Thursday, January 28, 2010

Hujan dan Kabut di Gunung Sumbing

Pagi yang masih dingin, saya berangkat dari Bandung menuju Wonosobo. Hanya berdua, dari rencana semula yang seharusnya berlima. Bus berAC ini membawa saya terlelap di sepanjang perjalanan di mana sesekali terbangun di beberapa titik peristirahatan.

Kabut di Gunung Sumbing

Sungai dengan riam-riam jeram yang menawan mengalir di samping kiri jalan di sepanjang Banjarnegara menuju Wonosobo. Kala itu telah senja dan saya sudah tidak terlelap lagi. Google map menunjukkan bahwa sungai tersebut adalah Sungai Serayu. Pantas saja. Sungai ini adalah sungai dengan grade baik tempat diadakannya kejurnas arung jeram yang pertama dulu.

Malam mulai larut ketika kaki saya mulai melangkah menuju base camp pendakian Gunung Sumbing di Dusun Garung. Adzan isya telah berkumandang, sementara gerimis turun semenjak turun dari kendaraan umum. Base camp pendakian terlihat sepi. Hanya kami berdua, walaupun beberapa jam berikutnya terlihat sebelas orang pendaki yang datang dari Jogja. Makan malam yang ingin kami cari di bawah harus diurungkan karena hujan di luar makin deras. Tapi nasi goreng buatan ibu istri penjaga basecamp cukup lumayan menganjal perut untuk terlelap berisitirahat malam.

Gunung Sumbing

Pagi, matahari mulai merekah. Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing tampak berhadap-hadapan di bawah awan yang bergumpal-gumpal kelabu. Saya melengkapi perlengkapan yang kurang di Pasar Reco, pasar kecil di desa itu.

Setelah selesai sarapan, perjalanan untuk mendaki Gunung Sumbing pun saya mulai. Carrier cukup berat karena membawa peralatan lengkap untuk kami yang hanya berdua. Perjalanan sepanjang kilometer pertama ini melewati perkampungan Dusun Garung. Dengan penduduk yang ramah dan sapaan logat khas Jawa Tengah.

Di ujung desa, jalur pendakian yang biasa dan bisa digunakan ada dua. Yaitu jalur lama dan jalur baru. Dua jalur di punggungan berbeda yang hanya dipisahkan oleh satu lembahan. Kami memilih untuk menggunakan jalur baru karena di jalur baru terdapat persediaan air dan juga terdapat shelter di beberapa posnya.

Awal perjalanan dari ujung desa adalah dari pertemuan dua sungai kemuadian menyusuri punggungan yang dibentuk oleh kedua sungai tersebut. Hutan bambu dan ladang-ladang penduduk adalah pemandangan awal yang kami lalui. Perjalanan kami cukup santai dan sering istirahat mengingat lebih dari dua tahun saya tidak pernah mendaki gunung di atas ketinggian 3000 mdpl. Sehingga tubuh memerlukan penyesuaian terhadap kondisi ini. Latihan fisik dua kali seminggu di Taman Tebet Jakarta serta selalu menggunakan tangga tiap kali menuju meja kerja di lantai empat kantor sepertinya cukup berpengaruh. Walaupun lelah, tapi nafas terasa tetap stabil.

Di tengah perjalanan, sebelas pendaki dari Jogja mulai menyusul kami. Saling menyapa. Wah, mereka ngebut juga, batinku dalam hati.

Menuju Pestan

Selepas ladang, hutan Gunung Sumbing mulai dijajaki. Hutannya tidak terlalu lebat. Bisa dibilang gersang. Pepohonan hampir banyak perdu dan beberapa pinus yang jarang. Kalau saja hari ini bukan musim penghujan, tentu cuaca sangat panas sekali.

Tiba di sebuah shelter yang disebut Pos 1, hujan dan kabut mulai turun. Satu tim pendaki kami temui lagi. Senda gurau pun tercipta. Ternyata saya dan Astaka adalah pendaki tertua di gunung ini. Sebagian besar merupakan mahasiswa dan anak-anak sekolahan. Berisitirahat sambil menentukan posisi dan menyocokkan dengan kordinat yang didapatkan dari GPS bawaan HP Ericsson Astaka.

