Friday, March 7, 2008

Kau petik gitar nyanyikan lagu
Perlahan usap hatiku
Terucap janjiku untukmu
Tenggelam aku di tembangmu

Tulikanlah kedua telingaku
Butakanlah kedua bola mataku
Agar tak kulihat dan kudengar
Kedengkian yang mungkin benar

Memang aku jatuh
Dalam cengkeramanmu
Sungguh aku minta

Teruskanlah kau bernyanyi
Kan kudengar itu pasti
Teruskanlah kau bernyanyi
Dan jangan lagumu terhenti



Gelap turun dan malam datang bercerita. Dia sudah selesai berdandan. Mengusap hati atas janji yang terucap. Kemudian hanyut. Terbawa oleh alirannya. Sejenak aku takut. Walaupun aku percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Tak mengapa.

Tak ada yang salah, begitu pikirku. Kita hanyalah satu dari ribuan cerita di dunia. Dan begitu kecil. Tapi begitu berarti. Dan akan kujalani dengan sepenuh hati. Walaupun episode di akhir cerita, tak pernah kutahu akan bagaimana.

Hiruk pikuk di luar sana. Suara-suara yang memilikinya. Warna-warna yang dilukiskannya. Sejenak tak ingin kulihat, dan kudengar, semua cerita kedengkian yang mungkin saja benar. Sejenak ingin selalu kulihat, juga kudengar, semua cerita kasih sayang untuk kita, yang mungkin juga benar.

Karena aku manusia. Kamu juga. Mereka juga. Hidup memang selalu harus dijalani. Tak pernah kumengerti. Aku hitam, kamu putih. Sesekali mereka juga mengiringi. Menambahkan nada penuh warna-warni. Dan nyanyianmu, pun mejadi sungguh indah.

Apapun yang akan terjadi, akan selalu Kujalani dengan sepenuh hati. Mencoba mengerti dan memahami, nyanyian yang tercipta. Keluh kesah di dunia. Aku, kamu, mereka, dan apapun yang ada.

Dan saat ini kamu masih bernyanyi. Jika kamu terus bernyanyi, kan kudengar selalu itu pasti. Jika kamu pun berhenti, kan kutunggu kamu bernyanyi lagi. Sampai aku jemu dan mati.

Ketika waktu berganti. Langit demikian tenang. Gelap turun, malam telah selesai berdandan. Begitu cantik. Begitu anggun. Bersama bintang yang tersenyum bersinar terang. Berkerlap-kerlip, semoga tak pudar.

Sementara itu, nun jauh di sana. Sayup-sayup kudengar dan selalu kan kudengar. Nyanyian yang mengalun merdu, menusuk pilu. Sayup-sayup datang. Dan lagumu, berdiamlah di sini, selalu, di hatiku.

Song Lyrics Taken from Iwan Fals - Nyanyianmu
Jakarta, Maret 2008

3 comments:

  1. uhuy... gayanya... lagi kenapa lo jrot? cie..cie...

    ReplyDelete
  2. ikutan kena virus auto run ya..
    hmm..lumayan bikin pengen nulis lagi

    ReplyDelete