembahan ini terasa sangat dingin. Suara binatang hutan samar terdengar di berbagai penjuru di sela-sela suara derasnya aliran sungai dan air terjun. Api unggun dan keriuhan anak-anak muda juga terdengar di kawasan hutan ini. Sementara di sebuah warung di tepian hutan terlihat ada nyala kehidupan. Memang di tempat ini ada beberapa bangunan warung berjajar. Hampir seluruhnya tutup dan hanya satu warung tersebut saja yang buka. Kata ibu pemilik warung, ia membuka warungnya jika ada wisatawan yang bermalam. Segelas kopi susu dan beberapa pisang goreng terasa begitu nikmatnya menemani saya dan beberapa orang rekan bertukar pikiran di warung tersebut sampai malam kian larut.

Burung-burung berkicau menyambut pagi. Saya mulai menggeliat melawan rasa malas, kemudian mengeluarkan tubuh dari hangatnya balutan sleeping bag. Udara dingin yang segar menyambut. Hari ini kegiatan ALA 9 adalah melanjutkan perjalanan lintas alam menuju Situ Gunung. Usai sarapan, berkemas, dan bolak-balik mengangkut berbagai peralatan kegiatan, saya pun bergegas menyusul para peserta ALA 9 yang telah lebih dulu berangkat meninggalkan Curug Sawer.

Curug Sawer

Aliran Sungai yang Mengalir dari Curug Sawer

Situ Gunung 2,5 km. Begitu terbaca dari sebuah plang petunjuk arah di pertigaan jalan setapak yang memisahkan arah jalur ke Curug Sawer dan arah ke Situ Gunung. Saya bersama beberapa rekan menyusuri jalan setapak berbatu yang tertata baik yang dinaungi pepohonan hutan hujan tropis. Kicau burung dan desir angin mengiringi di sepanjang jalan. Perjalanan awal menanjak kemudian menurun sampai menyeberangi lembahan kecil dengan jembatan yang sungainya dialiri sedikit air. Kami pindah punggungan untuk selanjutnya perjalanan kembali menanjak sampai tiba di sebuah gigiran bukit. Situ Gunung samar-samar sudah terlihat di bawah sana. Sekilas pemandangan ini saya rasakan seperti pemandangan Situ Lembang jika dilihat dari gigiran bukitnya di sebelah barat. Sorak-sorai orang di bawah sana terdengar juga sampai di tempat saya berdiri ini. Sepertinya itu adalah suara-suara himpunan mahasiswa sebuah perguruan tinggi yang sedang melaksanakan kegiatan ospek.

Menyusuri Jalan Setapak dari Curug Sawer ke Situ Gunung

Tepat tengah hari saya telah sampai di tepian Situ Gunung. Dua perahu karet warna merah tampak melaju menuju tepian danau di seberang sana. Ternyata para peserta ALA 9 melanjutkan perjalanan melintasi Situ Gunung ini dengan perahu. Sedangkan saya sendiri memilih untuk berjalan menyusuri tepian danau menuju ke seberang. Jalan setapak kecil yang melipir punggungan menjadi pilihan berikutnya untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini saya hanya berdua saja bersama Ade, seorang kawan dari Surabaya yang juga ikut kegiatan ini. Hutan masih menaungi dengan lembahan cukup dalam berada di samping kanan jalur perjalanan. Beberapa marker ALA 9 yang menjadi petunjuk arah terlihat tergantung di batang-batang pohon. Akhirnya sebuah pos pemberhentian samar-samar terlihat beberapa meter di depan dengan suara-suara peserta ALA 9 yang sedang memainkan sebuah games.

