Monday, June 28, 2010

Akhir pekan minggu lalu, saya mengunjungi Pulau Tidung, sebuah pulau yang menjadi bagian dari Kepulauan Seribu, Jakarta. Catatan awal yang terekam di kepala saya ketika hendak mengunjungi pulau ini adalah mengunjungi pulau yang sedang bergeliat dalam bidang pariwisata.

Sebuah pulau kecil di Perairan Pulau Tidung

Kenapa tidak? Beberapa minggu sebelumnya saya pernah diajak beberapa sahabat untuk melewatkan akhir pekan di pulau tersebut. Beberapa teman kuliah juga pernah mengatakan telah mengadakan reuni sma di sana. Bahkan, menurut cerita seorang teman berdasarkan informasi yang diperolehnya, Pulau Tidung yang luasnya hanya 50 kilometer persegi dikunjungi oleh 1500 orang wisatawan pada saat long week end beberapa minggu lalu.

Pemandangan di Teluk Jakarta : Tampak gedung-gedung di Pantai Marina Ancol

Berangkat di hari sabtu pagi di mana gelap masih tersisa yang perlahan-lahan didesak oleh sinar matahari pagi, saya bersama rekan-rekan dari komunitas XL Adventure melakukan perjalanan menyusuri Teluk Jakarta ke arah utara selama kurang lebih tiga jam.

Kapal motor yang mengangkut para penumpang terlihat penuh sesak. Entah dari kapan atap kapal juga dijadikan tempat duduk para penumpang. Sewaktu saya mengunjungi Pulau Pramuka dahulu, tidak ada penumpang yang sampai duduk di atap kapal. Atau mungkinkah saat itu jumlah penumpangnya yang memang sedikit? Jumlah pelampung sebagai sarana safety procedure juga sangat kurang, tidak sebanding dengan jumlah penumpang yang banyak. Dan saya berharap, di tengah citra pariwisata Kepulauan Seribu yang mulai naik, semoga perjalanan ini aman-aman saja.

Saya teringat sebuah berita ketika searching tentang Pulau Tidung di internet. Pekerja kapal motor menolak kehadiran kapal cepat yang beroperasi dari Marina Ancol yang memberikan pelayanan yang relatif lebih baik, lebih safety, dan harga tidak jauh berbeda. Ancaman berkurangnya lahan tempat mencari makan tentu sangat masuk logika dikemukakan oleh para pekerja kapal motor. Mengenai hal ini, peran para pemegang kebijakanlah yang dituntut untuk sebijaksana mungkin dalam menangani masalah tersebut tanpa merugikan para pekerja kapal maupun keselamatan wisatawan.

Kapal motor yang penuh penumpang dari Muara Angke ke Pulau Tidung

Pagi menjelang siang itu, Dermaga Pulau Tidung terlihat begitu ramai. Ada puluhan rombongan wisatawan yang datang dari arah Jakarta. Beberapa ojek becak mengangkut berbagai barang bawaan ke arah rumah-rumah penginapan yang sudah dibooking. Sementara wisatawannya sendiri menggunakan sepeda sewaan untuk menyusuri jalan perkampungan yang selebar dua meter menuju penginapan. Ada juga yang memilih untuk berjalan kaki.

Becak sepeda dan becak motor di Pulau Tidung membawa barang-barang bawaan wisatawan

Penginapan-penginapan di pulau ini biasa saja. Hanya berbentuk rumah penduduk seperti biasa yang memang disewakan. Tak terlihat yang memang dikhususkan sebagai penginapan atau hotel. Beberapa warung berjejer di sepanjang jalan menjual berbagai makanan dan minuman, kelapa muda, suvenir khas pantai yang terbuat dari kerang. Juga tempat-tempat penyewaan sepeda dan peralatan snorkling yang selalu terlihat di depan-depan rumah.

Snorkling, salah satu kegiatan yang dilakukan di Perairan Pulau Tidung

Sepanjang siang, wisatawan biasanya berkeliling ke spot-spot snorkling dengan menggunakan ojek perahu. Hampir di setiap tempat snorkling, saya selalu bertemu dengan rombongan lain yang juga sedang snorkling. Terumbu karang di Kepulauan Seribu sangat indah menurut saya sebagai seorang pemula kegiatan ini. Hanya saja, seringkali para snorkler lupa untuk tidak menginjak-injak karang di perairan yang dangkal. Ini tentu sangat disayangkan.