Cukup lama juga saya berisitirahat di shelter Pos 1 itu untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Hujan yang turun kadang bergerimis dan kadang deras. Tengah hari, di bawah flysheet yang kami bentangkan di bawah hujan yang turun, makan siang kami siapkan. Seorang pendaki solo dari Lampung melewati kami. Katanya setelah dari gunung ini akan melanjutkan ke Gunung Slamet dan gunung-gunung lain di Jawa. Mantap!

Menunggu Hujan Reda

Menjelang senja, hujan bertambah deras. Kami telah tiba di titik pertemuan jalur lama dan jalur baru. Nama tempatnya disebut Pestan. Sebuah punggungan terbuka dengan padang rumput. Satu dua pohon tampak tersebar. Untuk daerah ketinggian, tempat ini sebenarnya cukup berbahaya untuk mendirikan camp karena sangat terbuka. Tapi, berhubung telah senja serta hujan makin deras dan kabut yang makin tebal, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di tempat ini. Selain telah lelah, tempat datar sepertinya akan sulit ditemui jika perjalanan kami lanjutkan lagi.

Tenda kami berdiri di bawah dua pohon pegunungan yang tidak saya ketahui namanya. Hujan mulai reda, walaupun sedikit gerimis dan kadang-kadang berubah menjadi deras. Api unggun menyala dengan gagahnya menghangatkan badan. Di malam yang sudah mulai larut, mendung, hujan gerimis, dan berkabut, ternyata ada banyak pendaki yang masih melakukan perjalanan. Beberapa menumpang istirahat di depan tenda. Suguhan susu coklat dan beberapa potong biskuit di depan api unggun sepertinya cukup untuk membangkitkan semangat. Pesan "hati-hati di jalan" pun saya sampaikan ketika mereka akan melanjutkan perjalanannya lagi.

Hari berikutnya, seusai sarapan, kami putuskan bahwa kami akan ke puncak dengan membawa perlengkapan seperlunya. Makanan dan air minum, peralatan masak, dan benda-benda penting lainnya. Awan mendung tetap bergelayut di langit. Perjalan ke puncak melewati setapak yang cukup jelas di atas tanah merah yang licin sehabis hujan.

Menjelang puncak, jalur mulai berbatu. Licin. Pohon-pohon khas vegetasi di ketinggian 3000 mdpl tampak di beberapa titik walaupun junmlahnya tidak banyak. Kalau musim kemarau, bisa dibayangkan tempat ini begitu panas dan gersang. Sampah-sampah plastik terlihat berceceran di beberapa tempat datar yang sepertinya adalah bekas camp. Coretan-coretan tak bertanggung jawab terdapat di hampir setiap dinding batu. Pemandangan indah di ketinggian pegunungan yang ternoda. Dan hampir setiap kali saya temui di setiap pendakian gunung dengan menggunakan jalur normal.

Puncak Gunung Sumbing

Pukul sepuluh pagi kami tiba di puncak. Berbarengan dengan sebelas pendaki dari Mahameru Jogja. Angin berhembus tidak terlalu kencang. Air hangat yang dimasak di kompor trangia mengisi gelas dengan sebungkus kopi instan. Beberapa biskuit dan buah jeruk mengisi perut kami selama menikmati suasana puncak. Kawah di bawah sana terlihat putih. Penuh dengan susunan batu-batu yang kemungkinan besar adalah nama-nama para penyusunnya atau organisasi asal mereka. Menurut saya, pemandangan kawah menjadi jelek karena susunan huruf batu-batu tersebut.

Puncak sejati atau puncak tertinggi Gunung Sumbing ini ada beberapa meter lagi di barat. Berupa tebing-tebing terjal. Kalau saya lihat tinggal beberapa meter saja dari tempat saya ini. Dan terlihat memerlukan perlengkapan memanjat untuk bisa dengan aman bisa menjejakkan kaki di puncak tertingginya.

