Monday, December 12, 2011

Sepotong Keindahan Laut Pulau Pramuka

Bagi warga ibukota Jakarta terutama yang gemar berwisata di laut, nama Kepulauan Seribu tentu sudah tidak asing lagi. Kepulauan yang berada di utara Jakarta ini adalah kawasan pelestarian bahari yang telah ditetapkan sebagai taman nasional laut sejak 1982. Salah satu pulaunya yang berpenghuni dan bernama Pulau Pramuka adalah pusat administrasi dan pemerintahan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, bagian dari Provinsi DKI Jakarta. Di kawasan perairan Pulau Pramuka inilah banyak penyelam ibukota dilahirkan. Dan saat akhir pekan di awal Desember tahun ini, saya berkesempatan untuk melakukan penyelaman di perairan Pulau Pramuka tersebut untuk melihat sedikit keindahan bawah lautnya bersama teman-teman XL Adventure, Indonesian Geographic, dan juga dari Under Water Story.

Terumbu Karang Perairan Pulau Pramuka

Setelah menyusuri kemacetan dan hiruk pikuk Pasar Ikan Muara Angke yang ramai dan diakibatkan juga oleh perbaikan jalan dan bangunannya, akhirnya saya sampai juga di dermaganya. Dermaga yang merupakan pelabuhan rakyat untuk menuju pulau-pulau di Kepulauan Seribu ini masih terlihat seperti dulu waktu pertama kali saya ke tempat ini pada tahun 2007, dengan lorong masuknya yang gelap dan becek serta bau ikan di mana-mana. Orang-orang tampak hilir mudik, dari wisatawan yang akan menghabiskan akhir pekan, calo kapal, para abk, tukang becak, maupun kuli-kuli angkut.

Matahari belumlah tinggi dan jam tangan saya juga belum menunjukan pukul tujuh, waktu biasanya kapal-kapal yang mengangkut penumpang mulai berangkat di pagi hari. Saya bersama beberapa teman seperjalanan masih berdiri di depan pintu masuk pertamina di dekat dermaga, menunggu beberapa teman yang belum datang dan mengkordinasikan sedikit rencana kegiatan.

Akhirnya menjelang jam delapan pagi, waktu yang sebenarnya telah terlambat, kapal yang mengangkut kami semua mulai bergerak menyusuri hitam pekat Teluk Jakarta di sela-sela kapal lain yang bersandar. Gelombang laut pada pagi ini sepertinya kurang bersahabat. Beberapa kali kapal berguncang-guncang menerjang gelombang mengocok isi perut. Pun ketika gelombang besar, nahkoda sengaja menghentikan laju kapal untuk menghindari benturan yang keras. Kata salah seorang kru kapal, baru mulai hari ini cuaca tidak bersahabat. Dan ini adalah musim angin barat laut yang biasanya melanda perairan di Laut Jawa sampai bulan Januari dan Februari.

Mengabadikan Terumbu Karang di Perairan Pulau Pramuka

Menjelang tengah hari, barulah kapal yang kami tumpangi merapat di Dermaga Pulau Pramuka. Seperti yang ditunjukkan oleh Priska -sang kordinator perjalanan-, kami pun menyusuri jalan dengan sisa-sisa perasaan bergoyangnya kapal menuju penginapan yang akan kami tempati di pulau yang dahulu dinamai sebagai Pulau Elang ini. Sebagai catatan, dahulu pulau ini banyak dihuni oleh burung elang bondol sehingga disebut sebagai Pulau Elang. Setelah pulau ini mulai ramai dan sering dijadikan tempat berkegiatan para pramuka, maka bergantilah namanya menjadi Pulau Pramuka.

Ada banyak fasilitas wisata di pulau ini dibandingkan pulau-pulau lainnya. Dari penginapan sampai dive-dive operator yang diakui. Salah satunya adalah dive center Elang Ekowisata yang kami gunakan jasanya untuk melakukan kegiatan penyelaman. Usai makan siang dan mempersiapkan berbagai peralatan pendukung, kami semua mulai menuju titik penyelaman pertama ditemani Boby, salah seorang dive master dari Elang dan juga warga asli Pulau Pramuka.

Terumbu Karang Perairan Pulau Pramuka dan Kipas Laut

Titik penyelaman pertama kami berada di sebelah selatan Pulau Panggang atau di sebelah barat daya Pulau Pramuka. Tempat penyelaman ini berupa perairan dangkal yang dipenuhi oleh terumbu karang dengan satu tiang mercusuar kecil berdiri. Eko, seorang teman baru dari Bandung menjadi buddy saya dalam penyelaman ini, posisi menyelam berada satu baris di belakang dive master Boby. Sementara yang lainnya berturut-turut berpasangan di belakang saya dan Eko, seperti yang dibriefing oleh Priska yang juga telah berlabel master dalam dunia selam. Kami akan menyelam dengan menyusuri terumbu karang yang berada di sebelah kanan jalur. Sementara dua teman kami yang lain yang belum bersertifikasi selam hanya melakukan snorkling sambil menunggu yang lainnya menyelam.

Masker, fin, pemberat, BCD, dan tabung udara telah terpasang dengan baik. Kami menceburkan diri ke dalam laut satu per satu. Kedalaman penyelaman kali ini adalah 10 - 15 meter di bawah permukaan. Visibilitas atau jarak pandang cukup jernih, mungkin sekitar 5 - 8 meter. BCD saya yang kebesaran membuat saya kurang nyaman karena seringkali tabung di punggung melorot ke atas menanduk-nanduk kepala saya ketika melakukan pergerakan.

Area penyelaman berupa lereng yang tidak terlalu terjal dengan gugusan terumbu karang yang cukup rapat di kedalaman kurang dari 10 meter, sedangkan lebih dalam dari 10 meter kerapatan terumbu malah semakin berkurang. Sementara kehidupan laut yang saya temui bisa dibilang cukup banyak bagi saya yang belum pernah menyelam di perairan ini dan memiliki jam terbang sedikit. Ada gerombolan ikan karang yang kemudian saya ketahui bernama fusiliers, gobies yang terlihat tersamar pada permukaan pasir yang coklat dan menghamburkan pasir ketika saya dekati, beberapa nudibranch berwarna-warni, dan spesies-spesies lain yang entah apa lagi namanya. Kipas-kipas laut kemerahan besar juga banyak saya temui tumbuh di sela-sela terumbu karang.

Boby yang berada di depan selalu memanggil saya dan menunjuk-nunjuk tiap kali ada mahluk aneh yang ditemui. Ketika hendak bergerak saat mengamati kipas laut, fin Boby tersangkut di sana. Mungkin karena takut merusak kipas laut tersebut, ia meminta saya dan Eko untuk membantu melepaskan fin tersebut. Dan fin Boby pun terlepas. Sebelumnya saya pikir kipas laut tersebut akan patah ketika melihatnya tertarik cukup keras oleh fin Boby, tetapi ternyata kipas laut itu cukup kuat dan elastis.

Saya, Eko, dan Boby berhenti cukup lama di satu titik untuk menunggu teman-teman saya yang lain di belakang. Tapi sekian lama menunggu mereka tak muncul-muncul juga. Saya pikir mereka semua tentu sedang asyik memotret karena hampir sebagian besar yang posisinya di belakang saya membawa kamera bawah laut. Akhirnya kami bertiga memutuskan untuk melanjutkan penyusuran sampai penunjuk ketersediaan udara kami mulai menipis. Setelah hampir satu jam, kami mulai mengayuh perlahan-lahan ke arah permukaan dengan melakukan safety stop di kedalaman tiga meter selama lima menit.

Ada satu kejadian pada penyelaman ini yang mebuat saya sedikit cemas dan perlu selalu saya ingat untuk dijadikan pelajaran berharga. Yaitu ketika pertama kali turun untuk menyelam, di kedalaman sekitar sembilan meter saya merasa BCD saya terlalu kempis sehingga saya merasa belum mendapatkan netral bouyancy atau keseimbangan yang pas. Kemudian saya memainkan tombol pemicu untuk mengisi sedikit udara pada BCD saya. Sayang sungguh disayang, pengisian udara saya ternyata berlebih sehingga saya meluncur lagi ke atas permukaan air dengan cepat. Ketika meluncur ke atas, saya pun berusaha mengurangi udara pada BCD Entah saat itu tombol pemicu pengurangan udara yang lambat bekerja atau respon saya yang kurang cepat, saya pun akhirnya muncul lagi di permukaan.

Kecepatan naik ke permukaan yang salah dalam penyelaman bisa berakibat fatal. Kecepatan naik yang dibolehkan adalah maksimal 10 meter per menit. Jika melebihi itu, maka volume nitrogen yang kita hirup dan telah larut di dalam darah akan membesar secara drastis sebelum sempat dikeluarkan dari tubuh seiring kecepatan naik kita yang tinggi. Bisa dibayangkan jika di dalam pembuluh darah kita terdapat gelembung-gelembung nitrogen yang membesar dengan cepat, akibatnya adalah pembuluh darah pecah yang bisa menyebabkan kelumpuhan, bahkan kematian. Inilah yang disebut sebagai bahaya penyakit dekompresi (decompression sickness).

