Wednesday, October 22, 2008

Dan kulangkahkan kakiku menyusuri hamparan teh yang menghijau, setelah melewati rumah-rumah sederhana dalam sebuah perkampungan kecil, Ciwalini.

Suatu Hari di Ciwalini

Nun jauh mata memandang ke utara, Cadas Panjang berdiri tegak. Masih lebat dengan hijaunya belantara. Walaupun sisi-sisi ladang di perbatasan hutannya di satu atau dua tempat sudah mulai menjamahnya. Ah, retorika yang memilukan. Ketika perladangan mendesak hutan dan merobohkan pohon-pohonnya.

Saung pertama. Kuistirahatkan kakiku sejenak. Walaupun belum begitu jauh. Kuhirup dalam-dalam udaranya. Menikmatinya yang tentu berbeda dengan udara ibu kota. Rasanya tempat ini tidak begitu asing bagiku. Seperti di rumah saja. Dua tahun lalu, kuingat terakhir kali aku di sini. Menyusuri setapak yang sama. Membelah perkebunan teh. Menyeruak hutan menyusuri punggungan Cadas Panjang.

Kubuka peta fotokopian bakosurtanal yang kubawa. Hanya untuk menyamakan persepsi dengan seorang berslayer merah yang ia dapatkan belum setahun. Itu Cadas Panjang. Itu Patuha. Ujarnya dengan senyum puas.

Kuhirup lagi udara dalam-dalam. Puncak 2020 tegak di kejauhan. Sisa-sisa pohon kering bekas kebakaran hutan di sisi kirinya sudah tak tampak. Mulai menghijau dengan semak-semak dan pucuk-pucuk dedaunan di pohonnya. Samar-samar terlihat.

Sore menjelang. Base camp mulai dituju. Base camp yang berbeda yang biasanya sering ditempati oleh generasi-generasi sebelumnya. Sebuah punggungan lebar di sebelah barat dari punggungan biasanya. Generasi baru, menemukan tempat baru. Ataukah ketidaktahuan bahwa kami sering ada di tempat sebelumnya.

Tak mengapa. Aku menyukai tempatnya. Tempat yang luas, dengan kayu-kayu mati yang melimpah. Aku tak akan kedinginan malam ini.

Wajah-wajah lugu berslayer oranye. Walau lelah masih terlihat bersemangat membangun bivak dan membuat perapian. Dalam hati, aku juga ikut bersemangat. Ikut berkobar karena nyalanya.

Dan pagi pun menjelang. Semalam kulewati dengan nyaman. Kurindukan suasana ini. Dinginnya pagi yang berbalut sinar mentari yang menyusup di sela-sela pepohonan. Nikmatnya segelas coklat susu di dalam kesibukan tenda menyiapkan sarapan pagi. Diselingi kipasan matras yang meniup bara sisa-sisa api unggun semalam.

Beberapa jam kemudian. Aku sudah di bawah. Mentari mulai meninggi. Dingin mulai berganti terik. Slayer-slayer oranye pun berpencar mencari titik-titik tersebar yang menjadi tujuan sampai selepas siang. Sayup-sayup, irama dangdut dari satu lokasi wisata mengalun. Entah mengganggu. Entah menambah citarasa suasana. Berbaur dengan ratusan pengunjungnya di akhir pekan ini. Aku hanya menikmati.

Detik-detik menjelang sore, kutinggalkan Ciwalini. Tak ada perasaan berpisah. Atau meninggalkan. Karena esok atau nanti, Ciwalini masih akan tetap menanti.

Ciwalini, Oktober 2008

3 comments:

  1. di daerah mana tu bli?? enaknya bisa jalan2 ke sana.. kalo PAB di sana cocok ga? :)

    ReplyDelete
  2. Samping Ranca Upas to De. Ranca Walini. Kalau buat PAB kayakne sing cocok. Sing ngidaang ajak liu. :-)

    ReplyDelete
  3. ouw, sampingne ranca upas :) hehe ndak tau saya

    ReplyDelete