Friday, August 7, 2009

Satu satu daun berguguran
Jatuh ke bumi dimakan usia

Tak terdengar tangis
Tak terdengar tawa


Beberapa manusia yang tak pernah tercatat di kalangan orang kebanyakan mungkin sedang pergi dari dunia hari ini. Dan dua tiga hari terakhir ini, dua seniman negeri ini juga telah pergi. Kabarnya membahana di berbagai media.

Mbah Surip walaupun hanya beberapa saat kita kenal bagi sebagian orang mungkin memberikan pelajaran yang sungguh berharga. Dan kita bangga bisa mengenalnya. Selebritis dadakan yang apa adanya. Bagi saya menyimbolkan kejujuran dan kesederhanaan. Kata orang, tatapan mata tak pernah berbohong. Saya tak begitu mengerti. Tapi tatapan matanya memang tak terlihat ada kejahatan.

Si Burung Merak WS REndra, juga menyusul Si Mbah, sepertinya menemaninya main gendong-gendongan. Sajak-sajaknya yang memberontak membanggakan rakyat negeri nusantara. Syair-syairnya yang beberapa saya tahu, menggambarkan tentang kehidupan, juga tentang misteri alam semesta.


Kita tak pernah tahu, kapan lagi daun-daun berguguran. Kapan lagi tunas-tunas muda bersemi. Mewarnai hidup. Mewarnai dunia. Semuanya berjalan dan pasti terjadi. Semua yang hidup memiliki peran dalam dunia. Dan mereka pergi bersatu dalam keabadian yang tak pernah bisa kita mengerti, yang kata orang-orang itu disebut surga. Dan abadilah layaknya semesta yang tak pernah berawal dan berahir.

Lyrics Taken from Iwan Fals - Satu Satu
Jakarta, August 2009

1 comments:

  1. waktu terus bergulir, kita kan pergi dan ditinggal pergi...
    redalah tangis, redalah tawa, redalah reda.....

    ReplyDelete