Setelah berpikir dengan tenang dan merasa diri tidak ada masalah setelah kejadian tersebut, saya memutuskan kembali menyusul ke dalam mengikuti gelembung-gelembung udara yang muncul di permukaan air pertanda teman-teman saya ada di bawahnya.

Penyu Hijau yang Melintas

Menjelang sore kami semua beristirahat untuk melakukan surface interval di Pulau Semak Daun, sebuah pulau kecil yang dimiliki secara pribadi oleh seorang petinggi salah satu partai besar di negeri ini. Pulau Semak Daun terletak sekitar lima kilometer di sebelah barat laut Pulau Pramuka. Ada beberapa rombongan wisatawan yang saya temui sedang berisitirahat di pulau tak berpenduduk ini. Sebuah warung kecil yang didirikan oleh penjaga pulau berdiri di tengah membuat lokasi ini memang cocok dijadikan tempat istirahat ketika berkeliling di kawasan Kepulaun Seribu. Ibu Saun bersama suami dan tiga anaknya yang memiliki warung tersebut mengatakan bahwa ia adalah warga Pulau Kelapa, pulau berpenduduk yang terletak lebih ke utara lagi. Mie instan, makanan kecil, kopi dan teh, serta buah kelapa menjadi barang dagangan Bu Saun di warungnya, memang menu yang cocok untuk sekedar berisitirahat beberapa jam.

Kurang lebih satu jam kami melakukan istirahat surface interval, kami beranjak lagi untuk menuju titik penyelaman berikutnya. Kali ini berada di sebelah barat laut Pulau Panggang dan Pulau Karya. Pulau Panggang dan Pulau Karya sendiri adalah pulau tetangga dari Pulau Pramuka yang keduanya terletak di sebelah baratnya. Kondisi perairannya sama seperti tempat penyelaman kami sebelumnya, berupa perairan dangkal dengan lereng-lereng terumbu karang yang tidak begitu terjal. Pembagian buddy kami masih seperti sebelumnya dimana saya berpasangan dengan Eko. Hanya saja pada penyelaman ini beberapa teman lain masih terlihat di belakang kami.

Kehidupan bawah laut yang saya lihat tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Saya pikir ini disebabkan karena jarak lokasi penyelaman pertama saya dan yang kedua sekarang tidak terlalu jauh. Yang membedakan adalah saya melihat penyu hijau yang berenang menjelajah sendirian. Sangat menyenangkan sekali melihat dan berenang beberapa saat bersamanya. Bagi saya, di dalam laut seperti ini penyu adalah hewan yang paling membuat berdecak kagum dibandingkan ikan-ikan lainnya. Seperti berjalan-jalan dengan kucing atau anjing peliharaan saja kalau di darat.

Hal yang menyedihkan di perairan ini -termasuk titik penyelaman saya sebelumnya- adalah saya melihat ada beberapa terumbu karang yang rusak serta sampah plastik dan kaleng yang tersangkut di beberapa karang. Pemandangan menjadi ternoda ketika melihat hamparan warna-warni terumbu karang terdapat lembaran plastik usang panjang berwarna coklat kotor menyempil dan berkibar. Tapi memang begitulah, sedikit gambaran tentang kedisiplinan sebagian besar masyarakat kita akan kesadaran menjaga lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya.

Kurang lebih empat puluh menit di bawah permukaan air dan seiring jumlah udara dalam tabung yang makin sedikit, saya pun menyudahi penyelaman. Setelah menunggu rekan-rekan lain selama beberapa menit, satu per satu semuanya muncul di permukaan. Ternyata jarak kami satu sama lain terpaut jauh, pantas saja di bawah air kami hanya bertemu di waktu-waktu awal penyelaman.

Mengabadikan Terumbu Karang di Perairan Pulau Pramuka

Sebelum kembali ke Pulau Pramuka, kapal motor mengantarkan kami ke keramba ikan tempat budidaya ikan bandeng milik Nusa Ayu Keramba yang dilengkapi dengan sebuah resto ikan laut serta tempat-tempat penangkaran ikan. Boby menyebut keramba ikan ini sebagai Pulau Nusa Keramba, tempat budidaya ikan bandeng. Selain bandeng, yang menonjol di keramba ini adalah ditangkarkannya ikan hiu. Usai dari keramba, barulah kami beranjak ke Pulau Pramuka ketika gelap sudah mulai turun. Nanti, beberapa dari kami berencana akan melakukan penyelaman di malam hari sehingga beberapa peralatan masih ditinggalkan di dalam kapal.

Tetapi, usai makan malam di keramba, semua rekan seperjalanan ini mulai dihinggapi lelah dan keinginan untuk segera beristirahat. Apalagi kondisi tubuh yang sudah hangat menyebabkan keengganan untuk menceburkan diri lagi ke dalam laut. Otomatis penyelaman di malam hari dibatalkan. Memang perlu diakui bahwa kegiatan yang dilakukan di dalam air ini membuat efek pada tubuh yang luar biasa. Makan menjadi tambah banyak, tidur pun menjadi lebih cepat dan bertambah nyenyak. Akhirnya sesampainya di penginapan, sebagian besar dari kami langsung terlelap setelah membersihkan diri dari asinnya air laut.

Seorang Penyelam Menyalakan Lampu Sorot di Belakang

Hari berikutnya, kami semua pulang kembali ke Kota Jakarta. Walaupun penyelaman yang kami lakukan hanya dua kali, tapi cukup bagi saya menambah pengalaman di dunia bawah laut. Kawasan Pulau Pramuka hanyalah salah satu dari sekian banyak titik penyelaman yang ada di kepulauan Seribu. Suatu hari nanti saya berharap masih diberikan kesempatan lagi untuk melihat alam bawah lautnya di titik-titik yang lain, titik-titik kawasan yang memperlihatkan kepada kita betapa indahnya alam Indonesia. Bahwa semua itu menambah pengetahuan kita akan luasnya perairan nusantara beserta aneka ragam isinya yang patut selalu kita jaga.

Under Water Picture Taken from Chusen Aun

Jakarta, Desember 2011
Read More - Sepotong Keindahan Laut Pulau Pramuka

Sunday, November 13, 2011

KHI, Another Way to Love Indonesia

Untuk menghancurkan suatu bangsa atau negara, maka hancurkan ingatan (sejarah) generasi mudanya! Zaman yang selalu bergerak dan global, tak bisa dipungkiri menyebabkan banyak generasi muda dan juga generasi tua kita sudah mulai melupakan sejarah, bahkan lari meninggalkan sejarah. Sebagian besar lebih memilih modernisasi dan melupakan tradisi, mereka memuja bangsa-bangsa lain tetapi melupakan kebesaran bangsa sendiri, mereka mengagungkan globalisasi tetapi melupakan lokalitas, mereka menjiwai masa kini tapi melupakan dan meremehkan masa lalu.

Di Indonesia, terdapat berbagai macam kebudayaan dengan latar belakang sejarah yang begitu panjang. Dari beragamnya arsitektur bangunan, nama jalan dan kampung, peristiwa sejarah, atraksi budaya, serta bentuk-bentuk kebudayaan lain yang unik dan telah menjadi ciri khas Indonesia. Inilah yang dikenal sebagai special flavours of Indonesia. Namun demikian, tidak semua masyarakat Indonesia kenal dengan potensi sejarah dan budaya di sekitarnya itu. Ada yang menyebutkan bahwa “Orang Indonesia tidak berakar, karena tidak mau mengenal sejarah dan budayanya sendiri.”

Komunitas Historia Indonesia ketika Susur Sejarah Jatinegara

Berawal dari kegiatan Lomba Lintas Sejarah bagi siswa SMA se-Jabodetabek oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang mendapat respon positif dari berbagai pihak, akhirnya tercetuslah ide oleh ketuanya --Asep Kambali-- untuk meneruskan kegiatan itu dan bukan saja ditujukan untuk siswa-siswa sekolah saja, tetapi juga diperuntukkan bagi masyarakat umum. Hal ini menyebabkan beberapa mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Indonesia (UI) mendirikan sebuah komunitas untuk menampungnya, Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI-Historia) atau yang kini lebih dikenal dengan Komunitas Historia Indonesia (KHI) akhirnya terbentuk di Jakarta pada 22 Maret 2003 dengan Asep Kambali sebagai ketuanya.

Komunitas Historia Indonesia memiliki visi membangun kesadaran sejarah dan budaya masyarakat Indonesia yang terwujud dalam nasionalisme dan patriotisme. Visi ini dituangkan dalam misinya untuk mewujudkan program-program yang rekreatif, edukatif, dan menghibur. Semuanya bisa kita lihat pada kegiatan-kegiatan KHI yang telah dilaksanakan selama ini seperti kegiatan-kegiatan wisata sejarah yang mana para pesertanya berwisata dan berekreasi tetapi ada pengetahuan sejarah yang ditanamkan di dalamnya. Kegiatan-kegiatan itu seperti misalnya Jelajah Kota Tua Jakarta, Napak Tilas Proklamasi, China Town Journey, Arabic Village Tour, The Legend of Si Pitung Trip, Wisata Bahari Teluk Jakarta, maupun kegiatan-kegiatan tanpa perjalanan seperti diskusi dan pemutaran film yang berhubungan dengan sejarah. Walaupun kegiatannya sebagian besar berlokasi di sekitar Jakarta, KHI juga tercatat pernah berkegiatan di luar Jakarta seperti Caruban Nagari Heritage Trails di Cirebon, Ekspedisi Tarumanegara di Bogor, atau Susur Pulau Rempah-rempah di Ternate.

