Monday, December 27, 2010

Ini adalah kali kedua saya mengunjungi Dataran Tinggi Dieng. Setahun sudah berlalu, tak banyak yang berubah. Tapi sebuah catatan tambahan tentang tempat ini saya tulis, melengkapi catatan-catatan tahun lalu yang tercecer dan terlupa. Dimana sebagian besar data ini saya dapatkan dari theater film pendek di Dieng Plateau serta dokumentasi di Museum Kailasa Dieng.

Jika sumber-sumber di internet mengatakan bahwa Dataran Tinggi Dieng terletak di antara Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, tetapi beberapa bagian kecilnya, tepatnya di bagian utara juga termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Batang dan Kabupaten Kendal di Jawa Tengah.

Dieng, Di Hyang, Tempat Tertinggi, Tempat Bersemayam Para Dewa

Dieng yang berasal dari kata Di Hyang atau tempat tertinggi, diambil dari bahasa sansekerta yang dapat diartikan sebagai tempat yang tinggi, tempat bersemayam para dewa. Berdasarkan catatan sejarah, tempat ini diyakini sebagai awal peradaban Hindu di Pulau Jawa yang berkembang pada masa kejayaan Dinasti Sanjaya pada abad ke-8, lebih tua dari zaman Majapahit di Jawa Timur, dan ini ditandai dengan berdirinya candi-candi di Dieng.

Candi-candi yang dahulu dibangun untuk memuliakan Dewa Siwa ini kemudian oleh masyarakat setempat diberi nama tokoh-tokoh pewayangan Mahabrata. Seperti Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Bima, maupun Candi Gatotkaca. Bangunan candi-candi Dieng ini disusun dari bebatuan jenis andesit yang berasal dari Gunung Pakuwaja yang berada di sebelah selatan komplek candi di Dieng yang merupakan bebatuan khas Pegunungan Dieng, yaitu batuan gunung api jenis andesit.

Komplek Candi Arjuna, sangat ramai dikunjungi wisatawan di akhir pekan

Dataran tinggi Dieng terbentuk dari ambruknya sebagian dari gunung api tua, yaitu Gunung Prahu. Pada bagian yang ambruk itu muncul gunung-gunung kecil yang tersebar seperti Gunung Alang, Gunung Nagasari, Gunung Palindungan, Gunung Pangonan, Gunung Gajahmungkur, Gunung Sikunir, dan Gunung Pakuwaja. Gunung Sikunir yang diceritakan penduduk setempat sebagai tempat untuk melihat matahari terbit akhirnya saya kunjungi di waktu subuh di kala hujan gerimis turun dan berkabut.

Sampai sekarang gunung api di Dieng masih aktif. Aktivitas gunung api di dataran tinggi Dieng mempunyai karakter yang khas dimana tekanan magma tidak terlalu kuat sehingga tidak terjadi letusan yang kuat seperti yang terjadi di Gunung Merapi. Apabila terjadi letusan, itu lebih disebabkan karena terpanaskannya air oleh magma di dalam tanah. Gejala seperti ini dapat kita saksikan di beberapa kawah yang ada di dataran tinggi Dieng.

Mengingat kemungkinan bahaya yang bisa ditimbulkan oleh aktivitas vulkanik gunung api di Dieng, Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi secara terus menerus memantau aktivitas vulkanik di pegunungan Dieng.

Kawah Dringo adalah salah satu danau kawah yang terletak di ketinggian Dieng. Danau yang berbentuk lingkaran besar ini terjadi karena sebuah letusan besar. Secara periodik petugas dari Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memantau kandungan gas di dalamnya. Begitu juga di kawah-kawah lainnya seperti Kawah Sikidang dan Kawah Candradimuka. Meskipun kawah-kawah ini mengandung co2 yang tinggi, tetapi cukup aman dikunjungi karena lokasinya yang berada di tempat terbuka.

Di antara kawah-kawah yang ada di dataran tinggi Dieng, Kawah Timbang menjadi priotitas, karena seluruh uap yang berasal dari kawah ini seluruhnya adalah dari co2 dan merupakan yang terbesar menghasilkan co2 di Dieng.

Keluarnya gas di permukaan bumi di kawasan Dieng biasanya diakibatkan karena tekanan gas yang tinggi, lapisan tanah yang lemah, atau rekahan dari gempa bumi. Di sebelah barat Dieng, tepatnya di sebelah barat Gunung Nagasari, gas yang keluar dari dalam bumi mempunyai komposisi co2 bersifat racun yang tidak berwarna dan tidak berbau bersifat dimana jika dalam komposisi tinggi bisa mematikan.

