Friday, April 22, 2011

Pepatah dari Cina mengatakan bahwa waktu terbaik untuk memulai menanam pohon adalah dua puluh tahun yang lalu sedangkan waktu terbaik berikutnya adalah hari ini.

Kalau kita perhatikan, konon pepatah di atas sudah ada ratusan tahun sebelum masehi. Itu berarti bahwa orang pada masa lalu telah mempunyai pemikiran betapa pentingnya pepohonan di dalam kehidupan. Walaupun pada masa sekarang ini isu lingkungan akan pentingnya pepohonan sudah semakin disadari, tapi laju pertumbuhan manusia dan segala kebutuhannya belum mampu mengimbangi penebangan hutan yang terjadi dan penghijauan kembali yang dilakukan.

Sebuah bibit, sebuah harapan

Kenapa sebuah bibit adalah sebuah harapan? Mari kita lihat dengan membayangkan sebuah prosesnya. Untuk menanam sebuah pohon diperlukan sebuah bibit. Dibalik sebuah bibit ada sebuah peristiwa pembuatannya. Jika kita mau tahu dan mau mengikuti prosesnya dari awal, dari pembuatan bibit sampai bibit tersebut tertanam dan tumbuh menjadi pohon, saya pikir akan ada satu kecintaan kita pada pohon yang kita tanam tersebut.

Bayangkan saja ketika kita memulainya dengan mengumpulkan tunas-tunas pohon di bawah pohon induknya yang sudah besar, mengorek biji-bijian di tepi hutan, atau meminta biji buah-buahan dari warung jus buah di sekitar tempat tinggal kita. Membuat lubang di lahan terbuka yang mana lubang tersebut bisa digunakan untuk menimbun dedaunan yang jatuh dan tanah hasil galiannya bisa digunakan untuk mengisi polybag tempat kita akan membuat bibit. Kemudian kita berpanas-panasan menyusuri jalanan untuk meminta berkarung-karung sekam di pabrik pengolahan padi dan berkotor-kotor di kandang kambing untuk mengambil kotorannya yang akan dijadikan pupuk. Tanah, sekam, dan kotoran kambing tersebut dicampur dengan takaran tertentu. Campuran itu dimasukkan ke dalam polybag-polybag kemudian diisi dengan tunas-tunas pohon atau biji-bijian ke dalamnya sampai kita sebut polybag-polybag itu sebagai bibit.

Tak selesai sampai di situ saja, kita akan menyiram dan merawatnya setiap hari. Di sela-sela obrolan dengan teman yang ikut membantu serta tegukan-tegukan kopi dan teh di tengah istirahat seusai lelah berkotor-kotor, kita bayangkan bibit tersebut akan tumbuh dan siap untuk ditanam di tempat lain. Tak jarang pula jika beberapa hari kemudian bibit-bibit tersebut kita lihat, ada beberapa yang kering dan tidak tumbuh. Walaupun demikian kita ganti lagi bibit mati tersebut dengan yang baru dan semua itu akan menumbuhkan sebuah harapan pada kita yang membuatnya bahwa kelak ia akan menjadi pohon yang bisa menaungi kita dari panas dan melepaskan banyak oksigen di siang yang terik.

Beberapa waktu kemudian ketika musim penghujan tiba, atau ada event-event tertentu, atau hanya sekedar menggerakkan otot di sore hari, kita ambil beberapa dari bibit-bibit tersebut. Kita ambil cangkul dan ember. Bergerak ke sudut-sudut kebun dan lahan yang kosong. Kita buatkan lubang dan kita tanam bibitnya. Dan demikian pun apa yang kita lakukan itu menumbuhkan lagi sebuah harapan bahwa kelak bibit itu akan lolos dari seleksi alam dan tumbuh menjadi besar. Tapi kadang kala kita akan lebih banyak kecewa bahwa ternyata suatu hari kemudian bibit yang telah kita tanam hilang. Atau yang lebih mengecewakan lagi bibit yang sudah menjadi pohon beranjak dewasa tiba-tiba kita lihat patah pada pangkalnya dirusak oleh anak-anak yang bermain atau orang lewat yang sekedar iseng. Walaupun pupus harapan, tapi kita selalu berharap tak pupus juga untuk selalu menggantinya dengan yang baru.

Seorang rekan yang mengajari saya untuk mebuat bibit dan mencintai pepohonan berkata bahwa perbandingan hidup sebuah bibit yang ditanam di tempat umum adalah seratus lawan satu. Kita yang belum atau tidak sempat untuk membantu membuat bibit atau tidak sempat menanam pohon dengan tetap membiarkan pohon tersebut tumbuh dan tidak mengganggunya sudah sangat cukup membantu proses pertumbuhannya, jika saja kita tahu bahwa gagalnya sebuah bibit tumbuh menjadi pohon bukan lebih dikarenakan faktor cuaca dan musim melainkan karena banyaknya orang yang belum sadar akan kecintaan pada pepohonan dengan iseng memetik tunas atau pun tak peduli ketika tak sengaja menginjaknya.

Dan ketika sebuah bibit yang telah kita tanam tumbuh menjadi pohon besar dan rindang, betapa bahagianya kita. Ternyata kita berhasil memeliharanya. Tak percuma akan jerih payah yang telah dilakukan. Walaupun tak ada uang sepeser pun yang kita dapatkan dari berhasilnya pohon yang kita tanam tumbuh, tak terbayangkan kepuasan yang didapatkan dan kecintaan kita padanya hingga kita tak akan rela jika tiba-tiba pohon tersebut ingin ditebang begitu saja.

Sebuah bibit yang yang kita buat, ada sebuah harapan yang kita tanamkan. Sebuah kecintaan akan tumbuh. Semoga kita semua menyadarinya. Mari kita tanam pohon. Mari kita melakukan penghijauan. Mari kita bangun sebuah harapan akan kehidupan kita yang lebih baik. Selamat Hari Bumi 22 April 2011. Salam lestari!

Picture Taken from Sekretariat Astacala

Jakarta, April 2011

0 comments:

Post a Comment