Seiring berjalannya waktu, KHI semakin mendapatkan dukungan dan menjalin hubungan dengan pihak-pihak terkait di bidang sejarah seperti instansi-instansi pendidikan, pariwisata, pengelola-pengelola museum, dan instansi-instansi lain. Anggotanya sendiri diklaim telah berjumlah lebih dari sepuluh ribu orang dengan sistem keanggotaan yang tidak mengikat. Maka itu, anggotanya bisa datang dan pergi. Mereka yang memang cinta sejarah, akan setia dan bertahan. Kalau pun tidak, bisa juga tetap bergabung untuk sekadar menambah teman. Dengan bergabung di KHI, mempelajari sejarah dan budaya menjadi tanpa paksaan dan apa adanya. KHI melakukan bagaimana membuat sejarah menjadi menarik dan menyenangkan. Yang mana pada akhirnya para anggotanya dengan mudah mendapatkan hikmah dari pengetahuan tentang suatu peristiwa sejarah, kondisi yang dikenal sebagai kesadaran sejarah.

Jasmerah! Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah! Kata dan kalimat tersebut pernah dikumandangkan dalam pidato Bung Karno, salah seorang proklamator Indonesia. Betapa ia berpesan dengan kalimat tersebut kepada rakyat di negerinya untuk tidak lupa akan sejarah. Mengetahui sejarah bukan hanya soal nostalgia untuk mengenang masa silam, tapi sejarah merupakan awal dan tempat kita kembali. Sejarah, baik kebesaran atau kekerdilan di masa silam adalah cermin dan pelajaran generasi penerus untuk sekarang dan yang akan datang. Dalam perjalanan sebagai diri pribadi atau sebagai sebuah bangsa, kalau titik awal saja belum diketahui bagaimana mungkin kita bisa melakukan perjalanan dengan pasti ke depan?

Disarikan dari Website Komunitas Historia Indonesia

Jakarta, Oktober 2011

Read More - KHI, Another Way to Love Indonesia

Thursday, November 3, 2011

Jejak Perang Napoleon

Jalanan Kota Jakarta masih lengang pada minggu pagi ini. Beberapa pesepeda dan kendaraan bermotor terlihat melaju tanpa hambatan ketika saya berada di dalam Bus Trans Jakarta menuju Museum Bank Indonesia di kawasan Kota Tua. Hari ini adalah hari di mana saya bersama Komunitas Historia Indonesia (KHI) akan menyusuri bangunan-bangunan tua dan jejak-jejak sejarah di kawasan Meester Cornelis atau daerah yang sekarang disebut sebagai Jatinegara dan Matraman di Jakarta.

Kawasan Jatinegara, tampak lalu-lalang kendaraan di depan Stasiun Jatinegara

Di masa pelayaran bangsa-bangsa Eropa, Inggris dan Perancis adalah dua bangsa utama yang bersaing dalam meluaskan wilayah jajahan. Saat Napoleon Bonaparte memerintah Perancis di abab ke-18, kekuasaannya berkembang menaklukkan sebagian besar wilayah Eropa yang memicu terjadinya peperangan yang dikenal dengan nama Perang Napoleon. Belanda yang notabene adalah negeri kecil di benua Eropa pun tunduk di bawah kekuasaan Perancis. Otomatis Pulau Jawa yang dikuasai Belanda menjadi dikuasai Perancis. Hingga akhirnya pada tahun 1811 Inggris melancarkan serbuan perang untuk merebut Jawa dari tangan Perancis yang salah satunya terjadi di kawasan Meester Cornelis (Jatinegara dan Matraman di Jakarta), salah satu perang besar abad 19 di Pulau Jawa yang terlupakan oleh banyak catatan sejarah di negeri kita.

Menuju Jatinegara

Setelah berkumpul di Museum Bank Indonesia, kami menuju Stasiun Jakarta Kota untuk selanjutnya menuju Stasiun Jatinegara dengan kereta api komuter. Dalam catatan sejarah perkeretaapian di Indonesia, kawasan Jatinegara sudah lama dikenal dengan tremnya. Gedung stasiunnya sendiri juga diperkirakan muncul di awal abad ke-20 yang dicirikan dengan gaya arsitektur indis, perpaduan antara gaya arsitektur Eropa dengan arsitektur tropis. Dan dari stasiun inilah kami memulai perjalanan kaki untuk menyusuri bangunan-bangunan kuno dan jejak-jejak Perang Napoleon di seputaran Jatinegara dan Matraman.

Nama Jatinegara baru muncul ketika zaman penjajahan Jepang karena nama Meester Cornelis sendiri adalah nama yang berbau Belanda. Jatinegara dahulu adalah wilayah hutan jati sehingga tidak salah jika daerah itu dinamakan demikian. Sedangkan Meester Cornelis sendiri berasal dari nama Cornelis Senen, seorang pastor keturunan Portugis yang dulu membuka hutan jati tersebut di tepian Sungai Ciliwung pada abad ke-17. Ia oleh orang-orang bumiputera dipanggil dengan sebutan Mester Cornelis sehingga lambat laun daerah bukaan hutan tersebut disebut dengan Meester Cornelis. Bahkan sampai saat ini masih banyak masyarakat ibukota, terutama sopir-sopir angkutan kota yang menyebutnya sebagai Meester Cornelis.

Dari Stasiun, Bangunan Tua, dan Saksi Biksu Perang Napoleon

Dari Stasiun Jatinegara, kami beranjak menyusuri jalanan di depan stasiun yang ramai oleh lalu lalang orang dan kendaraan menuju Gedung Landrad yang lebih dikenal dengan sebutan Gedung Eks Kodim Jatinegara. Seperti umumnya gedung-gedung tua di Jakarta, Gedung Landrad ini bergaya arsitektur indis dengan jendela besar dan tinggi serta ruangan yang luas, sehingga orang Eropa pada zaman dahulu bisa meminimalisasi panasnya udara tropis. Pada zaman Belanda gedung ini digunakan sebagai gedung pengadilan. Sedangkan saat sekarang gedung ini sedang dipugar dan diperbaiki sesuai bentuk aslinya di masa lalu yang nantinya akan digunakan sebagai Gedung Kesenian Jakarta Timur oleh pemerintah setempat.

Gedung Lanrad atau Eks Kodim

Usai dari Gedung Landrad, kami bergerak lagi menyusuri ramainya jalanan menuju SMP N 14 Jakarta. Bangunan gedung sekolah ini sebenarnya klasik dan bernilai keindahan, tetapi sayang kondisinya kusam dan tampak tidak terurus. Apalagi di pintu masuk dan sepanjang pagar depan bangunan ini dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang menjual beraneka barang dan makanan. Ditambah dengan kawasan seberangnya adalah Pasar Lama Jatinegara, otomatis membuat Jalan Raya Matraman di depan sekolah ini ramai, macet, dan semrawut sepanjang hari.

Menuju SMP N 14 Jakarta yang Penuh Sesak oleh PKL


Pasar Jatinegara

Kemudian kami masuk ke Pasar Lama Jatinegara yang tepat berada di depan SMP N 14 Jakarta dan langsung dihubungkan oleh jembatan penyeberangan. Di pasar lama ini banyak terdapat rumah toko langgam Cina yang diperkirakan telah berumur 200-an tahun serta adanya Klenteng Amurva Bhumi atau disebut juga Klenteng Hok Tek Ceng Sin. Kami kemudian bergerak sekitar 200 meter ke arah barat laut. Tepat di ujung pertigaan jalan Matraman Raya terdapat Gereja GBIP Koinina atau lebih dikenal dengan Gereja Bethel yang merupakan bangunan tua bergaya art deco yang telah berdiri dari awal abad ke-20. Pak Moses yang merupakan bagian litbang gereja dengan ramah menjelaskan tentang sejarah dan arsitektur Gereja Bethel ini.

Klenteng Amurva Bhumi atau Klenteng Hok Tek Ceng Sin

Gereja GBIP Koinina atau Gereja Bethel

Usai istirahat makan siang, kami bergerak lagi ke komplek TNI AD Urip Sumoharjo yang mana di kawasan ini juga banyak berdiri bangunan tua masa kolonial bergaya indis. Di kawasan TNI AD serta kawasan Pasar Jatinegara Lama ini diperkirakan sebagai lokasi benteng pertahanan untuk menahan serbuan Inggris yang telah merangsek masuk seusai menghancurkan pertahanan Perancis - Belanda di Kepulauan Seribu dan Pantai Cilincing. Hanya saja saat ini tidak ada ditemukan bekas-bekasnya sama sekali.

