Sunday, May 3, 2009

Beberapa tahun lalu ketika saya dan dua orang kawan sedang berada di batas hutan Pegunungan Sunda, Desa Cisair, Purwakarta. Tersebutlah seorang bapak yang menemui kami yang masih melakukan aktifitas pagi. Seorang lelaki setengah baya yang mendengarkan dengan seksama niat kami yang akan mendaki pegunungan itu menuju kaldera Situlembang selama beberapa hari ke depan.

Dimintanya segelas air putih dan sebatang rokok. Sebelumnya ia meminta kemenyan dan tentu saja tak kami miliki, akhirnya diganti dengan rokok. Diambilkannya sejumput tanah basah di depan tenda. Dibacakannya ayat-ayat suci (sepertinya Alquran) diakhiri dengan semburan air putih dan asap rokok ke arah hutan dan ke arah kami menjelang kami akan memulai perjalanan.

Ardian Lubis "Gimbal", seorang kawan muslim yang taat menganggap hal itu syirik. Sedangkan Mario Carolus "Bolot" yang rajin ke gereja hanya menganggap angin lalu walaupun wajahnya sempat disemprot air putih. Sedangkan saya sendiri hanya tersenyum simpul mengingat bapak itu yang kalau saya pikir niatnya kepada kami tentu baik.

Penghormatan kepada gunung dan hutan supaya kita selamat dengan sebuah ritual. Mungkin bagi kita yang berpikiran modern itu adalah sebuah ritual kolot setempat yang merupakan mitos. Tradisi masyarakat lokal yang tidak bisa diterima dengan logika.

Tetapi sebuah mitos atau ritual tentulah tidak ada begitu saja. Ia lahir dari pemikiran manusia pada zamannya. Hasil dari suatu imajinasi. Yang erat kaitannya pada hubungan antara manusia dengan alam lingkungan. Mitos dan ritual itu menjadi bagian dari pengetahuan dan kepercayaan masyarakat. Pengetahuan dan kepercayaan yang memiliki pengaruh terhadap sistem pengelolaan alam dan lingkungan, juga budaya.

Kalau benar-benar dicari dengan logika, suatu penghormatan kepada gunung dan hutan, sebuah penghormatan kepada alam, bahwa kehidupan manusia di bumi ini akan baik ketika keseimbangannya dengan alam dan lingkungan adalah baik. Gunung dan hutan kita tahu sebagai daerah resapan air. Sebagai daerah yang memberikan isinya yang bisa dimanfaatkan oleh manusia. Dan penghormatan kepada makna alam inilah yang diwujudkan dalam sebuah ritual. Yang kalau kita cermati maksud tersiratnya yang sebenarnya adalah penghormatan untuk menjaga gunung dan hutan tetap lestari sehingga keseimbangan manusia dan alamnya terjaga. Kita sebagai manusia kadang-kadang salah menafsirkan maksud tersebut. Yang tidak percaya mengatakannya mitos tak berarti, dan yang percaya tanpa memahami maksudnya malah menjadi syirik.

Masyarakat Hindu Bali seperti yang saya ketahui memiliki hari tertentu untuk melakukan penghormatan kepada alam, kepada hewan, maupun tumbuhan. Ada suatu ritual untuk menghormati mahluk-mahluk selain manusia tersebut. Kalau saya cermati, banyak masyarakat pelakunya melakukan hal itu tanpa memahami maknanya. Melakukan ritual itu tapi tindakan sehari-hari tetap saja menebang pohon sembarangan, membunuh hewan semaunya. Sedangkan yang tidak melakukannya, menertawai, beralasan karena malu, beranggapan itu adalah sebuah tradisi yang kolot.

Ini sebenarnya adalah hampir sama dengan rasa nasionalisme. Apa sebenarnya makna dari selembar kain merah dan kain putih yang kita kibarkan setiap hari senin dan hari-hari besar negeri ini? Sebuah ritual yang tidak berguna jika kita tidak memahami makna yang terkandung di dalamnya. Tetapi merah putih dan ritual setiap senin itu tentu akan berarti ketika kita memiliki kecintaan akan negeri ini, rasa nasionalisme dan patriotisme yang kuat. Bukan sekedar mengibarkan bendera dan menghormatinya dengan gagah tetapi tindakan sehari-hari berkhianat kepada negara. Apalah artinya ritual itu jika pelakunya seperti itu?

Kembali lagi kepada ritual di batas hutan Pegunungan Sunda beberapa tahun silam. Sebuah mitos yang lahir dari pemikiran manusia akan alam dan lingkungannya. Sebuah tradisi yang lahir dari sistem pengetahuan manusia dahulu. Sebuah ritual penghormatan kepada alam. Sebuah kearifan lokal yang kalau kita konversikan dengan masa modern ini adalah bahwa gunung dan hutan dihormati karena ia keramat. Keramat bukan karena hutannya diisi mahluk gaib. Bukan juga karena hal-hal mistis lainnya. Melainkan keramat karena pohon-pohonnya menjaga sungai-sungai tetap mengalir. Karena kuat akar-akarnya menjaga air laut yang menjadi hujan bisa disimpannya sehingga tidak membanjiri lembah-lembah. Karena binatang-binatang yang ada di dalamnya menjaga berjalannya rantai makanan di ekosistem yang besar ini.

Jakarta, May 2009

1 comments:

  1. alam tidak tergantung pada manusia....
    sedangkan sebaliknya.. :D

    salam kenal

    ReplyDelete