Menyeberangi Danau dengan Perahu Karet

Setelah cukup beristirahat di pos pemberhentian ini, saya dan Ade pun melanjutkan perjalanan lagi bersama dua kelompok peserta ALA 9 menuju pos selanjutnya. Suasana masih tidak berubah. Naungan pepohonan besar dengan lembahan cukup curam di samping kanan kami. Sampai akhirnya sebuah marker ALA 9 membelokkan arah perjalan menuju sebuah jalan setapak yang sedikit lebih besar dan berbatu. Hutan mulai berganti dengan semak-semak. Kemudian beberapa ladang penduduk serta sebuah kampung yang mulai terlihat di kejauhan. Udara pun terasa lebih panas. Kembali di sebuah pos pemberhentian di sebuah tanah datar di bawah naungan pohon rindang, saya beristirahat sambil menonton beberapa kelompok peserta ALA 9 mengikuti games-games di pos tersebut.

Amien, salah seorang panitia ALA 9 mengatakan bahwa beberapa puluh meter di depan akan terlihat Kampung Cikaramat, tempat pemberhentian kegiatan ALA 9 untuk makan siang dan melihat pertunjukan budaya setempat. Saya dan Ade pun bergabung lagi dengan beberapa rekan lain menuju arah yang ditunjukkan. Udara terasa cukup panas ketika kami mulai menuruni jalan setapak menurun menuju Kampung Cikaramat. Dari bawah sana terlihat beberapa orang anggota komunitas sepeda gunung menuntun sepedanya berjalan berlawanan arah dengan kami. Juga spanduk-spanduk ALA 9 dan sponsor di samping sebuah rumah. Sementara suara gamelan sunda perlahan-lahan mulai makin jelas terdengar ketika kami tiba di kampung ini.

Menuju Kampung Cikaramat

Di samping rumah tempat gamelan sunda itu mengalun sudah ramai dipenuhi oleh para peserta ALA 9 yang sedang berisitirahat. Pak Ayeh, sang kepala kampung pun dengan senyumnya yang ramah ikut memberikan sambutan kepada kami sambil menerangkan tentang daya tarik yang ada di kampung tersebut. Mata air alami, musik tradisional, anyaman bakul, gula aren, serta sawah dan ladang yang menghijau. Saya yang merupakan orang desa yang cukup lama tinggal di ibu kota pun ikut melihat-lihat. Semilir angin Lembahan Cikaramat menemani saya berkeliling kampung.

Kalau saya pikir, semua yang saya lihat ini sudah ada di desa saya sendiri, di Klungkung Bali sana. Mata air Cikaramat mengingatkan saya akan pancuran mata air yang tak pernah berhenti mengalir di pura-pura di lembahan di desa kelahiran saya. Melihat ibu-ibu Kampung Cikaramat menganyam bakul, saya teringat kembali pada beberapa keluarga saya yang nafkahnya dari menganyam penarak (Bahasa Bali yang artinya bakul besar), juga berbagai anyaman dan seni ukir yang lebih banyak ragamnya. Dan saya pikir, di seluruh desa di nusantara memilikinya. Ah betapa hal-hal umum seperti ini menjadi sangat langka untuk dilihat, menjadi sebuah tontonan unik ketika kami sudah menjadi orang kota. Sebuah pergeseran perlahan yang mengubah budaya dan gaya hidup orang desa yang telah berubah menjadi orang kota.

Sebuah Rumah di Kampung Cikaramat

Beberapa jam berikutnya setelah berpamitan dengan Pak Ayeh dan beberapa warga yang ada, kami pun melanjutkan perjalanan pulang menyurusi lagi jalan sebelumnya yang telah kami tempuh menuju Kampung Cikaramat. Hanya saja di sebuah pertigaan jalan, kami menyusuri jalan setapak cukup besar dan berbatu menuju pintu masuk kawasan wisata Situ Gunung. Saya dan para peserta ALA 9 dengan tubuh-tubuh yang lelah setelah seharian berjalan pun berkumpul kembali sebelum pulang, bercanda tawa sambil menantikan pengumuman pemenang kelompok terbaik selama kegiatan. Mengagumi kembali akan apa yang telah didapatkan selama dua hari ini, semoga semuanya bisa menumbuhkan kearifan dalam bersikap terhadap budaya dan alam lingkungan.

Temukan Foto Curug Sawer, Situ Gunung, dan Cikaramat di Galeri Penulis
Jakarta, September 2011

0 comments:

Post a Comment