Komplek TNI AD Urip Sumoharjo

Setelah menyusuri beberapa titik yang telah saya sebutkan di atas, akhirnya kami berhenti di satu titik yang menyisakan jejak adanya Benteng Mesteer Cornelis. Itulah saluran air Kebon Pala, saluran yang membentang tak jauh dari jembatan rel kereta api Kebon Pala. Saluran air yang saat ini alirannya hitam dan kotor itulah parit yang dibangun di luar tembok benteng. Saluran air sedalam 3 meter dan lebar 4 meter ini membentang di belakang Jalan Matraman di sepanjang Jalan Palmeriam 2 Jakarta Pusat. Saluran air inilah salah satu saksi bisu pertempuran antara pasukan dua kekuatan adidaya dunia saat itu, Perancis melawan Inggris di Pulau Jawa.

Jembatan Kereta Api Kebon Pala yang Membentang

Saluran Air Kebon Pala

Sementara pintu gerbang benteng diperkirakan di jembatan kereta api Kebon Pala tersebut, pintu masuk dan jalan satu-satunya dari arah Sunda Kelapa (pelabuhan utama Batavia) menuju Buitenzorg (Bogor - pusat pemerintahan) di masa lalu. Juga merupakan salah satu bagian jalan dari Jalan Raya Pos Anyer - Panarukan yang dibangun Daendels untuk persiapan pertahan dari serbuan pasukan Inggris.

* * *

Ketika kemudian saya membaca halaman-halaman awal buku Perang Napoleon di Jawa 1811 - bingkisan dari kegiatan susur sejarah ini -, tertulis kisah seorang pemuda Belanda yang jauh-jauh berlayar dari Eropa menuju Jawa untuk mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Dengan semangat Revolusi Perancis yang menggebu ia berangkat. Ia begitu bersemangat akan mempertahankan koloninya, 'tanah airnya' di Pulau Jawa.

Mengetahui itu, betapa saya berpikir bahwa orang asing yang menjajah itu bersemangat menyebut nusantara sebagai tanah airnya. Dan betapa salah satu kisah sejarah Perang Napoleon yang hampir terlupakan ini menyiratkan pelajaran pada kita bahwa kepulaun nusantara terbukti selalu menjadi rebutan negara-negara adidaya. Sementara para bumiputera yang terpecah-pecah hanya menunggu pemenangnya, menunggu siapa berikutnya yang akan mendapatkan giliran untuk menguasainya.

Temukan Foto Jatinegara di Galeri Penulis
Jakarta, Oktober 2011
Read More - Jejak Perang Napoleon

Friday, September 30, 2011

Kampung Cikaramat, Antara Keelokan dan Ancaman Bencana

Di kaki Gunung Pangrango terdapatlah sebuah kampung elok yang tak jauh dari kawasan wisata Situ Gunung. Kampung Cikaramat, begitulah namanya. Setelah melalui jalan setapak menurun, sebuah surau sederhana yang dikelilingi kolam ikan serta sebuah bedug besar dari sebuah batang kayu utuh akan menyambut saat kita baru memasuki kampung ini. Di samping surau tersebut berdiri rumah kepala kampung dengan papan posyandu terpasang di tembok depannya. Dari keterangan papan itu dapat kita ketahui bahwa Kampung Cikaramat ini secara administratif terletak di Desa Sukamanis, Kecamatan Kadukampit, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Kampung Cikaramat

Kampung Cikaramat hanya terdiri dari beberapa rumah yang tak lebih dari hitungan jari. Sementara beberapa petak sawah di sekitarnya memperlihatkan adanya bekas-bekas rumah yang dulu pernah berdiri. Pak Asep atau biasa dipanggil Pak Ayeh yang merupakan Kepala Kampung Cikaramat mengatakan hanya ada 6 dari total 70 kepala keluarga yang masih tinggal di kampung ini. Sisanya telah dipindahkan ke tempat baru yang lebih tinggi tak jauh dari kampung semula lengkap dengan rumah-rumah permanen. Ancaman longsor menjadi alasan kuat kenapa kampung ini dipindahkan. Memang jika dilihat dari posisinya, Kampung Cikaramat terletak di lembah yang merupakan aliran sungai yang berasal dari Situ Gunung, ini artinya sebuah danau besar berada di atas kampung yang selalu siap mengancam. Sementara bukit-bukit yang mengapit lembahan Kampung Cikaramat ini ditumbuhi oleh pepohonan yang didominasi bambu yang di beberapa petaknya terlihat gundul.

Pemda Sukabumi sebenarnya sudah menyarankan pindah lokasi sejak tahun 2006. Karena tiadanya lahan pengganti, akhirnya pemindahan itu baru bisa dilakukan pada tahun 2010 kemarin. Itu pun juga setelah ramai isu musibah tanah longsor seperti Situ Gintung dan Perkebunan Teh Dewata Ciwidey. Dan seperti dituliskan di atas, masih ada 6 kepala keluarga yang tinggal di Kampung Cikaramat lembahan ini, semuanya dengan alasannya masing-masing. Pak Ayeh sendiri mengatakan bahwa sebagian besar warga sebenarnya tidak berkeinginan untuk dipindahkan. Ia juga mengatakan bahwa ia sendiri tidak begitu takut karena sampai saat ini tidak ada tanda-tanda sama sekali akan adanya longsor. Sementara Pak Mamad, seorang lelaki setengah baya yang juga masih tinggal di lembahan ini mengatakan bahwa akses ke mata air yang menjadi alasan utamanya untuk tidak ikut pindah.

Walaupun kampung ini berlokasi di tempat rawan bencana, ternyata kampung ini memiliki keindahan suasana yang menakjubkan. Tak salah jika ada sebuah outbound organizer membeli sepetak tanah di lembahan Cikaramat dan menjadikan kampung ini sebagai salah satu tujuan wisata alam dan budaya. Beberapa komunitas sepeda gunung juga saya lihat melintas ketika saya berjalan menuju kampung ini yang menandakan bahwa kampung ini memang menjadi tujuan wisata.

Dalam acara Astacala Lintas Alam 9, beberapa warga Kampung Cikaramat telah menyiapkan pertunjukan musik tradisional seadanya. Musik Sunda yang menurut saya mirip dengan musik pertunjukan Reog Ponorogo mengalun, dan kita bisa ikut berlatih silat dalam iringan musik tersebut. Beberapa orang wanita berdatangan di samping rumah tempat pertunjukan memperlihatkan cara pembuatan bakul dari anyaman bambu. Juga Pak Mamad yang menunjukkan cara membuat gula aren dan dikerubungi oleh mereka yang ingin mencoba mencicipi gula aren tersebut.

Menganyam Bakul

Memang menjadi tidak alami lagi suasana kampung ini. Tentu karena hal tersebut sengaja disiapkan dan diadakan untuk mengisi acara kegiatan Astacala Lintas Alam 9. Walaupun demikian, hal tersebut tetap cukup atraktif dan menghibur bagi pengunjung yang rata-rata merupakan warga yang hidup di kota. Arnan, sang ketua Astacala Lintas Alam 9 yang telah beberapa kali melakukan survei ke tempat ini mengatakan bahwa suasana Kampung Cikaramat lebih menakjubkan pada hari-hari biasa, terutama di malam hari. Lampu-lampu listrik hanya sedikit yang menyala karena daya listrik yang memang kecil, suara gemericik air, dan suara-suara binatang malam. Suasana pedesaan tataran Sunda sangat terasa. Apalagi ditemani makan malam sederhana dengan sambal khas buatan istri Pak Ayeh, benar-benar nikmat, begitu katanya.

Membuat Gula Aren

Sementara itu beberapa puluh meter di balik bukit di atas lembahan Kampung Cikaramat, telah berdiri Kampung Cikaramat baru. Rumah-rumah baru yang bangunannya serupa satu sama lain berdiri lengkap dengan aliran-aliran listrik yang baru pula. Penggunaan listrik pra bayar di rumah-rumah baru tersebut sangat dibanggakan oleh Pak Ayeh dan warga yang lain. Pak Ayeh dan warga Kampung Cikaramat tak lagi harus jauh-jauh pergi ke Koperasi Unit Desa untuk membayar listrik. Ia cukup membeli pulsa dan melakukan registrasi untuk mendapatkan aliran listrik. Saya hanya tersenyum melihatnya dengan bersemangat bercerita tentang penggunaan listrik pra bayar ini. Salah satu gambaran penggunaan teknologi yang bisa diterima dan dinikmati oleh warga pedesaan.

Kampung Cikaramat baru mungkin memiliki suasana yang berbeda dengan Kampung Cikaramat lama yang berada di lembahan. Suasananya memang terlihat kurang elok. Tidak ada sawah-sawah di sekitar rumah yang bangunannya seragam. Juga jalanan telah lebar berbatu dengan tiang-tiang listrik. Tetapi memang begitulah adanya. Warga kampung yang terancam bencana tanah longsor mau tidak mau harus tinggal di tempat yang baru demi keselamatannya, sampai lambat laun Kampung Cikaramat di lembahan akan seluruhnya hanya menjadi sawah maupun ladang yang tidak setiap hari ditempati.

Jakarta, September 2011
Read More - Kampung Cikaramat, Antara Keelokan dan Ancaman Bencana

Thursday, September 29, 2011

Lintas Situ Gunung, dari Curug Sawer ke Cikaramat

Pada tahun 1814, Mbah Jalun memiliki seorang putra yang bernama Rangga Jaka Lulunta. Dikatakan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan sang pencipta untuk putra mereka, Mbah Jalun membuat sebuah danau. Mbah Jalun pun akhirnya selesai membuat danau dengan menggunakan peralatan sederhana dalam waktu tujuh hari. Ia kemudian menyebut danau itu Situ Gunung, yang berarti danau yang terletak di kaki gunung.

