Monday, January 17, 2011

Diawali dari istirahat makan siang di sebuah warung makan kecil di tepi jalan Desa Sugihmukti yang mengarah ke perkebunan teh Rancabolang, bapak pemilik warung menyarankan kami untuk menyewa pick up sayur untuk mencapai Dusun Mandala di kaki Gunung Waringin kawasan Cagar Alam Gunung Tilu, Ciwidey.

Di tepi hutan Gunung Waringin

Hujan gerimis yang mulai mereda mengiringi langkah kaki saya manaiki pick up sayur yang saya tumpangi bersama delapan orang teman. Udara yang dingin menembus kulit dan kabut yang sesekali turun menyelimuti perjalanan saya dalam deru perjalanan pick up di atas jalan pedesaan yang tak rata. Beberapa warga tersenyum melihat kami dengan sandaran-sandaran carrieer, terlihat berbeda dari pemandangan yang biasa mereka saksikan - para petani dan hasil kebunnya di atas kendaraan.

Kawasan Cagar Alam Gunung Tilu, begitulah yang sekilas saya lihat di sebuah papan pancang selepas melewati perkebunan penduduk. Pepohonan hutan hujan tropis mulai menghiasi kanan dan kiri jalan dan beberapa pohon pinus yang tumbuh menggantikan pohon-pohon sebelumnya yang telah ditebang. Puncakan-puncakan gunung dengan kabut yang timbul tenggelam menyelimutinya juga terlihat di kejauhan, merupakan rumah macan tutul (Panthera pardus) dan owa jawa (Hybolates moloch) yang merupakan hewan dilindungi. Perkebunan teh mulai terlihat menjelang Dusun Camara dan Dusun Mandala, dua kampung yang berdekatan di batas hutan cagar alam ini.

Setelah menganalisa medan dan memastikan posisi pada peta fotokopian bakosurtanal yang saya bawa, kami mulai melangkah menyusuri perkebunan teh yang menghijau menuju sebuah titik kordinat yang merupakan camp terakhir rangkaian Pendidikan Dasar Astacala 19, di sebuah punggungan panjang yang merupakan bagian dari Gunung Waringin. Hujan yang turun bergerimis namun cukup deras memaksa kamera saya untuk bersembunyi di dalam dry bag. Begitu juga kabut yang tebal sedikit mengganggu saya dalam bertukar pemahaman dalam membandingkan pembacaan medan.

Jalan setapak yang becek seusai hujan pun saya susuri. Cipratan-cipratan lumpur sudah tak mungkin lagi saya hindari. Dan beberapa saat kemudian dua orang teman yang sudah berada di hutan itu sebelumnya kami temui sedang mensurvey jalur, menandakan titik yang kami tuju sudah dekat. Akhirnya dari kejauhan terlihat bentangan-bentangan flysheet di bawah naungan pepohonan. Kepulan asap dari api unggun yang baru saja menyala mendorong langkah kaki saya untuk segera sampai di camp untuk menghangatkan badan dari pakaian yang sedikit basah dan udara yang dingin menusuk tulang.

Di keheningan

Saya begitu rindu akan suasana seperti ini. Bau dedaunan yang basah dan derit batang-batang kayu, suara flysheet dan tenda yang tertiup angin, percikan-percikan api dari kayu mati yang terbakar di samping tanah yang lembab, maupun nyanyian burung dan binatang hutan di kejauhan yang kembali ke sarangnya. Saya hirup dalam-dalam udara segar ini. Sebelum badan saya bertambah dingin, saya segera bergerak lagi membangun tenda, mengumpulkan dedaunan untuk tanah yang becek, juga merapikan beberapa kayu mati yang berserakan di sekitar tenda.

Tapi ketenangan hutan ini tak berlangsung lama. Seusai makan malam, di dalam suasana angin yang menderu, sayup-sayup terdengar suara meraung-raung dan makin dekat. Apa itu? Batin saya dalam hati. Ah, seorang teman akhirnya berujar, "Itu motor trail! Sepertinya akan lewat ke sini".

Dan benar saja. Saya kaget. Beberapa lama kemudian, belasan motor trail dengan sorotan lampu-lampu yang terang benderang melaju di jalan setapak di dekat tenda. Meraung-raung memecah keheningan malam. Gila!!! Ternyata punggungan gunung tempat saya mendirikan tenda ini merupakan jalur liar offroad motor trail. Pantas saja di Dusun Mandala ada pengumuman larangan melakukan offroad di kawasan cagar alam ini lengkap dengan peraturan undang-undangnya. Salah seorang pengendara motor tersebut sempat bertukar bicara dengan saya mengatakan bahwa ia sedang mengantarkan seorang atlet motor cross kelas nasional ke tempat ini. Bah!!!

Akhirnya dengan perasaan dongkol tapi dengan hati yang bertanya kembali kepada diri-sendiri tentang realita kegiatan alam, saya pun beranjak tidur ke dalam tenda menunggu subuh untuk mengikuti rangkaian acara penutupan Pendidikan Dasar Astacala 19 ini. Hati pun kembali bertanya, apa itu pecinta alam yang banyak kita serukan? Ataukah hanya pelampiasan gaya hidup yang kelebihan uang untuk menyelusup di rimbun pepohonan di tengah hutan? Sementara land rover kami yang penuh lumpur sedang parkir di batas desa, seperti tak jauh berbeda terlihat dengan mata telanjang dengan motor-motor trail penuh lumpur yang telah berlalu.

Subuh berikutnya, di dalam balutan dingin dan hembusan angin. Sampai pada akhirnya sebuah obrolan saya dengan seorang anak muda yang mencalonkan diri sebagai pecinta alam ini mengatakan bahwa ia berkeinginan untuk berpetualang, untuk menjelajahi puncak-puncak gunung ataupun terjalnya tebing dan gelapnya gua. Apalah arti kata "pecinta alam" kalau toh alasannya hanya seperti itu. Berpetualang, katanya. Dimana letak cinta dan ketulusan pada niat dan arti kata yang telah ia bangun itu? Sedikit demi sedikit, saya berharap ada kecintaan dan ketulusan yang tumbuh, tak hanya niat yang hanya sekedar berpetualang.

Di atas tanah datar, di tepian hutan Gunung Waringin, akhirnya ritual pelantikan ala pecinta alam pun dilakukan. Mengukuhkan belasan anak muda menjadi seorang pecinta alam. Sampai akhirnya pesan-pesan mencintai alam itu saya harapkan benar-benar tertanam dalam setiap sanubari mereka, baik sebagai seorang pecinta alam atau bukan pecinta alam atau apapun nama istilahnya itu. Seperti kata Jimbo di kemudian hari yang juga sempat berbicara empat mata di dalam balutan dingin yang menggigit, "Sebab menjadi pecinta alam itu bukan perkara yang mudah, sebab mencintai alam itu membutuhkan kerja keras, semangat dan niat yang terus membara".

Bandung, Januari 2011

2 comments:

  1. kasian, laen kali kemping jgn terlalu ke pinggir jalan. Kalo mw tidur nyenyak, nikah, pny rumah. Piss

    ReplyDelete
  2. @bintangkecil :
    terima kasih sarannya. :-)

    ReplyDelete