Wednesday, March 9, 2011

Kenapa orang asing yang lebih sering mengunjungi Indonesia?
Kenapa orang asing yang lebih tahu tentang Indonesia?
Kenapa orang asing yang lebih banyak mengambil keuntungan dari Indonesia?

Begitulah kesan-kesan dari banyak teman saya yang saat ini sedang dan masih bersemangat untuk mengenal lebih jauh tentang Indonesia, termasuk juga saya yang ikut terbakar semangatnya. Di setiap sudut eksotis Indonesia, pasti ada orang asing yang mengunjunginya. Alam Indonesia yang indah, kekayaannya yang melimpah, dan segala realitanya. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote.

Dari penuturan berbagai informasi tentang foto dan cerita pelosok Indonesia, makin bersemangatlah kita untuk selalu jalan-jalan. Ada yang memanfaatkan perjalanan dinas kantor yang kebetulan kegiatan kerjanya berkeliling berbagai daerah, menggunakan model backpacker yang belakangan ini makin menjadi trend, memakai jasa penyedia paket perjalanan bagi yang memiliki dana berlebih, maupun melakukan perjalanan-perjalanan ekspedisi dalam organisasi guna melakukan penelitian dan membukukan sejarah.

Dan ketika kala itu saya sedang dalam perjalanan wisata di Lombok, di dalam sebuah mobil avanza sewaan, obrolan pun terjadi di sepanjang jalan. Sebutlah namanya Arif, seorang pemuda asli Lombok yang menjadi sopir ketika mengantarkan saya menuju sebuah pelabuhan desa di Sekotong. Usianya tak jauh berbeda dengan saya.

"Teman-teman sukses semua ya di Jakarta", begitu sedikit komentarnya pada saya yang melakukan perjalanan wisata ini. Saya hanya tersenyum mendengarnya. Ah, semuanya sama saja. Bukankah sukses tergantung bagaimana kita melihatnya? Begitu saya membalas komentarnya.

Lebih jauh ia bercerita, Arif ternyata adalah seorang lulusan sarjana hukum di salah satu universitas ternama di Mataram. Kedua orang tuanya adalah guru. Ayahnya telah pensiun, dan ibunya masih aktif di sebuah sekolah menengah atas. Sementara satu orang adiknya masih kuliah. Sudah lebih dari lima tahun ia lulus kuliah sampai akhirnya ia menjadi sopir di sebuah perusahaan rent car. Tugasnya mengantarkan orang-orang yang membutuhkan jasanya, orang-orang seperti saya yang bertujuan untuk berwisata di tanah kelahirannya. Menjadi sopir, walaupun halal tentu itu tak sesuai dengan latar pendidikannya di bidang hukum. Bukan sebuah profesi yang dicita-citakannya, juga bukan seperti yang diharapkan orang tuanya.

Seusai kuliah, Arif bercerita bahwa ia sempat kursus desain grafis di Surabaya. Antara lain kursus Corel Draw dan Adobe Photoshop selama beberapa bulan, keahlian yang sebagian besar teman-teman saya yang mengenal fotografi tanpa kursus telah menguasai tools tersebut. Kata Arif, itu untuk menambah keahliannya di bidang lain sehingga memperluas kesempatan dalam bersaing memperoleh pekerjaan. Ia pun kemudian sempat ikut mencoba mengambil tender kecil-kecilan mendesain interior sebuah bangunan kantor di Mataram, tapi gagal.

"Di Lombok susah sekali mencari kerja Mas. Sepertinya berbeda dengan di Jakarta.", begitu ia lanjut bercerita. Ah... Betapa saya tak enak hati dalam obrolan ini. Mungkin dalam pikirannya orang-orang Jakarta yang sukses yang dilihatnya adalah seperti saya dan rekan-rekan saya yang sedang berlibur ini. Jauh-jauh dari Jakarta ke Lombok tentu biayanya tak sedikit. Menggunakan pesawat terbang, sewa kendaraan pribadi, tinggal di penginapan yang nyaman, sampai biaya sewa peralatan selam yang mahal. Ia tentu membandingkan semua biaya itu dengan pendapatannya sebagai seorang sopir. Dan ia belum pernah melakukan perjalanan wisata seperti itu.