Situ Gunung

Saya tiba di pintu masuk kawasan wisata Curug Sawer ketika waktu telah lewat tengah hari. Cuaca berawan dan teriknya matahari masih terasa, tetapi udara yang sejuk terasa menyelimuti tubuh ketika beberapa lama waktu kami habiskan di pelataran sebuah warung kopi. Pepohonan tingi-tinggi menjulang di sekitar. Juga semak-semak yang meranggas di sisi-sisi lembahan dengan pohon-pohon bambu di beberapa petak punggungan bukit.

Akhir pekan ini, kawasan kaki Gunung Pangrango ini adalah tempat dilaksanakannya sebuah kegiatan lintas alam, Astacala Lintas Alam 9 (ALA 9). Saya bersama beberapa anggota Astacala dari Jakarta memang telah merencanakan akan turut serta dalam kegiatan ini. Sekedar melepas kerinduan akan segarnya hawa pegunungan dan juga sekedar membantu kesibukan panitia dalam melaksanakan acara lintas alam untuk civitas akademika IT Telkom di Bandung.

Kami memulai perjalanan menyusuri jalan setapak kecil di tepi sungai. Suasana lokasi di awal perjalanan ini terlihat gersang yang dipenuhi oleh semak-semak. Padahal kawasan ini sudah termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gede Pangrango. Di satu titik ada sebuah papan keterangan bediri menandakan adanya kegiatan penghijauan oleh suatu perusahaan yang bekerja sama dengan pemerintah setempat dan warga masyarakat. Di beberapa titik selanjutnya, pondokan-pondokan warung sederhana berdiri di samping jalan setapak menawarkan makanan dan minuman ringan bagi pengunjung Curug Sawer yang menjadi tujuan kami. Memang jalur menuju Curug Sawer ini dari pintu masuknya cukup jauh, perkiraan saya sekitar 2 km. Beberapa peserta ALA 9 terlihat beristirahat di salah satu warung.

Berjalan Menuju Curug Sawer

Menjelang tiba di lokasi tujuan, pepohonan mulai bertambah lebat. Kanopi hutan mengelilingi kami di sepanjang jalan. Aliran sungai mulai terdengar mengalir dan udara yang lebih sejuk pun menyambut. Gemuruh air terjun terdengar. Di tanah datar yang luas kami pun beristirahat dan melanjutkan membangun tenda untuk bermalam. Sementara di atas tanah datar di seberang sungai, para peserta ALA 9 juga tampak beristirahat yang sebagian besar dari mereka telah beranjak ke air terjun yang merupakan daya tarik utama dari tempat ini.

Tempat Camp Peserta ALA 9

Jembatan Bambu di Aliran Sungai di Sekitar Curug Sawer

Suasana malam di lembahan ini terasa sangat dingin. Suara binatang hutan samar terdengar di berbagai penjuru di sela-sela suara derasnya aliran sungai dan air terjun. Api unggun dan keriuhan anak-anak muda juga terdengar di kawasan hutan ini. Sementara di sebuah warung di tepian hutan terlihat ada nyala kehidupan. Memang di tempat ini ada beberapa bangunan warung berjajar. Hampir seluruhnya tutup dan hanya satu warung tersebut saja yang buka. Kata ibu pemilik warung, ia membuka warungnya jika ada wisatawan yang bermalam. Segelas kopi susu dan beberapa pisang goreng terasa begitu nikmatnya menemani saya dan beberapa orang rekan bertukar pikiran di warung tersebut sampai malam kian larut.

Burung-burung berkicau menyambut pagi. Saya mulai menggeliat melawan rasa malas, kemudian mengeluarkan tubuh dari hangatnya balutan sleeping bag. Udara dingin yang segar menyambut. Hari ini kegiatan ALA 9 adalah melanjutkan perjalanan lintas alam menuju Situ Gunung. Usai sarapan, berkemas, dan bolak-balik mengangkut berbagai peralatan kegiatan, saya pun bergegas menyusul para peserta ALA 9 yang telah lebih dulu berangkat meninggalkan Curug Sawer.

Curug Sawer

Aliran Sungai yang Mengalir dari Curug Sawer

Situ Gunung 2,5 km. Begitu terbaca dari sebuah plang petunjuk arah di pertigaan jalan setapak yang memisahkan arah jalur ke Curug Sawer dan arah ke Situ Gunung. Saya bersama beberapa rekan menyusuri jalan setapak berbatu yang tertata baik yang dinaungi pepohonan hutan hujan tropis. Kicau burung dan desir angin mengiringi di sepanjang jalan. Perjalanan awal menanjak kemudian menurun sampai menyeberangi lembahan kecil dengan jembatan yang sungainya dialiri sedikit air. Kami pindah punggungan untuk selanjutnya perjalanan kembali menanjak sampai tiba di sebuah gigiran bukit. Situ Gunung samar-samar sudah terlihat di bawah sana. Sekilas pemandangan ini saya rasakan seperti pemandangan Situ Lembang jika dilihat dari gigiran bukitnya di sebelah barat. Sorak-sorai orang di bawah sana terdengar juga sampai di tempat saya berdiri ini. Sepertinya itu adalah suara-suara himpunan mahasiswa sebuah perguruan tinggi yang sedang melaksanakan kegiatan ospek.

Menyusuri Jalan Setapak dari Curug Sawer ke Situ Gunung

Tepat tengah hari saya telah sampai di tepian Situ Gunung. Dua perahu karet warna merah tampak melaju menuju tepian danau di seberang sana. Ternyata para peserta ALA 9 melanjutkan perjalanan melintasi Situ Gunung ini dengan perahu. Sedangkan saya sendiri memilih untuk berjalan menyusuri tepian danau menuju ke seberang. Jalan setapak kecil yang melipir punggungan menjadi pilihan berikutnya untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini saya hanya berdua saja bersama Ade, seorang kawan dari Surabaya yang juga ikut kegiatan ini. Hutan masih menaungi dengan lembahan cukup dalam berada di samping kanan jalur perjalanan. Beberapa marker ALA 9 yang menjadi petunjuk arah terlihat tergantung di batang-batang pohon. Akhirnya sebuah pos pemberhentian samar-samar terlihat beberapa meter di depan dengan suara-suara peserta ALA 9 yang sedang memainkan sebuah games.

Menyeberangi Danau dengan Perahu Karet

Setelah cukup beristirahat di pos pemberhentian ini, saya dan Ade pun melanjutkan perjalanan lagi bersama dua kelompok peserta ALA 9 menuju pos selanjutnya. Suasana masih tidak berubah. Naungan pepohonan besar dengan lembahan cukup curam di samping kanan kami. Sampai akhirnya sebuah marker ALA 9 membelokkan arah perjalan menuju sebuah jalan setapak yang sedikit lebih besar dan berbatu. Hutan mulai berganti dengan semak-semak. Kemudian beberapa ladang penduduk serta sebuah kampung yang mulai terlihat di kejauhan. Udara pun terasa lebih panas. Kembali di sebuah pos pemberhentian di sebuah tanah datar di bawah naungan pohon rindang, saya beristirahat sambil menonton beberapa kelompok peserta ALA 9 mengikuti games-games di pos tersebut.

Amien, salah seorang panitia ALA 9 mengatakan bahwa beberapa puluh meter di depan akan terlihat Kampung Cikaramat, tempat pemberhentian kegiatan ALA 9 untuk makan siang dan melihat pertunjukan budaya setempat. Saya dan Ade pun bergabung lagi dengan beberapa rekan lain menuju arah yang ditunjukkan. Udara terasa cukup panas ketika kami mulai menuruni jalan setapak menurun menuju Kampung Cikaramat. Dari bawah sana terlihat beberapa orang anggota komunitas sepeda gunung menuntun sepedanya berjalan berlawanan arah dengan kami. Juga spanduk-spanduk ALA 9 dan sponsor di samping sebuah rumah. Sementara suara gamelan sunda perlahan-lahan mulai makin jelas terdengar ketika kami tiba di kampung ini.

Menuju Kampung Cikaramat

Di samping rumah tempat gamelan sunda itu mengalun sudah ramai dipenuhi oleh para peserta ALA 9 yang sedang berisitirahat. Pak Ayeh, sang kepala kampung pun dengan senyumnya yang ramah ikut memberikan sambutan kepada kami sambil menerangkan tentang daya tarik yang ada di kampung tersebut. Mata air alami, musik tradisional, anyaman bakul, gula aren, serta sawah dan ladang yang menghijau. Saya yang merupakan orang desa yang cukup lama tinggal di ibu kota pun ikut melihat-lihat. Semilir angin Lembahan Cikaramat menemani saya berkeliling kampung.