Tidak lebih dari satu jam saya habiskan waktu di puncak. Mendung sedikit tersapu angin dan sinar matahari menjatuhkan panas di bebatuan. Saya sempatkan sedikit waktu itu untuk sedikit berjemur dari lembabnya daypack dan pakaian. Dusun Kledung tidak begitu jelas terlihat di bawah karena mendung dan awan yang bergumpal-gumpal.

Selepas itu, saya mulai turun. Kembali ke camp. Kabut mulai turun lagi. Gerimis. Dari arah lembahan di kanan dan kiri jalur yang saya lalui, terdengar cicit-cicit burung. Burung-burung di ketinggian.

Perjalanan turun inilah yang rupanya menguji kemampuan fisik saya. Kaki yang sudah pegal dan lelah, disertai kondisi cuaca yang hujan deras berkabut. Jalanan yang licin membuat saya berkali-kali jatuh terpeleset. Perjalanan menjadi melambat. Dan alhasil, saya kembali ke Dusun Kledung ketika hari telah gelap.

Berbagi Cerita

Mengutip kalimat bahasa jawa yang ditulis Astaka di Buletin Bivak "jare sopo munggah gunung ra pegel" menjadi hal yang menggelikan ketika saya menuliskan kembali catatan perjalanan saya ini. Seminggu berlalu, tapi rasa pegal masih samar-samar terasa. Kata siapa naik gunung tidak capek?

Find Sumbing Picture in My Picasa
Find Sumbing Data in Astacala

Wonosobo, Desember 2009

Share/Save/Bookmark

Tuesday, December 15, 2009

Hidup Sepatutnya

Seminggu yang lalu dua peleton Kompeni Semarang diberangkatkan ke Bali. Entah berapa lagi dari tempat-tempat lain. Nampaknya Kompeni kewalahan dalam perangnya di Bali. Padahal jarak Sanur ke Denpasar hanya enam kilometer, sedang jarak Kuta ke Denpasar hanya sebelas kilometer. Mereka telah bertempur selama dua puluh hari dan Denpasar belum juga jatuh. Tahu Tuan artinya ini? Senjata tajam yang dapat bertahan selama dua puluh hari terhadap senjata api? Patut rasanya Tuan bangga pada kenyataan ini. Dua puluh hari, Tuan!

Seminggu setelah datangnya surat itu koran memberitakan : Denpasar jatuh! Setelah aku hitung sejak tanggal mulainya penyerangan Kompeni, ternyata tempat itu jatuh setelah tiga puluh hari bertempur.

Berita di balik berita yang ditulis Ter Haar mengatakan :
Itulah peperangan gagah, jarang tandingannya dalam sejarah umat manusia, mungkin juga satu-satunya. Raja Klungkung, I Dewa Agoeng Djambe, telah memerintahkan semua keluarga raja di Denpasar dan semua punggawa, laki maupun perempuan, untuk melakukan Perang Puputan, perang sampai orang terakhir.

Laki-perempuan sebangsa Tuan, orang-orang Bali yang gagah itu, maju ke medan perang, Tuan. Perempuan-perempuan dengan bayi dalam gendongan belakang membawa tombak atau keris menyerbu seperti laron menerjang api, takkan kembali ke rumah masing-masing, tinggal di tempat, bermandikan darah sendiri, dan darah bayinya.

* * *

Awal abad dua puluh, 1908 silam. Goresan Pramoedya itu menyiratkan sebuah kisah heroik orang-orang kampung halaman. Masa lalu. Kisah heroik di masanya. Mati terhormat. Berlaku sepatutnya. Hidup sepatutnya.

Masa berganti, moderenitas mengisi kehidupan. Hidup terus berjalan, di sebuah pulau yang konon katanya adalah pulau para dewa.

Seiring perjalanan, punggawa-punggawa baru diseleksi untuk mengisi jabatan di negeri yang sudah berbentuk republik ini.

