Friday, February 11, 2011

Kalau kita melihat kembali sejarah Perang Dunia II, tepatnya pada negara-negara poros yang saat itu mulai menginvasi tanah Eropa, ada perbedaan mencolok yang terlihat dari dua pilar negara poros tersebut, yaitu Jerman dan Italia. Jerman yang dipimpin oleh Hitler mengalami kejayaan yang gilang-gemilang dalam perebutan-perebutan wilayah di Eropa sampai Afrika Utara maupun Timur Tengah. Jenderal-jenderal beserta pasukannya terkenal dengan disiplin yang tinggi, bermental baja, siap tempur, berpengalaman, dan terencana dengan baik. Cukup berbeda jika dibandingkan dengan Italia yang dipimpin oleh Mussolini. Disebutkan bahwa kiprah politik Mussolini jauh lebih awal dari Hitler. Dan ia mengagungkan dirinya yang lebih berpengalaman berkiprah setelah Hitler memperoleh kemenangan gemilang di awal perang, dan tentu saja dengan maksud tetap sejajar berada di posisi bersanding dengan diktator Jerman itu, sementara pasukan dan jenderal-jenderalnya di medan perang tidak ada yang mendapatkan kemahsyuran. Banyak yang mengatakan tentara Italia tidak bisa diandalkan. Bahkan oleh Sekutu yang menjadi lawan mereka mengatakan bahwa satu orang tentara Jerman jauh lebih berharga daripada belasan tentara Italia.

Dan ketika kita bandingkan pada zaman setelah perang, akan ada perbedaan sifat yang mencolok antara dua negara musuh Sekutu tersebut, antara bangsa Jerman dan Italia. Sekalipun mungkin kita mengunjungi kedua negara tersebut nantinya hanya sebagai wisatawan selama beberapa minggu saja lamanya. Bangsa Italia mempesonakan orang asing sebagai bangsa seniman. Ini pun tampak dalam pakaian kaum pria dan guntingan rambutnya. Tetapi di Jerman kita tertarik oleh celana kulit yang dipakai oleh anak-anaknya. Celana kulit yang tak tahan mode, tapi tahan selama bertahun-tahun. Selama di Italia Utara kita seolah-olah menghirup alamnya yang beraneka warna, dengan arsitekturnya yang ramping dan cemerlang. Tapi begitu kita menginjak bumi Bavaria (Jerman Selatan), alangkah berlainan perasaan itu. Gedung-gedungnya kaku tapi kokoh. Di Italia masih kelihatan di sana-sini seorang pria yang berpakaian necis berhenti di depan kaca etalase toko, sambil menyisir rambutnya. Di Milan Italia polisi lalu lintas berpakaian lengkap serba putih, dan topinya berjengger, menandakan pakaian kebesaran dan polisi itu bertindak seolah-olah nasib seluruh dunia tergantung dari gerak-geriknya. Akan tetapi di Jerman, polisi yang sama berpakaian sederhana dan bertindak sederhana pula, hanya mungkin lebih martial.

Ditilik dari sudut psikologi, itulah yang membedakan keberhasilan Hitler dibandingkan Mussolini di masa perang dahulu. Kemudian, apa yang bisa kita ambil dari hal tersebut? Jika kita melihat gaya hidup, kita bisa menganalogikan antara sifat Hitler dan sifat Mussolini. Kita sering terlena oleh berbagai hal mewah tetapi sering terlupa oleh keefisienan. Kita membiasakan diri dengan mengutamakan penampilan di luar. Ingin terlihat keren jika dilihat oleh orang lain. Entah itu pakaian, peralatan, maupun kebiasaan kita. Lama-lama kebiasaan kita tersebut bisa menjadi menjadi sebuah budaya yang melekat. Lihat saja, negara-negara maju katanya adalah negara produsen mobil dan motor tetapi jalanannya tidak penuh oleh kendaraan seperti yang terjadi di ibukota negara kita. Mereka menggunakan angkutan umum untuk keperluan sehari-hari, sedangkan sebagian besar kita sepertinya malu ketika berangkat ke kantor atau tempat tujuan lain dengan angkot. Ah, gaya hidup kita mewah tapi prestasi kering. Jika kita kembali lagi pada keberhasilan Hitler dibandingkan Mussolini, mungkinkah gaya hidup kita mirip dengan pasukan Hitler yang pakaiannya tidak tahan dengan perkembangan mode tetapi selalu berguna dan tahan lama, ataukah seperti pasukan Mussolini yang lebih mengagungkan keindahan tapi terlalu sering kalah dalam bertempur?

History Taken from PK Ojong - Perang Eropa Jilid 1
Jakarta, Februari 2011

0 comments:

Post a Comment