Kalau saya pikir, semua yang saya lihat ini sudah ada di desa saya sendiri, di Klungkung Bali sana. Mata air Cikaramat mengingatkan saya akan pancuran mata air yang tak pernah berhenti mengalir di pura-pura di lembahan di desa kelahiran saya. Melihat ibu-ibu Kampung Cikaramat menganyam bakul, saya teringat kembali pada beberapa keluarga saya yang nafkahnya dari menganyam penarak (Bahasa Bali yang artinya bakul besar), juga berbagai anyaman dan seni ukir yang lebih banyak ragamnya. Dan saya pikir, di seluruh desa di nusantara memilikinya. Ah betapa hal-hal umum seperti ini menjadi sangat langka untuk dilihat, menjadi sebuah tontonan unik ketika kami sudah menjadi orang kota. Sebuah pergeseran perlahan yang mengubah budaya dan gaya hidup orang desa yang telah berubah menjadi orang kota.

Sebuah Rumah di Kampung Cikaramat

Beberapa jam berikutnya setelah berpamitan dengan Pak Ayeh dan beberapa warga yang ada, kami pun melanjutkan perjalanan pulang menyurusi lagi jalan sebelumnya yang telah kami tempuh menuju Kampung Cikaramat. Hanya saja di sebuah pertigaan jalan, kami menyusuri jalan setapak cukup besar dan berbatu menuju pintu masuk kawasan wisata Situ Gunung. Saya dan para peserta ALA 9 dengan tubuh-tubuh yang lelah setelah seharian berjalan pun berkumpul kembali sebelum pulang, bercanda tawa sambil menantikan pengumuman pemenang kelompok terbaik selama kegiatan. Mengagumi kembali akan apa yang telah didapatkan selama dua hari ini, semoga semuanya bisa menumbuhkan kearifan dalam bersikap terhadap budaya dan alam lingkungan.

Temukan Foto Curug Sawer, Situ Gunung, dan Cikaramat di Galeri Penulis
Jakarta, September 2011
Read More - Lintas Situ Gunung, dari Curug Sawer ke Cikaramat

Tuesday, September 27, 2011

Astacala Lintas Alam 9

Astacala Lintas Alam 9 (ALA 9) yang merupakan kegiatan rutin yang ditujukan bagi civitas akademika IT Telkom telah selesai dilaksanakan pada hari Sabtu – Minggu, 24 – 25 September 2011. ALA 9 ini mengambil lokasi di Curug Sawer, Situ Gunung, dan Kampung Cikaramat kawasan kaki Gunung Pangrango, Sukabumi, Jawa Barat. Mengambil tema “When Culture Meet The Nature“, ALA 9 ini ditujukan sebagai ajang petualangan dan hiburan bagi pesertanya di alam bebas dan berbaur dengan masyarakat serta budayanya. ALA 9 ini dimotori oleh panita yang berasal dari Angkatan Angin Puncak Astacala dengan ketuanya Arnan Tri Arminanto. Dari jumlah peserta, ALA 9 ini diikuti oleh 96 orang yang sebagian besar adalah mahasiswa IT Telkom dan beberapa yang lain dari Poltek Telkom, IM Telkom, Unisba, dan juga diikuti oleh satu orang dosen IT Telkom.

Camp ALA 9 di Sekitar Curug Sawer

Pada hari pertama kegiatan ALA 9 ini, rombongan panitia dan pesera tiba di sebuah lapangan di dekat pintu masuk kawasan wisata Situ Gunung setelah beberapa jam menempuh perjalanan dari Kampus IT Telkom. Seusai makan siang, semua rombongan bergerak menuju Curug Sawer yang berjarak kurang lebih 3 km dengan menyusuri jalan aspal sampai memasuki pintu masuk kawasan wisata curug, kemudian dilanjutkan dengan menyusuri kawasan ladang penduduk dan batas hutan. Di sekitar aliran sungai Curug Sawer inilah rombongan panitia dan peserta ALA 9 bermalam. Tenda-tenda doome didirikan oleh peserta ALA di tepi tanah datar yang cukup luas di satu sisi sungai, sementara panitia ALA sendiri mendirikan tenda di satu sisi yang lain. Pada malam hari, kegiatan api unggun dengan iringan lagu-lagu akustik panitia ALA 9 berlangsung membaurkan seluruh peserta dan panitia menjadi satu. Sebagai informasi, di hari pertama ALA 9 ini ada satu orang peserta diantarkan pulang kembali ke Kampus IT Telkom karena salah satu anggota keluarganya yang meninggal dunia.

Para Peserta dan Panitia ALA 9

Hari kedua acara ALA 9 adalah trekking menyusuri kawasan hutan menuju Situ Gunung dan dilanjutkan lagi menuju titik finish di Kampung Cikaramat. Di sepanjang jalur perjalanan terdiri dari beberapa pos yang mana di setiap pos tersebut para peserta ALA 9 akan mengikuti permainan-permainan yang sudah ditentukan, seperti permainan lempar bola cat, bola labirin, mendayung di danau, dan lain-lain. Sesampainya di titik finish di Kampung Cikaramat, para peserta ALA 9 menanam bibit pohon dilanjutkan dengan melihat pertunjukan budaya yang ada seperti permainan musik tradisional Sunda, proses mengayam bakul, dan pembuatan gula aren.

Perjalanan Lintas Alam

Salah Satu Lomba Mendayung dalam ALA 9

Usai ALA 9 ini, para peserta juga masih mengikuti lomba fotografi dan jurnalistik yang berkaitan dengan ALA 9 yang hasilnya akan diumumkan seminggu setelah kegiatan. Sementara selama kegiatan berlangsung telah ditetapkan pula juara-juara lomba yang penilaiannya didapatkan dari kekompakan tim serta nila-nilai lomba yang diikuti. Secara umum, walaupun ditemui beberapa kekurangan, ALA 9 ini bisa dibilang berjalan lancar dan sukses. Semoga ke depannya acara-acara yang identik seperti ini masih bisa dilaksanakan untuk bisa beradaptasi dengan alam dan lingkungan sekitar.

Jakarta, September 2011
Read More - Astacala Lintas Alam 9

Friday, July 15, 2011

Catatan Kecil dari Jawa Tengah

Di penghujung senja ketika saya baru saja turun dari Gunung Lawu dan menyusuri jalan menurun di Tawangmangu, kerlap-kerlip lampu Kota Solo sudah tampak di kejauhan. Diantar oleh dua orang tukang ojek, akhirnya saya tiba di rumah Astaka di Sukoharjo. Walaupun saya sering kali mampir di Jogja, tapi saya sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Solo, termasuk Sukoharjo. Untuk itulah selama beberapa hari ke depan saya berniat mengunjungi beberapa kota di sekitar Jogja ini : Solo, Klaten, dan Magelang.

Trah Mataram di Keraton Surakarta

Jika orang kebanyakan menyebutkan bahwa Budi Utomo adalah organisasi nasional pertama di Indonesia, Kota Solo adalah sebuah saksi bisu yang bisa menyanggahnya. Seperti yang banyak diceritakan pada Tetralogi Buru karangan Pramoedya Ananta Toer yang terkenal itu, Kota Solo adalah kota tempat berkembangnya Sarekat Dagang Islam, organisasi nasional bercorak Islam pertama di Indonesia.

Tapi bukan ke arah organisasi nasional pertama itu ketertarikan saya dalam perjalanan ini. Interest point saya lebih tertuju pada Keraton Surakarta, tempat di mana saya pikir akan bisa mendapatkan sedikit catatan dan gambaran sejarah perjalanan kekuasaan raja-raja di Tanah Jawa. Melewati alun-alum keraton dan Pasar Klewer yang ramai, di seputar keraton ini ternyata suasananya hiruk pikuk oleh lalu-lalang para pejalan. Sebuah jalan kecil juga memotong memisahkan antara alun-alun dan pendopo dengan kompleks keraton.

Keraton Surakarta

Setelah Kesultanan Demak berganti menjadi Kesultanan Pajang dan kemudian berganti lagi menjadi Kesultanan Mataram, tersebutlah keratonnya berada di Kartasura pada tahun 1679. Gelar raja-raja Mataram saat itu adalah Amangkurat dan juga mulai muncul gelar baru Pakubuwono. Pada suatu ketika terjadi sebuah tragedi pertikaian Geger Pecinan membuat Keraton Kertasura tidak layak lagi dijadikan sebagai istana. Pakubuwono II yang saat itu menjadi pemimpin trah Mataram di Kertasura pun memindahkan keraton ke Desa Sala (Solo) pada tahun 1774, yang akhirnya kemudian dikenal sebagai Keraton Surakarta sampai sekarang.

Kaki saya melangkah di halaman dalam keraton yang dipayungi oleh rindangnya pohon-pohon mahoni. Pasir-pasir halus yang katanya diambil dari pantai selatan menutupi sebagian besar halamannya. Beberapa pot keramik buatan Cina yang juga katanya pemberian saudagar dari seberang berjajar di tepi-tepi balai pertemuan. Begitu juga patung-patung gaya Eropa pemberian Ratu Belanda terpasang dengan rapi, mengingatkan saya akan patung-patung gaya Eropa di pemakaman Belanda di Taman Kober Jakarta. Abdi-abdi dalem keraton tampak di beberapa sudut. Abdi dalem pria yang juga bertugas sebagai guide menjelaskan seluk beluk keraton kepada beberapa pengunjung. Sementara di sudut-sudut lain para abdi dalem wanita tampak duduk-duduk dan berbincang.

