Skip to main content

Sumedang Tandang

Segelas teh manis, beberapa potong tahu, dan sebatang rokok menemani pagi kali ini di pinggiran alun-alun Kota Sumedang, sembari menunggu persiapan jamuan resepsi pernikahan Ulil, seorang kawan yang mendapatkan jodoh seorang mojang kota tahu ini. Aku datang terlalu pagi untuk acara resepsi, tapi terlalu terlambat untuk menyaksikan akad nikahnya.

Tempatku kini adalah persis di samping Jalan Raya Pos Anyer - Panarukan buatan Gubernur Jenderal Daendels 200 tahun silam. Yang beberapa saat tadi kuikuti dari Cileunyi menyusuri lekukan-lekukan Cadas Pangeran sampai di tepian alun-alun kota ini.

Hari minggu pagi yang beranjak siang. Alun-alun ramai dipenuhi warga kota. Tampak seperti keramaian umum di minggu pagi tempat-tempat ruang publik. Cukup berdesakan melihat kapasitasnya walaupun isinya cukup tertampung. Pedagang-pedagang kaki lima bertebaran di pinggir jalan, dan tentu saja jualannya bukan melulu tahu sumedang.

Bukit-bukit menghijau di pinggiran kota mengingatkanku akan kota kelahiran. Cukup menghijau walaupun beberapa tampak gundul meranggas didesak oleh ladang dan kebun. Seorang warga dengan ramah menunjukkanku jalan menuju gedung tempat resepsi. Begitu juga keramahan penjual tahu.

Tertib, aman, nyaman, dinamis, anggun. Begitulah arti tandang. Dijelaskan oleh Mang Jaki, pemuda asli kelahiran Sumedang, dengan bangga di sela-sela jamuan resepsi dan alunan musik dangdut sunda pengiring resepsi. Semoga seperti itu. Seperti juga slogan-slogan lain untuk setiap kota di nusantara ini. Yang bukan hanya menjadi sekedar slogan yang tertulis di gapura-gapura pintu masuk kota. Tetapi benar-benar tertanam di setiap sudut kota dan perilaku warga masyarakatnya, pada diri kita sebagai penghuninya.

Sumedang, April 2009

Comments