Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2011

Sebuah Kebiasaan

Jika pada suatu hari kita melihat telepon genggam kita ada sebuah panggilan tidak terjawab atau sebuah pesan singkat masuk yang membutuhkan suatu jawaban atau respon, apa yang akan kita lakukan?

Jika nomor pemanggil atau pengirim pesan singkat tersebut adalah dari orang tua kita, dari teman kita, atau dari kantor tempat kita bekerja, berbedakah kita memperlakukannya?

Mungkin kita semua mempunyai kesibukan masing-masing. Mempunyai waktu yang mungkin tidak ingin diganggu oleh kepentingan orang yang menelepon atau mengirimkan sebuah pesan singkat. Tapi tidak memperdulikan sama sekali sebuah panggilan tidak terjawab atau pesan sigkat yang kita terima menurut saya adalah sebuah attitude yang tidak baik. Coba kita renungkan, hal apa yang bisa membenarkan kita untuk tidak memperdulikan hal-hal seperti itu? Kita memiliki telepon genggam, tentu memiliki kewajiban karena memiliki telepon itu. Walaupun ini hal kecil, setidaknya hal kecil tersebut adalah cikal bakal hal yang besar dalam hidup kita…

Di Keheningan Gunung Waringin

Diawali dari istirahat makan siang di sebuah warung makan kecil di tepi jalan Desa Sugihmukti yang mengarah ke perkebunan teh Rancabolang, bapak pemilik warung menyarankan kami untuk menyewa pick up sayur untuk mencapai Dusun Mandala di kaki Gunung Waringin kawasan Cagar Alam Gunung Tilu, Ciwidey.

Di tepi hutan Gunung Waringin

Hujan gerimis yang mulai mereda mengiringi langkah kaki saya manaiki pick up sayur yang saya tumpangi bersama delapan orang teman. Udara yang dingin menembus kulit dan kabut yang sesekali turun menyelimuti perjalanan saya dalam deru perjalanan pick up di atas jalan pedesaan yang tak rata. Beberapa warga tersenyum melihat kami dengan sandaran-sandaran carrieer, terlihat berbeda dari pemandangan yang biasa mereka saksikan - para petani dan hasil kebunnya di atas kendaraan.

Kawasan Cagar Alam Gunung Tilu, begitulah yang sekilas saya lihat di sebuah papan pancang selepas melewati perkebunan penduduk. Pepohonan hutan hujan tropis mulai menghiasi kanan dan kiri jalan dan…

Sebuah Makna dari Musikal Laskar Pelangi

Hai... hai... hai...
Kami ini orang asli Belitong
Hai... hai... hai...
Inilah tempat kami Kampong Gantong

Kata orang pulau kami pulau kaya
Banyak timah di mana-mana
Ah, ah, tapi siapa yang punya?
Bukan kami yang punya
Kami hanya kuli-kuli belaka

Itulah sepenggal lagu pembuka yang dinyanyikan dengan indah di dalam Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki beberapa hari lalu setelah sebuah prolog dari tokoh Ikal yang telah dewasa bercerita tentang sekelumit kehidupan masa kecilnya di Pulau Belitung. Pada latar belakang terbentang pagar kokoh dimana di atas pintu gerbangnya terpasang papan bertuliskan besar-besar dan mencolok : "DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK PUNYA HAK". Sebuah pintu gerbang yang menggambarkan pintu masuk sebuah perusahaan asing yang menguasai pertambangan timah di pulau tersebut, PTPN Timah. Menggambarkan kawasan layaknya istana yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang kalangan pegawainya, sedangkan selainnya tidak.

Kemudian tokoh anak-anak Laskar Pelangi pun bermunculan…