Seorang abdi dalem, sebut saja namanya Joko dan saya panggil ia Mas Joko, menemani saya saat itu. Ia begitu bersemangat bercerita tentang keraton ini. Gaya bertuturnya begitu jenaka sambil menyarankan saya untuk berfoto di beberapa benda bersejarah di sana. Ia bercerita tentang silsilah para sultan, tentang benda-benda yang ada di keraton, tentang kehidupan keraton dulu dan sekarang, juga tentang nasihatnya pada saya untuk berkenalan dengan putri-putri keraton. Untuk yang terakhir ini, entah kenapa ia begitu bersemangat pada saya. "Zaman modern sekarang ndak pa pa Mas mendekati putri keraton, yang penting Mas suka, tuan putri suka, kanjeng sasuhunan pasti merestui", begitu ceritanya sambil terkekeh. Sementara Astaka yang menemani saya saat itu hanya tersenyum.

Tentang sejarah keraton ini, Mas Joko cukup berhati-hati menceritakannya ketika dikaitkan dengan pengaruh Belanda dan pecahnya keraton dengan munculnya keraton tandingan di Yogyakarta oleh Pangeran Mangkubumi (yang nantinya bergelar Hamengkubuwono I). Sedikit silsilah tentang para raja awal di Surakarta dan Yogyakarta : Hamengkubuwono I adalah saudara tiri Pakubuwono II. Adanya pemerintahan tandingan di Keraton Yogyakarta disebabkan karena putra mahkota penerus tahta Keraton Surakarta yang ditunjuk adalah putra Pakubuwono II sendiri (RM Mas Suryadi / Pakubuwono III), bukan Pangeran Mangkubumi (Hamengkubuwono I).

Di tengah perpecahan, kongsi dagang Belanda (VOC) yang sudah menjamah nusantara dengan mudah memasukkan pengaruhnya ke dalam keraton, termasuk resminya pemisahan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta dalam Perjanjian Giyanti. Begitu juga dengan munculnya Kadipaten Mangkunegaraan dan Pakualaman, semua itu tidak lepas dari pengaruh campur tangan Belanda. Wilayah yang semakin kecil dan terpecah-pecah menyebabkan pengaruh Belanda semakin kuat. Bahkan semenjak pemerintahan Pakubuwono III di Keraton Surakarta, penobatan raja-raja berikutnya pun harus seizin Belanda.

Saya di samping Maklumat Pakubuwono XII (Picture by Astaka)

Sampai kemudian saya teringat lagi akan sebuah maklumat di pendopo keraton, tertanggal 1 September 1945 dari Pakubuwono XII tertempel pada sebuah papan besar. Berdebu dan teronggok seperti tidak ada yang memperhatikan. Sebuah maklumat pernyataan yang ditulis jauh di kemudian hari, seratus tahun lebih pada pasca Perang Dunia II berakhir. Jepang yang telah menggantikan posisi Belanda atas Keraton Surakarta harus melepaskan kekuasaannya atas nusantara. Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri, Keraton Surakarta pun harus menentukan sikap. Dan maklumat itu terbaca sebagai berikut.

Makloemat Seri Padoeka Ingkang Sinoehoen Kandjeng Soesoehoenan
Kepada : Seloeroeh Pendoedoek Negeri Soerakarta Hadiningrat


1. Kami Pakoeboewono XII, Soesoehoenan Negeri Soerakarta Hadiningrat menjatakan Negeri Soerakarta Hadiningrat jang bersifat keradjaan adalah daerah istimewa dari Negara Repoeblik Indonesia, dan berdiri di belakang Pemerintah Poesat Negara Repoeblik Indonesia.


2. Kami menjatakan, bahwa pada dasarnya segala kekoesaan dalam daerah Negeri Soerakarta Hadiningrat terletak di tangan Soesoehoenan Soerakarta Hadiningrat dan oleh karena itoe, berhoeboeng pada keadaan dewasa ini, maka kekoeasaan-kekoeasaan jang sampai kini tidak di tangan kami dengan sendirinya kembali ke tangan kami.


3. Kami menjatakan, bahwa perhoeboengan antara Negeri Soerakarta Hadiningrat dengan Pemerintah Poesat Negara Repoeblik Indonesia bersifat langsoeng.


4. Kami memerintahkan dan percaja kepada seloeroeh pendoedoek Negeri Soerakarta Hadiningrat, mereka akan bersikap sesoeai dengan sabda Kami tersebut di atas.


Soerakarta Hadiningrat

1 September 1945


Pakoeboewono XII


Tapi saat ini Surakarta bukan daerah istimewa seperti Yogyakarta, melainkan bagian dari Provinsi Jawa Tengah. Harus diakui bahwa pada saat kemerdekaan Indonesia, beberapa kalangan menyebutkan bahwa Kasunanan Surakarta tidak memiliki peran penting di masa-masa awal berdirinya Negara Republik Indonesia. Tetapi harus diakui pula bahwa Kasunanan Surakarta di bawah pemerintahan Pakubuwono XII saat itu merupakan sosok pelindung kebudayaan Jawa yang dihormati oleh tokoh-tokoh nasional.

Makam Sang Pujangga

Klaten adalah tujuan saya berikutnya. Menyusuri jalan raya Solo menuju Yogyakarta di atas sebuah bus ekonomi, saya berhenti di pertigaan Ngaran di Desa Mlese, Klaten. Astaka sudah tak menemani saya lagi saat itu. Kali ini saya menuju rumah Pinan, anggota Astacala yang tinggal di Desa Srebegan, Klaten. Sebenarnya tujuan saya di Klaten hanyalah bermalam. Tapi dari obrolan saya malam itu bersama Pinan, ternyata tak jauh dari rumahnya adalah tempat dimakamkannya seorang pujangga terkenal Kasunanan Surakarta pada masa pemerintahan Pakubuwono VII.

Makam Ronggowarsito

Dari catatan-catatan sejarah, masa-masa setelah kejatuhan Majapahit adalah masa miskinnya karya sastra nusantara. Jatuhnya Majapahit menyebabkan hilangnya pusat kekuasaan. Kerajaan-kerajaan kecil berdiri sendiri di masing-masing wilayahnya. Nusantara bubar dan kerajaan-kerajaan kecil itu saling berebut pengaruh untuk menjadi penguasa tunggal dengan keinginan menyatukan kembali Tanah Jawa dan nusantara. Keadaan kacau balau dan perang seringkali terjadi menyebabkan Tanah Jawa bermandi darah. Di masa-masa seperti itulah orang-orang tidak memiliki kesempatan berkreasi dalam bidang seni dan sastra.

Lebih dari satu abad berselang dari runtuhnya Majapahit, di masa yang mulai damai tapi di bawah pengaruh penguasa asing, lahirlah kembali seorang pujangga besar di Tanah Jawa. Ialah Ronggowarsito yang bernama asli Bagus Burham. Ia lahir ketika Kasunanan Surakarta diperintah oleh Pakubuwono IV, seorang raja yang mencintai sastra dan seni. Dan konon Ronggowarsito pernah berguru pada Pakubuwono IV ini. Ia juga pernah belajar sastra-sastra Hindu di Pulau Bali walaupun ia sendiri menganut Islam. Di masa pemerintahan Pakubuwono VII lah ia diangkat sebagai pujangga keraton dan karya-karyanya banyak tercipta.

Ada sebuah bait syair yang ditulis oleh Ronggowarsito yang sangat terkenal. Bait syair yang disebut zaman edan yang diambil dari Serat Kaladita. Sebuah syair kritik akan praktik suap dan korupsi para pejabat kerajaan pada masa itu, sindiran untuk para pejabat di masa pemerintahan Pakubuwono IX. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa praktik-praktik kotor semacam itu masih banyak kita saksikan di masa sekarang, dan boleh jadi itu adalah warisan budaya nusantara masa lampau, bahkan jauh lebih lampau dari waktu pembuatan syair itu jika kita membuka kembali catatan-catatan sejarah yang jujur.

Berikut petikan syair zaman edan yang telah diterjemahkan dari Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia.

Menyaksikan zaman edan (gila)
Serba susah dalam bertindak

Ikut edan (gila) tidak akan tahan

Tapi kalau tidak mengikuti
Tidak akan mendapat bagian

Kelaparan pada akhirnya

Namun telah menjadi kehendak Allah

Sebahagia-bahagianya orang yang lalai

Akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada

Kawasan Candi Prambanan

Kalau latar sejarah yang saya ceritakan dalam perjalanan sebelumnya adalah pada masa Mataram Islam, berikutnya adalah masa Mataram Hindu. Mataram Hindu atau disebut Medang adalah kerajaan yang jauh berdiri ratusan tahun sebelum adanya Mataram Islam. Lebih tua dari Pajang dan Demak, lebih tua dari Majapahit, lebih tua dari Singosari, juga lebih tua dari Kediri dan Kahuripan. Jika dilihat dari waktunya, Mataram Hindu berkuasa pada selang waktu 732 - 927 M di nusantara, masa di mana kerajaan di Tanah Jawa ini berada di bawah bayang-bayang kebesaran Sriwijaya di Bumi Andalas.