Kawah Sikidang, Memanaskan Air Permukaan

Sebuah tragedi yang memilukan pernah terjadi pada tahun 1979. Kala itu pagi-pagi buta terjadi gempa bumi hebat yang menyebabkan Kawah Sikidang meletus. Gempa ini menyebabkan rekahan memanjang yang melalui Kawah Timbang yang mengalirkan gas co2 dengan konsentrasi tinggi. Gempa dan letusan yang terjadi membuat penduduk panik dan menyebabkan mereka berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri menjauhi kawah yang meletus. Tapi tanpa disadari, mereka justru mendekati rekahan tanah yang mengalirkan gas co2. Akibatnya banyak penduduk yang terjebak gas beracun. Tercatat sebanyak 149 orang meninggal menghirup udara beracun pada peristiwa ini.

Geo Dipa Energi, adalah perusahaan yang mengolah tenaga panas bumi di Dieng

Gas yang berasal dari proses vulkanik yang bisa membahayakan manusia ini juga bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia. Pembangkit listrik tenaga panas bumi adalah salah satu kekayaan alam Dieng. Uap panas dari dalam bumi dicairkan ke permukaan melalui sumur-sumur pengeboran. Dari tempat pengeboran melalui pipa-pipa yang membentang di kawasan Dieng dialirkan ke tabung-tabung pengolah untuk memutar turbin untuk menjadi tenaga listrik yang nantinya disalurkan demi kepentingan masyarakat.

Tari Topeng, tentang cerita rakyat Panji Asmorobangun

Dari sisi budaya, salah satu kesenian tradisional Dieng adalah tarian topeng yang diangkat dari cerita rakyat tentang percintaan Panji Asmorobangun dan Galuh Candrakirana. Biasanya dipentaskan ketika ada ruwatan atau acara-acara keramaian. Keunikan Dieng yang lain adalah adanya anak-anak yang berambut gembel (gimbal) yang sulit dihilangkan. Tak ada yang tahu mengenai fenomena kenapa anak-anak Dieng banyak yang berambut gembel. Tetapi awalnya adalah karena panas tinggi yang tidak sembuh-sembuh. Banyak yang percaya anak yang berambut gembel ini membawa berkah atau membawa sial. Untuk memotong rambut gembel anak-anak itu harus diadakan ruwatan, yaitu upacara untuk membebaskan anak yang bersangkutan dari pengaruh buruk. Pada kesempatan ini orang tua harus memenuhi apa yang menjadi permintaan sang anak. Setelah dipotong nantinya rambut tumbuh kembali dengan normal. Selanjutnya potongan rambut gimbal dihanyutkan di Sungai Serayu sebagai lambang hanyutnya segala kesialan yang ada pada anak.

Fenomena Rambut Gembel (Gimbal)

Sungai Serayu yang menjadi salah satu urat nadi kehidupan di Jawa Tengah bagian selatan ini berawal dari sebuah pancuran di Dieng Kabupaten Wonosobo. Oleh masyarakat setempat mata air ini bernama Tuk Bima Lukar. Ada kepercayaan mata air ini bisa membuat awet muda.

Karena keadaan alamnya yang khas, alam Dieng sangat cocok untuk perkebunan sayur mayur. Yang paling banyak terlihat di setiap kebun di Dieng adalah tanaman kentang. Dan ternyata Dieng merupakan penghasil kentang terbesar di indonesia. Maka tidak salah kalau oleh-oleh khas Dieng yang bisa dibawa pulang adalah segala panganan yang terbuat dari kentang. Juga ada satu tanaman unik yang konon berasal dari Dieng, yaitu pepaya Dieng yang disebut carica, pepaya yang buahnya kecil-kecil yang biasanya dijadikan manisan. Selain itu ada juga purwaceng, ramuan khas yang dijadikan sebagai minuman obat kuat.

Tidak banyak tempat di Indonesia yang memiliki keadaan cuaca seperti di Dieng. Karena terletak di ketinggian menyebabkan udaranya sejuk. Bahkan di rentang waktu Juli sampai Agustus suhu udara menjelang pagi hari bisa mencapai titik beku. Embun yang menempel pada dedaunan menjadi kristal-kristal es.

Keseharian masyarakat Dieng, bekerja sebagai petani juga berpakaian khas untuk mengatasi suhu yang dingin : kupluk, jaket, dan sarung

Inilah dataran tinggi Dieng, sebuah kawasan di ketinggian yang berada pada ketinggian dua ribu meter di atas permukaan laut yang mempunyai berbagai keunikan. Keadaan alamnya yang khas menjadi tempat berkembangnya kearifan lokal, juga menjadi tempat yang menyimpan misteri sejarah di masa lampau. Selain itu keajaiban alamnya berupa aktivitas vulkanik menjadikan dataran tinggi Dieng ini mempunyai keistimewaan tersendiri sebagai tempat pariwisata elok, pencarian masa lau bagi peziarah, dan lahan yang menantang bagi para peneliti.

Banjarnegara - Wonosobo, Desember 2010

0 comments:

Post a Comment