Sebuah kepatutankah, jika hidup hanya diabdikan untuk menunggu gaji dan kenaikan jabatan? Sebuah kepatutankah, jika mencapainya penuh dengan ketidakterbukaan dan kabar burung tentang ketidakadilan? Sebuah kepatutankah, jika pundi-pundi yang berasal dari sebagian panen di sawah dan padi di lumbung digunakan sebagai upeti oknum-oknum punggawa pemegang kekuasaan? Hanya untuk nanti mengisi kembali lumbung dengan padi-padi yang hanya sejari? Atau mungkin sawah penghasil padi telah terjual dan lari ke pembeli upeti?

Tuan beragama. Tuan berpendidikan. Dewa-dewa dan pahlawan-pahlawan cerita nenek moyang mungkin sedikit tidak pernah masuk ke kepala Tuan. Mungkin juga Tuan paham akan arti kepatutan. Pejuang awal abad dua puluh itu hidup dan membela tanah airnya. Mereka berjuang sepatutnya, mati sepatutnya. Tuan dan saya juga seharusnya berjuang, demi tanah air, tanah air Tuan yang juga tanah air saya.

Tentu sekarang tak perlu mengangkat tombak atau keris. Satu abad peristiwa puputan itu telah lewat. Perbuatan, Tuan, yang bisa Tuan gunakan di zaman ini. Setidaknya perbuatan yang sepatutnya. Perbuatan mengisi hidup mencari rejeki. Mungkin menjadi punggawa adalah salah satunya. Prestise baru di kalangan kebanyakan para kawula, para rakyat tanah air kita. Ternyata ribuan kawula berbondong-bondong, walaupun sang burung berkabar tentang ketidakadilan dan ketidakterbukaan.

Kabar burung. Burung manakah yang bisa dipertanggungjawabkan kabarnya? Semoga tak ada pundi-pundi Tuan menjadi upeti untuk bisa menjadi punggawa negeri. Tuan memberi upeti atau menerima upeti, mungkin hanya siulan si burung. Mereka semua kecewa, mungkin hanya celoteh si burung. Semoga Tuan menjadi punggawa yang terhormat, mencari rejeki dengan terhormat. Berbuat sepatutnya, menjalani hidup sepatutnya.

Quote taken from Pramoedya Ananta Toer - Jejak Langkah
Jakarta, Desember 2009

Share/Save/Bookmark

Wednesday, December 9, 2009

Korupsi

Korupsi bukan saja berbentuk korupsi uang. Korupsi juga meliputi korupsi waktu dan hal-hal lain yang bukan menjadi hak kita.


Katanya di berita televisi tadi pagi, korupsi juga termasuk pada tindakan pungutan tidak jelas atau pungutan liar, baik yang memungut dan yang dipungut.

Kalau kita terlambat masuk kantor, terlambat masuk kuliah atau sekolah, kita sudah korupsi waktu. Melebihi semenit jam istirahat dan pulang kantor atau bolos kuliah juga termasuk di dalamnya.

Internetan, facebookan, chating, browsing, membaca koran, novel, atau komik selama jam kerja atau selama jam kuliah / sekolah juga masuk dalam ranah korupsi.

Begitu juga menggunakan fasilitas lain yang tidak seharusnya kita gunakan untuk kepentingan pribadi. Seperti penggunaan telepon, printer, kertas, dan lain-lain.

Memanipulasi uang saku orang tua oleh anak, atau uang dapur oleh istri dari suaminya, juga merupakan korupsi. Mungkin banyak lagi.

Jadi, ternyata memang ternyata. Banyak tindakan yang merupakan atau mendekati korupsi. Dari tingkat paling rendah atau paling tinggi sekali pun. Pemandangan sehari-hari di negeri ini. Bahkan hampir di seluruh dunia.

Dan kita, dalam bertindak sehari-hari, apakah termasuk salah satu atau beberapa di dalamnya?

