Saturday, September 26, 2009

Sesuatu berharga yang kita miliki biasanya tidak berbentuk secara materi atau fisik. Seorang kawan yang baru pulang dari Vietnam dan beberapa negeri kawasan Indocina bercerita tentang sesuatu berharga yang hilang, yang ia dan beberapa rekannya alami sehingga mengubah akhir perjalanan mereka.

Menjelang Senja di Cafe Batavia

Menjelang senja di Cafe Batavia kawasan Kota Tua Jakarta, saya habiskan waktu bersama kawan saya tersebut sembari menunggu waktu untuk bertemu dengan kawan yang lain. Sambil saya timang sebuah kompas bidik jerman yang ia berikan sebagai oleh-oleh, saya dengarkan ceritanya. Cerita tentang opini negatifnya pada sekelompok backpacker negeri tetangga yang melakukan perjalanan bersamanya. Selepas Vietnam melintas Laos, Kamboja, Thailand, Malaysia, dan Singapura.

...

Alkisah di suatu tempat di negeri Kamboja, karena sesuatu dan lain hal, terutama masih bermasalah dengan paspor, kawan saya tersebut tertinggal beberapa jam oleh bus dan rekan-rekannya. Dan juga semua barang bawaannya juga turut serta terbawa.

Akhirnya, dengan menaiki kendaraan yang kebetulan lewat yang searah dengan bus yang mebawa barang-barangnya, ia pun mengejar. Katanya lagi, jaraknya tertinggal lebih dari 200 kilometer. Mungkin setara dengan jarak antara Jakarta - Cirebon.

Setelah bertemu kembali, rasa saling tidak menerima atas kesalahan masing-masing pun terjadi. Mereka ribut. Hingga akhirnya berujung pada sebuah insiden kecil yang mengharuskan mereka menyelesaikannya di kantor polisi terdekat selama berjam-jam berikutnya.

Sebenarnya, dari pandangan saya sendiri, tidak ada masalah yang begitu riskan sampai harus ke pihak berwajib. Tidak ada barang yang hilang. Semuanya utuh. Hanya saja beberapa rekan dari kawan saya tersebut tidak terima atas keterlambatan, mereka mengaku kehilangan waktu yang begitu berharga. Kawan saya yang marah dan kecewa juga tak mau kalah, ia juga menyatakan bahwa ia kehilangan rasa persaudaraan, yang beberapa hari sebelumnya senasib sepenanggungan melakukan perjalanan bersama.

...

Saya tidak banyak berkomentar mengenai ceritanya, walaupun sedikit tidak setuju atas opininya yang melebihkan di atas rata-rata bahwa backpacker memiliki banyak sikap negatif terhadap rekan-rekannya. Mungkin hanya beberapa oknum.

Saya jadi memikirkan hal tersebut. Tentang gambaran sikap yang ia ceritakan. Kadang-kadang, mungkin kita sering menghilangkan sesuatu yang berharga demi tidak kehilangan sesuatu berharga yang lain. Tidak hanya pada suatu perjalanan yang bersifat fisik saja, tapi juga pada perjalanan besar kehidupan kita di dunia. Akan berbagai hal berharga yang kita miliki, yang tidak bisa kita ukur dengan nilai nominal. Seperti persaudaraan, kesetiakawanan, kemanusiaan, pengertian, saling menghargai, dan hal-hal manusiawi lainnya terhadap orang-orang yang kita kenal dan kita miliki. Ketika kita berhadapan dengan berbagai situasi dan kondisi, pernahkah kita menghilangkannya demi tidak kehilangan yang lain?

...

Akhirnya, pihak berwajib di negari Kamboja tersebut mendamaikan mereka. Damai dalam arti hukum. Bukan damai dari hati masing-masing. Dan memang tidak ada hukuman yang dijatuhkan atas insiden yang mereka alami. Mereka pun berpisah setelah kejadian tersebut. Dengan masing-masing membawa rasa kehilangan. Kehilangan waktu, juga kehilangan sebuah rasa persaudaraan.

Jakarta, September 2009

2 comments:

  1. suka gw jrot kalo lo udah ngomong "menurut saya..." suka gw ama gaya lo! analisanya keren... mantap!

    ReplyDelete