Tuesday, December 15, 2009

Seminggu yang lalu dua peleton Kompeni Semarang diberangkatkan ke Bali. Entah berapa lagi dari tempat-tempat lain. Nampaknya Kompeni kewalahan dalam perangnya di Bali. Padahal jarak Sanur ke Denpasar hanya enam kilometer, sedang jarak Kuta ke Denpasar hanya sebelas kilometer. Mereka telah bertempur selama dua puluh hari dan Denpasar belum juga jatuh. Tahu Tuan artinya ini? Senjata tajam yang dapat bertahan selama dua puluh hari terhadap senjata api? Patut rasanya Tuan bangga pada kenyataan ini. Dua puluh hari, Tuan!

Seminggu setelah datangnya surat itu koran memberitakan : Denpasar jatuh! Setelah aku hitung sejak tanggal mulainya penyerangan Kompeni, ternyata tempat itu jatuh setelah tiga puluh hari bertempur.

Berita di balik berita yang ditulis Ter Haar mengatakan :
Itulah peperangan gagah, jarang tandingannya dalam sejarah umat manusia, mungkin juga satu-satunya. Raja Klungkung, I Dewa Agoeng Djambe, telah memerintahkan semua keluarga raja di Denpasar dan semua punggawa, laki maupun perempuan, untuk melakukan Perang Puputan, perang sampai orang terakhir.

Laki-perempuan sebangsa Tuan, orang-orang Bali yang gagah itu, maju ke medan perang, Tuan. Perempuan-perempuan dengan bayi dalam gendongan belakang membawa tombak atau keris menyerbu seperti laron menerjang api, takkan kembali ke rumah masing-masing, tinggal di tempat, bermandikan darah sendiri, dan darah bayinya.

* * *

Awal abad dua puluh, 1908 silam. Goresan Pramoedya itu menyiratkan sebuah kisah heroik orang-orang kampung halaman. Masa lalu. Kisah heroik di masanya. Mati terhormat. Berlaku sepatutnya. Hidup sepatutnya.

Masa berganti, moderenitas mengisi kehidupan. Hidup terus berjalan, di sebuah pulau yang konon katanya adalah pulau para dewa.

Seiring perjalanan, punggawa-punggawa baru diseleksi untuk mengisi jabatan di negeri yang sudah berbentuk republik ini.

Sebuah kepatutankah, jika hidup hanya diabdikan untuk menunggu gaji dan kenaikan jabatan? Sebuah kepatutankah, jika mencapainya penuh dengan ketidakterbukaan dan kabar burung tentang ketidakadilan? Sebuah kepatutankah, jika pundi-pundi yang berasal dari sebagian panen di sawah dan padi di lumbung digunakan sebagai upeti oknum-oknum punggawa pemegang kekuasaan? Hanya untuk nanti mengisi kembali lumbung dengan padi-padi yang hanya sejari? Atau mungkin sawah penghasil padi telah terjual dan lari ke pembeli upeti?

Tuan beragama. Tuan berpendidikan. Dewa-dewa dan pahlawan-pahlawan cerita nenek moyang mungkin sedikit tidak pernah masuk ke kepala Tuan. Mungkin juga Tuan paham akan arti kepatutan. Pejuang awal abad dua puluh itu hidup dan membela tanah airnya. Mereka berjuang sepatutnya, mati sepatutnya. Tuan dan saya juga seharusnya berjuang, demi tanah air, tanah air Tuan yang juga tanah air saya.

Tentu sekarang tak perlu mengangkat tombak atau keris. Satu abad peristiwa puputan itu telah lewat. Perbuatan, Tuan, yang bisa Tuan gunakan di zaman ini. Setidaknya perbuatan yang sepatutnya. Perbuatan mengisi hidup mencari rejeki. Mungkin menjadi punggawa adalah salah satunya. Prestise baru di kalangan kebanyakan para kawula, para rakyat tanah air kita. Ternyata ribuan kawula berbondong-bondong, walaupun sang burung berkabar tentang ketidakadilan dan ketidakterbukaan.

Kabar burung. Burung manakah yang bisa dipertanggungjawabkan kabarnya? Semoga tak ada pundi-pundi Tuan menjadi upeti untuk bisa menjadi punggawa negeri. Tuan memberi upeti atau menerima upeti, mungkin hanya siulan si burung. Mereka semua kecewa, mungkin hanya celoteh si burung. Semoga Tuan menjadi punggawa yang terhormat, mencari rejeki dengan terhormat. Berbuat sepatutnya, menjalani hidup sepatutnya.

Quote taken from Pramoedya Ananta Toer - Jejak Langkah
Jakarta, Desember 2009

1 comments:

  1. penerima mendapat PIS,
    pemberi berharap mendapat PIS

    ento madan mata pipis
    tapi tidak semua

    wajar bro...

    Kacrut like this!

    ReplyDelete