Skip to main content

Posts

Gowes Blusukan, Kintamani - Klungkung (Bagian 2)

Saya bersama Bolenk bersepeda dari Kintamani ke Klungkung. Sebelumnya, kami telah melalui etape pertama dari lima etape yang kami susun. Menyusuri punggungan Gunung Abang dan Sungai Tukad Anyar. Hingga akhirnya kami tiba di pasar hewan Desa Pempatan sebagai titik akhir etape pertama.

Tepat jam dua belas siang. Kami yang belum lapar memutuskan untuk menunda makan. Melanjutkan perjalanan menyusuri jalur etape berikutnya. Jika lapar, cari warung saja di pinggir jalan. Toh perjalanan akan melewati banyak desa.


Etape Kedua : Pempatan - Muncan

Jalur etape kedua ini bervariasi. Elevasinya masih dominan menurun. Jalur perjalanan akan banyak memotong sungai dan lembahan. Ini menyebabkan akan ada banyak tanjakan sekaligus turunan.

Dari pasar hewan, kami menyusuri jalan beraspal. Ini adalah Jalan Raya Besakih - Pempatan. Juga sering disebut sebagai Jalan Pasar Hewan Besakih. Di sepanjang jalan, ada banyak sapi. Di Bali bagian timur, Desa Pempatan dan Desa Besakih dikenal sebagai penghasil sapi t…
Recent posts

Gowes Blusukan, Kintamani ke Klungkung (Bagian 1)

Udara sejuk. Pepohonan dan semak di kanan kiri jalan setapak. Di beberapa titik berpasir. Kondisi ini menyebabkan cengkeraman ban tak stabil. Sepeda yang saya gunakan bekerja keras. Terpeleset beberapa kali. Gila! Jalur bersepeda di punggungan Gunung Abang ini sungguh mantap. Memiliki tingkat kesulitan yang sungguh menantang.

* * *
Sabtu pagi, saya bersama Anatoli Marbun "Bolenk" bersiap untuk berangkat bersepeda. Segala perlengkapan sudah masuk ke dalam tas. Sepeda juga sudah terpasang di mobil bagian belakang. Nasi campur bali yang menjadi menu sarapan kami sungguh nikmat. Ditambah teh manis dan beberapa kue basah. Itu semua sudah sangat cukup mengganjal perut. Menjadi amunisi untuk menjajal jalur bersepeda yang tak biasa.

Saya merencanakan untuk bersepeda dari Kintamani ke Klungkung sudah sejak lama. Jalurnya sudah saya susun dengan detail. Titik awalnya berada di gigiran Gunung Abang, Kintamani, Bangli. Dengan tujuan akhir di titik nol Kota Semarapura, Klungkung. Jarak t…

Ke Singaraja

Saya jarang ke Singaraja, ibukota Kabupaten Buleleng di Bali. Kalau dihitung-hitung, saya baru tiga kali ke kota ini. Yang pertama sekitar tahun 1997, ketika saya SMP. Ikut lomba mengarang. Yang kedua sekitar tahun 2016. Mengantar Bapak bertemu rekannya. Dan yang ketiga pada akhir pekan ini. Mengantar adik ipar yang baru menjadi PNS.

Suasana Kota Singaraja menyenangkan. Bisa dibilang sebagai kota terbesar kedua di Bali, setelah Denpasar. Cukup ramai. Tapi tidak padat. Jalanan lancar. Tak ada macet. Kondisi yang ideal untuk sebuah kota. Juga asri. Banyak pepohonan rindang di pinggir jalan. Ini saya lihat ketika baru memasuki Singaraja dari arah Bedugul. Ada patung Singa Ambara Raja yang menjadi landmark kota ini. Tampak gagah terpasang di persimpangan jalan utama.

Ketika adik ipar saya ditempatkan di Singaraja, ia mengeluh. Katanya terpencil. Juga jauh. Jauh dari Denpasar. Padahal Denpasar ke Singaraja bisa ditempuh selama tiga jam perjalanan. Tapi jauh yang dimaksud adalah jauh dari …

Bersepeda, Denpasar - Ubud

Hari sudah sore. Jam tiga lewat. Matahari masih bersinar terik. Udara di Kota Denpasar terasa begitu panas. Saya akan bersepeda sore ini. Menyusuri jalur pendek dari Denpasar ke Ubud, kemudian balik lagi ke Denpasar. Jalur ini sebagian sudah pernah saya lalui. Juga sudah saya rangkai di Google My Maps.

