Wednesday, April 14, 2010

Gelap masih menyelimuti Kota Banjarmasin. Udara subuh masih dingin. Jalanan terlihat sepi walaupun satu dua kendaraan bermotor melintas. Di depan Masjid Sultan Suriansyah, di tepi Sungai Kuin, perahu-perahu yang disebut klotok ini mulai menyusuri sungai ke arah barat. Masyarakat tepian sungai tampak baru memulai aktifitasnya. Satu dua perahu kecil tampak mulai ramai. Sebagian besar menuju ke barat, ke arah muara, ke Sungai Barito.

Pagi di Pasar Terapung

Beberapa perahu lebih kecil juga terlihat hilir mudik, dengan satu orang pengemudi dan barang-barang muatan yang kebanyakan berupa sayuran dan buah. Semua adalah penduduk asli Kalimantan Selatan, Suku Banjar yang sudah dari lahir akrab dengan Barito, kebanyakan ibu-ibu setengah baya, memulai aktifitas pagi di Pasar Terapung muara Sungai Kuin.

Pisang dan Sayur Mayur Menjadi Barang Dagangan Utama

Sementara di lain pihak, beberapa perahu lain yang lebih besar berisi lebih banyak penumpang berlayar hilir mudik. Para penumpangnya sangat jelas terlihat berbeda. Beberapa jepretan kamera mengiringi setiap kali berhenti di dekat para pedagang dan pembeli yang melakukan transaksi. Beberapa penumpang lain yang berapakain rapi berdecak layaknya melihat pertunjukan yang tak pernah ditonton. Para wisatawan, para penonton, begitulah adanya.

Matahari perlahan-lahan mulai meninggi. Pasar terapung, yang begitu dikenal sebagai ikon kota seribu sungai ini tak kunjung bertambah ramai. Tak terlihat seperti gambaran salah satu iklan televisi di negeri ini. Tak terlihat sungai yang penuh dengan warna-warni dagangan serta hiruk pikuk suasana pasar. Sementara jumlah wisatawan mulai bertambah di hari minggu pagi ini. Lebih banyak wisatawan daripada penghuni asli pasarnya.

Ada Sop, Soto, Sate, Rawon, dan Nasi Kuning

"Ada apa gerangan?". Seorang kawan asli Banjar yang menyertai perjalanan saya di Sungai Barito ini mengatakan bahwa inilah imbas moderenitas. Dulu, pasar terapung selalu ramai. Selalu hidup. Tapi sekarang, siapa lagi yang akan berbelanja ke Sungai Barito sementara minimarket maupun supermarket yang lengkap dan nyaman sudah lebih mudah terjangkau? Siapa lagi generasi modern yang akan turun ke sungai hanya sekedar berbelanja sementara akses di darat yang lebih nyaman semakin mudah?

Mengambil Makanan dengan Tongkat Khusus

Di tepi zaman, mungkin begitu kiranya nasib pasar terapung. Sebuah tradisi nenek moyang yang memang mengandalkan sungai sebagai jalur utama transportasi dan perputaran hidup, sebuah budaya asli kehidupan dengan ribuan sungai yang mengaliri lembah-lembah dataran rendah Borneo, perlahan-lahan mulai memudar. Ia masih ada, masih bernafas di tepi zaman, bukan karena cara hidup dan budaya alami para pelaku pasar terapung, tetapi lebih kepada fungsi melayani kepentingan pariwisata, kepentingan para penonton.

Banjarmasin, Maret 2010

3 comments:

  1. kita harus melesetarikan kebudayaan sendiri, kara bisa menjadi aset budaya dan pariwisata

    ReplyDelete
  2. seru juga kaya'a belanja di pasar terapung...jadi ingin mencoba..

    ReplyDelete
  3. setidaknya masih ada yang mempertahankan kebiasaan itu, sehingga smuanya tidak hanya tinggal cerita..

    ReplyDelete