Menjelang senja atau di pagi hari, jembatan yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil menjadi sangat ramai. Jembatan inilah yang merupakan ikon dari Pulau Tidung. Sepertinya, jembatan inilah kelebihan Pulau Tidung jika dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya di Kepulauan Seribu.

Jembatan Pulau Tidung yang menjadi ikon menarik pulau ini

Melompat dari jembatan adalah hal yang paling diminati di sini. Baik oleh bocah-bocah setempat maupun oleh wisatawan. Dari ketinggian kurang lebih 7 meter, sepertinya cukup membuat jantung para pelakunya berdegup kencang.

Melompat dari Jembatan Pulau Tidung

Ada satu hal yang saya amati di sini. Ketika seorang teman seperjalanan mengungkapkan tentang telah menawarkan uang pada sejumlah bocah setempat untuk melompat dari jembatan dengan tujuan untuk didapatkan gambarnya. Mungkin tidak salah, tetapi menurut saya hal tersebut memberikan pengaruh yang cukup signifikan. Tak bisa dipungkiri pemberian uang bisa saja menjadi sebuah kebiasaan negatif dari bocah-bocah setempat. Yang nantinya mereka melompat dan berenang bukan lagi sebagai kebutuhan alami mereka sebagai anak pantai, tetapi lebih kepada memuaskan wisatawan dengan tujuan mendapatkan uang. Bisa jadi seperti di Papua, harga satu orang jika difoto mencapai ratusan ribu per gambarnya, begitu cerita seorang teman yang tinggal di sana.

Ada banyak sampah di pesisir pantai Pulau Tidung

Sebuah imbas, tentu saja bersifat seimbang. Ia ada yang positif dan ada yang negatif. Semakin ramai Pulau Tidung, semakin bergeliat kehidupan ekonomi masyarakat setempat. Penyewaan penginapan, penyewan sepeda, penyewaan alat snorkling, warung-warung, ataupun ojek-ojek perahu, meningkatkan pendapatan masyarakat. Di sisi lain, pengelolaan pariwisata di pulau ini belumlah bisa dibilang baik. Pengelolaan sampah adalah salah satunya. Tumpukan sampah terlihat menggunung di salah satu sudut pulau dengan sisa asap yang mengepul usai dibakar. Sementara saya termenung ketika ingin membuang sebuah kotak stereofom bekas bungkus sarapan pagi saya. Sampah-sampah ini tentu tak akan habis dibakar jika melihat kunjungan wisatawan yang membengkak setiap minggu.

Aktivitas penduduk lokal di Perairan Pulau Tidung

Memanfaatkan atau dimanfaatkan, dalam dunia wisata tentu terdengar sedikit sadis. Beradaptasi mungkin sedikit terdengar lebih baik. Sebagai wisatawan atau pun sebagai penduduk lokal dalam melihat sebuah perubahan, menempatkan diri, berbaur, dan saling menghormati. Tentu akan berbeda suasana yang tercipta kalau kita mengunjungi daerah baru seolah-olah kita adalah kerabat mereka. Atau mengunjungi daerah baru yang seolah-olah dihuni oleh saudara-saudara kita. Tidak ada anggapan bahwa kita dan mereka adalah orang lain.

Find Pulau Tidung Pictures in My Picasa
Jakarta, Juni 2010

5 comments:

  1. Ohh.... kalo gt "Nggaj Jauh" dr Pulau Belitung ya Boss..... idealnya emg harus seperti itu pariwisata indonesia mau maju.... segala aspek harus dibenahi,,,.....

    Btw, follow blog saya ya boss, ntr jg ane follow balik. Thanks! kpadaku.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Kapalnya kok mengerikan ya, takut terjadi kenapa2

    ReplyDelete
  3. @Belitung : Iya Bos, memang memerlukan kerja sama kita semua untuk membenahi pariwisata kita.

    @Asia Hotel : Kalau penyeberangan dari Muara Angke memang kondisinya seperti itu. Berbeda dengan penyeberangan dari marina Ancol yang lebih safety. Diperlukan peran pihak berwenang untuk bisa mengelola penyeberangan dari Muara Angke ini untuk bisa lebih baik.

    ReplyDelete