Setelah saya berpisah dengan Pinan, saya melanjutkan perjalanan ke Prambanan. Jika orang-orang cenderung mengidentikkan Prambanan dengan Yogyakarta, sebenarnya Prambanan adalah wilayah dari Klaten dan juga Sleman di Jawa Tengah. Begitu pula dengan candinya, lebih sering disebut sebagai Candi Prambanan, padahal candi-candi di kawasan Prambanan tersebut memiliki nama-nama sendiri. Seperti Candi Brahma, Candi Wisnu, Candi Siwa, dan lain-lain. Hanya saja karena candi-candi tersebut berada di kawasan Prambanan, mungkin berikutnya orang lebih enak menyebutnya sebagai Candi Prambanan.

Candi Prambanan

Dahulu pada masa Mataram Hindu agama bukanlah agama Hindu, melainkan aliran-aliran dengan perbedaannya masing-masing. Ada Siwa, Wisnu, Buddha, Tantrayana, Kalacakra, dan lain-lain. Tapi sejarah lebih sering menyebutnya sebagai Hindu dan Buddha saja. Sehingga candi-candi tersebut yang berfungsi sebagai tempat pemujaan masing-masing aliran itu dinamakan sesuai aliran atau fungsinya.

Setelah Sanjaya sebagai penguasa Mataram dikalahkan oleh Sailendra dari Sriwijaya, kemudian Rakai Pikatan yang merupakan keturunan Sanjaya berhasil menyunting seorang putri dari Sriwijaya, sehingga secara politis itu menyatukan Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra. Untuk memperingati kembalinya kekuasaan Wangsa Sanjaya itulah Rakai Pikatan yang menjadi raja saat itu mendirikan Candi di Prambanan yang ditujukan sebagai tempat pemujaan mereka yang berbeda-beda aliran, yang secara umum disebut Hindu. Kalau ada yang mengatakan candi ini dibangun oleh Diah Balitung (juga Wangsa Sanjaya dan keturunan Rakai Pikatan), kemungkinan besar candi ini selesai dibangun ketika masa pemerintahan Diah Balitung tersebut.

Memang masuk akal jika masa pembangunan memakan waktu yang lama dan melalui beberapa masa pemegang kekuasaan, karena candi yang dibangun adalah candi yang besar. Jadi, lupakan cerita atau legenda tentang kisah Roro Jonggrang yang sarat akan mitologi di dalam sejarah. Jika ditinjau dari akal sehat, mungkinkah candi sebesar itu dibangun hanya dalam semalam oleh Bandung Bondowoso yang ingin menikahi Roro Jonggrang, ibunya sendiri? Apalagi mitologi itu tidak jauh berbeda dengan mitologi di tataran sunda, Gunung Tangkuban Perahu yang konon adalah sebuah perahu yang dilemparkan oleh Sangkuriang karena ingin menikahi Dayang Sumbi, juga ibunya sendiri. Ya, kisah-kisah legenda itu sebenarnya diadaptasi dari cerita-cerita luar yang masuk ke masyarakat setempat sebagai kebudayaan.

Di sebelah selatan kawasan Candi Prambanan, ada pula Candi Ratu Boko. Saya mengunjunginya bersama beberapa wisatawan yang mana kunjungan ke kawasan Candi Prambanan ini adalah satu paket dengan kunjungan ke Candi Ratu Boko. Sama seperti penamaan Candi Prambanan, Candi Ratu Boko dinamakan demikian juga karena tempat berdirinya, yaitu di Bukit Ratu Boko. Candi ini juga dibangun pada satu masa, pada masa Kerajaan Mataram. Sebuah prasasti yang dikeluarkan oleh Rakai Pananggaran (raja Mataram keturunan Sanjaya saat itu) dan saya baca dari brosur wisata candi, kawasan Candi Ratu Boko ini sebenarnya bernama Abhayagiri Wihara, yang berarti asrama tempat bhiksu Buddha di bukit yang penuh kedamaian.

Candi Ratu Boko

Berjalan mengelilingi kawasan candi di Prambanan dan di Bukit Ratu Boko ini, saya melihat puing-puing bebatuan yang masih teronggok dan terkumpul di beberapa tempat. Batuan-batuan penyusun candi yang runtuh adalah karena gempa bumi di masa lampau dan juga yang baru terjadi pada tahun 2006 lalu. Bahkan beberapa candi ada yang sudah terbenam dalam tanah yang sedang dalam proses penggalian. Sungguh menakjubkan melihat perjalanan waktu, candi yang begitu besar dan ditinggalkan dalam waktu lama sampai bisa terbenam dan tersembunyi di dalam tanah. Pulau Jawa yang berada dalam lempeng Asia Australia memang rawan mengalami gempa bumi. Akhirnya ketika candi itu tak dipergunakan lagi seiring gempa yang merusakkan dan pemerintahan yang berkuasa saat itu pindah ke Jawa Timur sampai kerajaan-kerajaan berikutnya pun menggantikan di kemudian hari.

Borobudur dan Mendut di Magelang

Seusai dari Prambanan, saya melanjutkan perjalanan ke arah Magelang. Senja telah berganti malam ketika saya tiba di Polsek Mertoyudan, Magelang. Adi, adik kelas saya di Kampus IT Telkom adalah yang menjadi kontak saya di Magelang. Yang saya ketahui ia adalah seorang polisi lulusan akademi kepolisian dan bertugas di Mertoyudan, Magelang. Maka tidak heran titik pertemuan saya dengannya adalah di kantor polisi.

Penampilan saya yang kucel, jenggot dan kumis yang belum dicukur, membawa carrier, serta dengan pakaian lusuh yang itu-itu saja yang masih saya kenakan semenjak dari Solo, membuat heran pandangan para polisi di sana. Dalam hati saya berpikir, mungkin saya dikira penjahat yang baru ditangkap. Apalagi Adi yang menjemput saya ternyata adalah seorang Kepala Unit Reserse Kriminal di sana. Tapi melihat Adi yang jabatannya setingkat dengan wakapolsek di sana menyambut saya dengan ramah, kontan para polisi yang menjadi bawahannya itu juga menyalami saya dengan ramah.

Alhasil, Adi yang malam itu masih sibuk dengan kasus-kasus kriminal, menugaskan anak buahnya untuk menemani saya pulang pergi ke asramanya dan sedikit jalan-jalan mengelilingi Kota Magelang. Begitu juga keesokan harinya ketika saya hendak pamit meneruskan perjalanan ke Borobudur, Adi bersikeras mengantarkan. Jadilah kunjungan saya ke Borobudur sampai nanti balik ke Jogja ibarat seorang VVIP, dikawal oleh dua orang polisi dan free untuk masuk ke setiap tempat wisata. Semua perjalanan lancar.

Candi Borobudur

Candi Borobudur tak ubahnya juga seperti Candi di kawasan Prambanan, ia dibangun ketika masa Kerajaan Mataram Hindu di bawah Wangsa Sailendra, di bawah pemerintahan Samaratungga ketika Sriwijaya telah menguasai wilayah itu. Karena saat itu kerajaan Mataram berada di bawah kekuasaan Sriwijaya, tak heran jika Candi Borobudur ini bercorak Buddha. Dipercaya berasal dari Bahasa Sansekerta 'Bhumi Sambhara Bhudara', Borobudur berarti bukit peningkatan kebajikan. Sepuluh tingkatan kebajikan itu dilambangkan oleh punden berundak Borobudur berjumlah sepuluh berbentuk mandala yang melambangkan alam semesta.

Selain Borobudur, ada Candi Mendut yang juga bercorak Buddha yang saya kunjungi di Magelang. Candi ini sebenarnya bernama asli wenuwana yang berarti hutan bambu. Mendut sendiri merupakan nama desa tempat candi tersebut. Berdiri di dekat Sungai Elo, candi ini dibangun oleh Wangsa Sailendra sebagai tempat pemujaan. Hal yang cukup unik dari candi ini dibandingkan candi-candi sebelumnya yang saya kunjungi adalah gambaran pada reliefnya. Jika Candi di Prambanan dan Candi Borobudur reliefnya lebih dekat ke cerita-cerita ajaran agama keduanya seperti kisah Ramayana maupun kisah perjalanan Sang Buddha, relief pada Candi Mendut cenderung lebih umum bergambar cerita dongeng yang berisi pesan-pesan kebajikan.

* * *

Usai dari Mendut di Magelang, akhirnya saya menuju Jogja untuk selanjutnya pulang ke Jakarta. Sambil menunggu waktu keberangkatan kereta, di satu sudut Malioboro ditemani segelas teh manis dan musisi jalanan yang datang silih berganti, saya masih terpesona oleh kisah-kisah nusantara seiring perjalanan waktunya. Masa lalu memang adalah sebuah kenangan yang tak akan terulang, tapi ia juga sebuah media pembelajaran untuk menyongsong masa depan.

Sumber Acuan dari Babad Tanah Jawi, Brosur Wisata Candi Prambanan & Ratu Boko, Sejarah Kerajaan Nusantara, dan Wikipedia
Temukan Gambar-gambar dalam Tulisan Ini di Gallery Saya

Jakarta, Juni 2011
Read More - Catatan Kecil dari Jawa Tengah