Kembali lagi kepada cerita tentang mengenal lebih jauh akan Indonesia, tentang cinta Indonesia, tentang realitanya. Arif mungkin hanyalah salah satu contoh seorang lulusan sarjana yang menghidupi dirinya tidak sebagai apa yang dicita-citakannya, yang penghasilannya tentu sangat sayang jika digunakan untuk perjalanan wisata yang jauh. Ada ribuan orang lain dengan berbagai cerita kehidupannya di negeri ini. Alih-alih keliling Indonesia atau mengambil sertifikasi selam, menjadi sarjana seperti Arif pun mungkin banyak yang tidak sanggup. Pertanyaannya : mereka yang tidak berkeliling Indonesia apakah tidak kenal akan Indonesia atau tidak cinta kepada Indonesia?

Tempo hari ketika saya menghadiri sebuah acara pemutaran film dokumenter dua orang wartawan yang berekspedisi keliling Indonesia dengan motor selama sepuluh bulan, disebutkan biaya yang dihabiskan adalah dua ratus lima puluh juta rupiah. Itu pun dengan akomodasi mereka yang apa adanya. Biaya ekspedisi itu murah bagi yang memiliki uang. Tapi sangat mahal bagi mereka yang pas-pasan, apalagi tidak punya uang. Jika pertanyaan di awal tulisan ini kita jawab, salah satu jawaban menurut saya adalah : karena tidak ada kesempatan.

Kita yang sedikit lebih beruntung mungkin bisa bersemangat mengobarkan cinta Indonesia. Berkata bahwa dengan berkeliling Indonesia kita bisa mengenal masyarakat dan lingkungannya dengan lebih dekat. Jika dilihat dari segi psikologis, sebagai manusia normal tentu akan ada kebanggaan bagi kita atau mereka yang sanggup melakukan hal-hal yang memberi inspirasi, hal-hal yang berguna, hal-hal yang tak banyak orang melakukannya, hal-hal yang mengundang decak kagum. Bisa ekspedisi, bisa jalan-jalan, bisa menyelam, bisa fotografi, bisa ini, bisa itu. Tapi sadarkah kita bahwa ada orang-orang lain yang sebenarnya juga memiliki keinginan yang sama tapi belum dan bahkan tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya? Seperti mereka yang untuk makan dan minum di hari esok saja masih harus berpikir. Mereka yang untuk membayar uang kuliah saja masih harus mencari pinjaman. Atau mereka yang mengunjungi orang tuanya yang sakit masih menggunakan transportasi kelas ekonomi jarak jauh dan lama.

Indonesia! Saya atau kita tak akan bercerita lagi panjang lebar sebab-musabab realita kesedihan yang ada di dalamnya. Ketertinggalan di berbagai bidang, kebodohan, cara berpikir, moral, korupsi, suap, dan apa pun segalanya yang tidak baik yang mana identitas itu cenderung melekat di negeri kita. Bagaimana pun lusuhnya, bagaimana pun indahnya, bagaimana pun realitanya, ia tetap Indonesia. Kita akan menjalani dan menghadapi sebagai bagian darinya. Hidup adalah soal keberanian dalam menghadapi yang tanda tanya tanpa kita mengerti dan tanpa kita bisa menawar, maka terimalah dan hadapilah; begitu kata So Hoek Gie.

Indonesia, gugus kepulauan di khatulistiwa. Indah dan kaya, sekaligus miskin dalam mengelolanya dan ribuan realita problema di dalamnya. Mari kita kenali, mari kita ketahui. Kita ekspresikan dengan tidak berlebihan, kita cintai dengan apa adanya.

Jakarta, Maret 2011

6 comments:

  1. Yeah... Kalau bukan kita yang cinta Indonesia, siapa lagi ?
    Yuk cintai indonesia dan jadikan indonesia lebih baik :)

    ReplyDelete
  2. Kita harus cinta negara dan bangga menjadi warga negara yang baik. Kenapa ? inilah Alasannya.....

    Alasan kita Cinta Tanah Air Indonesia(With Foto)

    ReplyDelete
  3. Jauh dari hati yang paling dalam gw sangat kagum dengan semua yang ada di Indonesia. Gw suka budaya dan keanehan didalamnya, asik buat dipahami dan diceritakan. Tapi terkadang justru terkadang pendatang bikin sesuatu disana jadi tidak alami lagi, bener ga sih?
    Tulisan yang bagus Jrot. Suka gw sama ide-ide lo! :)

    ReplyDelete
  4. Sejatinya menjadi bagian dari Indonesia adalah sebuah kebanggaan. Tapi kadang kebanggaan itu hilang melihat pemimpian negeri ini tak punya hati, telinga dan mata untuk ibu pertiwi.
    - Tetap cinta Indonesia -

    ReplyDelete
  5. terimakasih untuk informasinya..semoga bisa memberikan nilai manfaatnya..

    ReplyDelete