Ban sepeda saya pompa. Tetapi bannya tak bisa sampai benar-benar memiliki tekanan yang pas. Masih lembek saja. Pompa yang saya gunakan rusak. Katupnya lepas. Ini membuat udara tak biaa masuk sempurna. Jika ban sudah terisi udara yang cukup, mengisinya lagi menjadi susah. Akhirnya saya cukupkan saja. Nanti diisi udara saja di bengkel pinggir jalan. Tak jauh dari rumah, ada bengkel sepeda.

Perlengkapan bersepeda sudah siap. Yang spesial, saya membawa action cam GoPro Hero 5. Saya membeli kamera ini beberapa hari yang lalu. Jadi ini percobaan pertama saya bersepeda membawanya. Sebelumnya sudah. Tapi waktu naik motor dari kantor ke rumah, bukan saat bersepeda. Semoga hasilnya bagus. Karena…

Old Ghost Road dan Heaphy Track

Pasca operasi usus buntu, saya diharuskan istirahat kurang lebih selama sebulan. Saya otomatis tak pernah beraktivitas berat. Termasuk belum pernah bersepeda sampai sekarang. Sebenarnya ingin memulai. Keliling dengan jarak yang pendek-pendek dulu.

Di masa istirahat, saya malah makin semangat untuk bersepeda. Apalagi saya baru menyukai Google My Maps. Aplikasi dari Google dimana kita bisa menyusun jalur perjalanan sendiri. Saya sudah menggambar jalur-jalur di Bali yang kiranya bisa digunakan untuk bersepeda. Ada jalur di Denpasar dan Ubud yang sudah pernah saya lalui. Ada jalur-jalur lain yang menantang seperti Abang ke Klungkung maupun secret trek Penulisan ke Tianyar. Bahkan ada jalur seperti Bromo dan Batu di Jawa Timur.

Di lain kesempatan, saya sering menonton video bersepeda MTB di Youtube. Sistemnya bikepacking. Yaitu bersepeda selama beberapa hari dengan bermalam di di beberapa titik sepanjang jalur. Lokasi bikepacking yang saya tonton beragam. Kebanyakan di Benua Amerika, USA …

Suatu Hari di Tulamben

Daerah ini kering. Pepohonan, semak-semak, dan rerumputan di tepi jalan seperti tak sanggup mengurangi panasnya pagi menjelang siang itu. Di kelokan jalan yang tempatnya agak tinggi, laut biru terlihat menghampar luas di utara. Sementara di selatan, Gunung Agung berdiri gagah dengan asap tipis di puncaknya. Jalan yang merupakan jalur utama di pesisir Bali bagian utara ini tak begitu ramai. Sesekali kendaraan besar seperti bus dan truk melaju, dari Jawa menuju Lombok, atau sebaliknya.

Hari itu, 2 September 2018, saya bersama Anatoli Marbun "Bolenk", berencana untuk mengunjungi dua spot penyelaman di pesisir Laut Bali bagian timur ini, tepatnya di perairan Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Karangasem, Bali. Di sepanjang perairan desa ini, termasuk desa-desa di sekitarnya, terdapat terumbu karang yang sambung-menyambung. Kami tiba di Seraya Resort jam sembilan pagi, sesuai janji kami dengan Wayan Semut, seorang dive guide yang menjadi kenalan Bolenk beberapa minggu belakangan ini…

Arung Jeram Telaga Waja

Hari masih pagi. Saya menunggu Vonny Fransisca "Onie", Safri Mursalin "Sapi", dan Anatoli Marbun "Bolenk" di depan sebuah warung di dekat Perempatan Tohpati, Denpasar.  Kami semua adalah anggota Astacala. Yang kebetulan dengan berbagai keperluan ada di Bali. Beberapa hari sebelumnya, kami membentuk grup Whats App yang isinya kami berempat. Namanya ARB, Astacala Regional Bali. Untuk memudahkan komunikasi sementara waktu. Karena kami semua sepakat mau jalan ke alam di akhir pekan.

Yang ditunggu pun tiba. Lengkap berempat. Ditambah seorang sopir sewaan Onie yang mengantar. Kami mau arung jeram ke Sungai Telaga Waja, di Karangasem. Sebelumnya, kami sempat mau camping di Pinggan, Kintamani. Mau hunting foto matahari terbit. Tapi niat itu kami urungkan dan diganti dengan arung jeram saja.

Singkat cerita, kami tiba di Desa Muncan. Ini adalah tempat start pengarungan. Onie yang membawa GoPro mulai mendokumentasikan kegiatan ini. Kami melakukan sedikit pemanasan.…