Picture Taken from Anak Muda Indonesia
Jakarta, Desember 2009

Share/Save/Bookmark

Friday, October 23, 2009

Tentang Kerendahan Hati

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten,
tentu harus ada awak kapalnya
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Taken from Taufik Ismail - Kerendahan Hati

Share/Save/Bookmark

Saturday, September 26, 2009

Ada yang Hilang

Sesuatu berharga yang kita miliki biasanya tidak berbentuk secara materi atau fisik. Seorang kawan yang baru pulang dari Vietnam dan beberapa negeri kawasan Indocina bercerita tentang sesuatu berharga yang hilang, yang ia dan beberapa rekannya alami sehingga mengubah akhir perjalanan mereka.

Menjelang Senja di Cafe Batavia

Menjelang senja di Cafe Batavia kawasan Kota Tua Jakarta, saya habiskan waktu bersama kawan saya tersebut sembari menunggu waktu untuk bertemu dengan kawan yang lain. Sambil saya timang sebuah kompas bidik jerman yang ia berikan sebagai oleh-oleh, saya dengarkan ceritanya. Cerita tentang opini negatifnya pada sekelompok backpacker negeri tetangga yang melakukan perjalanan bersamanya. Selepas Vietnam melintas Laos, Kamboja, Thailand, Malaysia, dan Singapura.

...

Alkisah di suatu tempat di negeri Kamboja, karena sesuatu dan lain hal, terutama masih bermasalah dengan paspor, kawan saya tersebut tertinggal beberapa jam oleh bus dan rekan-rekannya. Dan juga semua barang bawaannya juga turut serta terbawa.

Akhirnya, dengan menaiki kendaraan yang kebetulan lewat yang searah dengan bus yang mebawa barang-barangnya, ia pun mengejar. Katanya lagi, jaraknya tertinggal lebih dari 200 kilometer. Mungkin setara dengan jarak antara Jakarta - Cirebon.

Setelah bertemu kembali, rasa saling tidak menerima atas kesalahan masing-masing pun terjadi. Mereka ribut. Hingga akhirnya berujung pada sebuah insiden kecil yang mengharuskan mereka menyelesaikannya di kantor polisi terdekat selama berjam-jam berikutnya.

Sebenarnya, dari pandangan saya sendiri, tidak ada masalah yang begitu riskan sampai harus ke pihak berwajib. Tidak ada barang yang hilang. Semuanya utuh. Hanya saja beberapa rekan dari kawan saya tersebut tidak terima atas keterlambatan, mereka mengaku kehilangan waktu yang begitu berharga. Kawan saya yang marah dan kecewa juga tak mau kalah, ia juga menyatakan bahwa ia kehilangan rasa persaudaraan, yang beberapa hari sebelumnya senasib sepenanggungan melakukan perjalanan bersama.

...

Saya tidak banyak berkomentar mengenai ceritanya, walaupun sedikit tidak setuju atas opininya yang melebihkan di atas rata-rata bahwa backpacker memiliki banyak sikap negatif terhadap rekan-rekannya. Mungkin hanya beberapa oknum.

Saya jadi memikirkan hal tersebut. Tentang gambaran sikap yang ia ceritakan. Kadang-kadang, mungkin kita sering menghilangkan sesuatu yang berharga demi tidak kehilangan sesuatu berharga yang lain. Tidak hanya pada suatu perjalanan yang bersifat fisik saja, tapi juga pada perjalanan besar kehidupan kita di dunia. Akan berbagai hal berharga yang kita miliki, yang tidak bisa kita ukur dengan nilai nominal. Seperti persaudaraan, kesetiakawanan, kemanusiaan, pengertian, saling menghargai, dan hal-hal manusiawi lainnya terhadap orang-orang yang kita kenal dan kita miliki. Ketika kita berhadapan dengan berbagai situasi dan kondisi, pernahkah kita menghilangkannya demi tidak kehilangan yang lain?

...

Akhirnya, pihak berwajib di negari Kamboja tersebut mendamaikan mereka. Damai dalam arti hukum. Bukan damai dari hati masing-masing. Dan memang tidak ada hukuman yang dijatuhkan atas insiden yang mereka alami. Mereka pun berpisah setelah kejadian tersebut. Dengan masing-masing membawa rasa kehilangan. Kehilangan waktu, juga kehilangan sebuah rasa persaudaraan.

Jakarta, September 2009

Share/Save/Bookmark