Tuesday, October 28, 2008

Dan pikiranku pun melayang. Kepada cerita delapan puluh tahun lalu. Ketika semangat dan rasa senasib yang sama. Ketika membara dan bercita-cita sama. Dari Sumatra, Jawa, Borneo, dan Celebes. Walaupun mungkin Aceh, Bali, dan Irian belum turut serta. Apalagi Timor Timur.

Dan tanganku pun mulai membuka lembaran-lembaran sejarah tebal. Mencari tahu tentang apa yang terjadi puluhan tahun lalu. Ada kebanggaan. Tentang cerita penuh pesona waktu itu. Kalaupun ada sedikit silang pendapat dan perbedaan, tak menjadi aral yang melintang. Dan mereka kobarkan janji. Ikrarkan sumpah. Bahwa mereka, dan kita yang meneruskannya, bahwa kau dan aku, adalah satu.

Dan telingaku pun mulai bermimpi. Mendengarkan sayup-sayup gesekan biola Wage Rudolf Supratman. Jelas mengalunkan syair-syair kebangsaan. Berkumandang. Bersama angin yang bertiup kencang. Sekencang semangat yang terpatri. Berkelana menyampaikan beritanya ke seluruh nusantara. Mereka kepalkan tangan. Bahwa kau dan aku adalah satu.

Dan mataku pun terbuka. Melihat apa yang kurasa ada. Tentang Hasan Tiro mengunjungi Aceh dengan "semangat kemerdekaan". Tentang laskar-laskar pembela agama yang siap berjihad dan menjadi penegak moral di seantero Jawa, di seantero Indonesia. Tentang rumah, tentang rakyat Bali yang menolak RUU Pornografi, makin terlihat berbeda di nusantara. Tentang demo-demo bendera Bintang Kejora oleh mahasiswa Papua yang katanya bukanlah bagian dari Suku Minang ataupun Suku Jawa. Tentang Ambon dan Maluku dengan pilkadanya yang carut-marut, yang menjadi bom waktu untuk siap diledakkan. Ataupun tentang Timor Timur yang bukanlah bagian dari Hindia Belanda dan sekarang sudah melangkah pergi.

Dan dadaku pun bergetar. Mengingat sebagian besar pemegang kekuasaan dan pengambil kebijakan sedang beriklan dengan puisi-puisinya ataupun kalang kabut dari kejaran KPK. Mengingat sebagian besar pemuda dan mahasiswa kampungan yang bangga dengan alkohol dan narkoba, yang bangga dengan sikap-sikap primitif, keberanian untuk tawuran dengan kepalan tinju memalukan di tangan. Kuteringat syair-syair dari Bang Iwan. Lusuhnya kain bendera di halaman rumah kita, bukan suatu alasan untuk kita tinggalkan. Menari-nari menghayati janji puluhan tahun lalu. Tentang tanah air yang satu. Tentang bahasa yang satu. Tentang tumpah darah yang satu.

Dan nadiku pun berdetak. Berharap pucuk-pucuk muda bersemi. Yang mekar tanpa racun-racun fanatisme dan sekat-sekat pikiran primitif. Tumbuh dengan senyum dan hati. Tentang kebanggaan yang tak bisa dibeli. Tentang semangat yang tak bisa dinilai dengan uang. Tentang jiwa kekal yang tak sejalan dengan sistem kapital. Walaupun saat ini mata kita terbuka. Melihat kegundahan realita yang ada. Bahwa apapun itu, kau dan aku, tetaplah satu.

Jakarta, Oktober 2008

2 comments:

  1. live suck! jrot...
    kadang emang suka bergetar dan sedih ngeliat perkembangan negara ini. Miris gw ngedengernya. Yang jelas semuapunya kepentingan masing2 dan ga bisa dan gak mau bersatu!

    ReplyDelete
  2. buka blog gw jrot, inspired from ur blog tuh jrot... hehehe...

    ReplyDelete