Skip to main content

Posts

Ke Ende

Ende adalah kampung nelayan yang dipilih sebagai penjara terbuka untukku. Jika naik jip dari kota terdekat, dibutuhkan waktu delapan jam. Jalan utamanya adalah jalanan tanah bekas tebasan hutan. Di musim hujan, terjadi kubangan lumpur yang becek.

Itulah kalimat pembuka Sukarno, presiden pertama Indonesia. Tentang pandangannya akan kampung nelayan terpencil di Flores. Yang dituturkan pada Cindy Adams. Wartawan Amerika yang menuliskan biografi sang proklamator : Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Tiba di Ende

Hari telah malam. Perjalanan saya hari ini sudah memasuki Kota Ende. Sedari tadi saya memperhatikan laju minibus yang saya tumpangi di Google Maps. Melihat posisinya. Dan mencari-cari tempat yang cocok untuk turun.



Ende tak lagi seperti cerita Bung Karno di atas. Bukan lagi sebuah kampung nelayan terpencil. Jalannya sudah beraspal, bukan tanah. Dari balik kaca minibus, lampu-lampu berpendaran dari kendaraan bermotor yang lalu lalang.

Seorang perempuan muda yang duduk di…
Recent posts

Kampung Bena dan Kopi Bajawa

Watujaji... Watujaji... Begitu teriak sopir membuyarkan kantuk.

Minibus berhenti di tepi pertigaan jalan. Saya pun turun. Beberapa tukang ojek sudah menawarkan jasanya, saat saya masih menunggu sopir menurunkan ransel dari bagasi.

Saya telah tiba di Pertigaan Watujaji. Pertigaan yang memecah jalan dari Ruteng menjadi dua. Yang ke kiri, ke Bajawa. Yang ke kanan, ke Ende. Tak jauh dari pertigaan jalan ini, ada terminal yang sepi. Mungkin karena sudah malam.

Kota Bajawa hanya berjarak sekitar dua kilometer lagi. Seorang tukang ojek mengantarkan saya. Mencari sebuah penginapan. Jaket saya di dalam ransel. Saya yang tak memakainya menggigil kedinginan. Udara di Bajawa ternyata jauh lebih dingin daripada di Ruteng.

Bajawa, Kota yang Dingin

Bajawa adalah ibukota Kabupaten Ngada di Flores. Berlokasi di ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut. Bentang alamnya berbukit dan dikelilingi pegunungan. Mirip Bandung.



Lokasinya yang di pegunungan ini membuat Bajawa menjadi tempat yang dingin. Walau…

Kilas Balik Manggarai

Ada sesuatu yang magis dari sebuah perjalanan. Yang kadang sulit dimengerti. Perjalanan memberikan sentuhan pengetahuan baru bagi mereka yang melakukannya. Ia mengajarkan pelakunya untuk tahu dan mencari tahu. Tanpa bicara. Tanpa menggurui.

Begitu pula ketika saya menginjakkan kaki di tanah Flores selama beberapa hari terakhir. Secara kasat mata, saya merasakan aura perbedaan suasana. Terutama ketika bergerak makin ke timur meninggalkan Kota Ruteng.

Inilah yang menyebabkan rasa keingintahuan. Akan kehidupan masyarakat beserta cerita di baliknya. Terutama tentang Flores bagian barat. Tentang Manggarai, yang akan saya tinggalkan.





Manggarai di Flores Barat

Manggarai adalah kawasan di bagian barat Pulau Flores. Orang menyebutnya sebagai Manggarai Raya. Yang kini sudah terpecah menjadi tiga kabupaten. Manggarai Barat dengan ibu kotanya di Labuan Bajo. Manggarai, ibu kotanya di Ruteng. Dan Manggarai Timur, ibu kotanya di Borong.

Secara umum, Suku Manggarai menjadi penghuni utama di Manggarai…

Menghayati Kesendirian di Ruteng

Akhirnya saya tiba di Ruteng. Kota kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten Manggarai di Flores.

Udara cukup dingin. Ruteng bisa dibilang adalah kota di pegunungan. Berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Menyebabkan suhunya rendah.

Jika tak tertutup awan, Pegunungan Mandasawu seharusnya terlihat jelas di selatan.



Menghayati Kesendirian

Hari telah beranjak sore. Leonardus Jalo, yang menemani saya ke Wae Rebo telah kembali ke Labuan Bajo.

Saya sendiri kali ini. Tak ada teman. Di kamar sebuah penginapan yang sepi. Yang saya pilih secara acak dari Google Maps. Yang tak ada review atau reputasi di aplikasi perjalanan. Yang harganya cocok dengan isi kantong.

Penginapan ini berdinding kayu. Tampak tua. Sementara kamar mandinya ada di bawah lantai. Rasanya seperti di bawah tanah. Gelap. Tapi cukup bersih. Suasananya agak horor. Dan saya masa bodoh.

Hal yang kadang kurang saya sukai ketika melakukan perjalanan sendiri adalah rasa kesepian. Terutama ketika tak melakukan kegiat…

Menembus Pegunungan Mandasawu

Saya telah menghabiskan waktu semalam di Wae Rebo, kampung tradisional di pedalaman Manggarai. Bersama Leonardus Jalo, seorang teman yang telah menemani saya dari Labuan Bajo. Kini, saatnya saya melanjutkan perjalanan.



Kembali ke Denge

Hari telah beranjak siang. Saya dan Leon telah tiba lagi di ujung aspal Kampung Denge. Kondisi kami kucel. Pakaian kotor. Sepatu dan ujung celana juga belepotan lumpur.

Saya beristirahat di tepi sungai. Sambil menunggu Leon menyiapkan motornya. Beberapa orang Wae Rebo baru saja datang dari bawah. Membawa serta berbagai barang keperluan : beras, telur, dan ayam. Semuanya terikat dalam pikulan kayu.

Saya dan Leon berpisah dengan Rhapael, pemandu kami ke Wae Rebo. Motor harus dipacu lagi. Menuju Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai di Flores.

Ruteng masih jauh dari Denge. Perjalanan masih lama. Mungkin sekitar lima jam lagi sampainya.

Ayo, semangat! Kata saya pada Leon. Kami meluncur. Menyusuri jalan yang menurun terus. Menuju Dintor, kampung yang ada di baw…

Singgah ke Wae Rebo

Dalam lawatan ke Flores, saya memang berencana akan mengunjungi Wae Rebo. Sebuah kampung tradisional di Desa Satar Senda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai.



Mulai dari Denge

Siang itu, saya bertemu dengan Rhapael Safiro. Lelaki 25 tahun ini berasal dari Denge. Kampung terakhir yang bisa diakses kendaraan bermotor sebelum mendaki ke Wae Rebo.

Ia berprofesi sebagai tukang ojek. Yang naik turun dari Denge ke ujung aspal terakhir, sebelum setapak ke Wae Rebo. Kadang ia menjadi pemandu juga.

Jika kita berkunjung ke kampung tradisional ini, kita diwajibkan mengajak pemandu. Atau orang setempat yang bisa bahasa Manggarai. Selain menjadi penunjuk jalan, juga untuk menjadi penerjemah saat melakukan upacara nantinya.





Leon yang saya ajak akhirnya memastikan diri untuk ikut serta. Mendaki ke Wae Rebo, menyusuri setapak di tengah hutan. Awalnya ia ragu. Karena melihat cuaca yang tak begitu baik. Mendung, gerimis, sepi, dan di dalam hutan.

Bersiap

Tengah hari. Waktu menunjukkan pukul dua…